Menunggu Hujan di Ladang Ansok
Foto: Dokumentasi warga setempat
Bagi warga Ansok, ada aturan tentang kapan, di mana, dan bagaimana lahan boleh dibuka jadi ladang.
Akhir Juni lalu, masyarakat adat Dayak Seberuang Ansok berkumpul di rumah Suwandang (51), untuk menyiapkan masakan buat Gawai Adat—ritual syukur seperti pesta panen, sebelum berladang lagi.
Kata Suwandang, pola buka-tutup lahan ini dijalankan tiap 2-3 tahun sekali. Tak boleh sembarang. Pembukaan dilakukan dengan metode tebas-bakar—tradisi yang dipolitisasi Belanda di masa kolonial dan Orde Baru sebagai metode terbelakang dan “merusak hutan.”
“Selama ribuan tahun masyarakat pedalaman Kalimantan berladang, tidak pernah tercatat dalam sejarah terjadinya bencana kabut asap,” ungkap antropolog Bima Satria dalam esainya Peladang Dayak Memang Membakar Lahan, tapi Bencana Kabut Asap di Kalimantan Disebabkan oleh Perkebunan Kelapa Sawit.
Padahal, bencana kabut asap dan kebakaran pertama, yang juga terbesar serta paling parah dalam sejarah tercatat pada tahun 1997-1998. Setelah Soeharto menjalankan Mega Rice Project (MRP) di Kalimantan Tengah, proyek ambisius Orde Baru mengeringkan kawasan gambut untuk dijadikan 1 juta hektare sawah.
Baca juga: Belajar Menjaga Hutan dari Perempuan Ansok
Sekitar 100 ribu transmigran dari Jawa dan Bali dipindahkan Soeharto untuk mengolah lahan itu. Ia pikir, padi yang tumbuh di tanah erosi hasil vulkanik yang kaya dengan unsur hara seperti di Jawa, juga cocok ditanam di Kalimantan.
“Di sini (Kalimantan), abu dan arang sisa membakar lahan itulah yang bermanfaat untuk menyuburkan lahan,” tambah Bima. “Tanah gambut yang miskin unsur hara terbukti terlalu keras dan tidak cocok untuk jenis penanaman padi dari Jawa-Bali.”
Di Ansok, membuka lahan hingga menanam dilakukan secara gotong-royong. Hasil panen digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan jika berlebih, dibagikan kepada tetangga.
Bagi mereka, hutan bukan sekadar lahan yang bisa dimanfaatkan. Ia adalah ruang hidup yang harus dijaga bersama.
Di Ansok, praktik berladang ini juga punya payung hukum. Pada Maret 2021, Pemerintah Kabupaten Sintang mengakui dan melindungi Masyarakat Hukum Adat Dayak Seberuang Kampung Ansok.
SK tersebut menetapkan 1.173 hektare wilayah adat berdasarkan kajian geografis, budaya, dan ekologis. Pengakuan ini menjadi dasar bagi masyarakat untuk mengelola dan mempertahankan wilayah adatnya.
Pemerintah daerah sendiri sudah membedakan peladang tradisional dengan pembukaan lahan untuk industri. Peraturan Bupati Sintang No 18/2020 mengatur hal ini.
Sejak ada aturan ini, Antonius Antong (51), salah satu tetua kampung Ansok bilang, mereka merasa lebih tenang ketika membuka lahan. “Sebelumnya kami harus hati-hati biar tidak ditangkap (dikriminalisasi), jadi bakar cuma dilakukan siang hari,” ceritanya saat kami sambangi Juni lalu.
Setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merebak ganas Agustus ini, warga Ansok terpaksa menunda proses buka lahan baru—yang Juni lalu direncanakan akan dilakukan kisaran Agustus.
Baca juga: Karhutla 2026 Meluas, Walhi: 74 Persen Titik Panas Ada di Konsesi Sawit dan Tambang
“Saat ini warga belum berani bakar karena belum ada hujan sudah tiga bulan, kalau belum ada hujan, nyelapat bahasa lokalnya, warga tidak akan bakar,” kata Antong saat kami hubungi lagi (9/9).
“Kalau untuk beras masih aman sampai akhir tahun ini, tapi kalau tidak tanam tahun depan dipastikan terancam kelaparan. Kalaupun ada beras dari luar dipastikan mahal. Dan kalau gak bakar-bakar, bisa terjadi krisis pangan,” tambahnya.
Sudah jadi rahasia umum kalau jalan ke desa Ansok bukan perkara mudah. Jalanannya terjal, dan penuh lumpur—apalagi jika hujan.
Itu sebabnya berladang jadi tradisi yang telah menghidupi mereka turun-temurun. Semua yang dimakan memang berasal dari kebun sendiri. Pasar terdekat jaraknya sekitar 100-105 kilometer, alias 3-4 jam perjalanan darat dengan motor atau mobil.
Jika bencana kabut ini tak terjadi saban tahun, Antong percaya tradisi berladang mereka harusnya bisa mencukupi kebutuhan warga Ansok. Buat pemerintah sendiri tak banyak yang bisa ia harapkan.
“Rencananya warga mau buat ritual turunkan hujan, tapi belum tahu kapan waktunya. Lagi lihat situasi dua minggu ke depan,” tambahnya.





















