‘Keep the Meter Running’: Masih Ada Kemanusiaan dari Balik Kemudi Taksi
Foto: Youtube
Sore itu, saya tengah terimpit di antara padatnya penumpang KRL rute Solo-Yogyakarta. Terpisah dari dua orang teman dan tidak memiliki ruang gerak untuk sekadar mengobrol, saya memutuskan mencari tontonan pelepas penat. Jari saya tertuju pada YouTube hingga terhenti pada sebuah video garapan Kareem Rahma, komedian sekaligus kreator konten asal New York, yang bertajuk “What Life Is Actually Like in Damascus Today”.
Awalnya, saya tidak menaruh ekspektasi apa-apa pada video tersebut. Jari saya mengklik video itu murni karena durasinya yang hampir satu jam, waktu yang pas untuk membunuh kebosanan selama perjalanan komuter. Namun, tontonan yang saya pilih secara acak itu justru menancap kuat di benak, membuat saya tertawa, tersenyum simpul, hingga tanpa sadar menitikkan air mata sepanjang perjalanan.
Selama 55 menit, saya diajak mengikuti perjalanan Kareem bersama Bashar, sopir taksi lokal di Suriah yang membawanya berkeliling menyusuri Kota Tua Damaskus. Dengan kehangatan yang tulus, Bashar, yang memiliki minat mendalam pada sejarah, mengajak Kareem mengunjungi berbagai tempat makan legendaris. Di sana, warga lokal tanpa henti menyuguhkan makanan lezat ke hadapan Kareem dengan penuh keramahan.
Mereka menyusuri tembok-tembok kuno yang telah berdiri kokoh selama ribuan tahun. Langkah mereka juga singgah di situs-situs bersejarah seperti Masjid Umayyah dan Gereja Hanania, yang menjadi saksi bisu harmoni dua agama Abrahamik. Perjalanan itu kemudian berujung di Jobar, sebuah distrik di wilayah timur yang hancur lebur akibat perang saudara Suriah.
Video tersebut meninggalkan jejak kehangatan sekaligus kepahitan yang terus bertahan bahkan setelah saya turun dari gerbong KRL. Pendekatan serial ini sedikit banyak mengingatkan saya pada serial legendaris Parts Unknown yang dibawakan oleh mendiang Anthony Bourdain. Keduanya memiliki benang merah dalam cara menampilkan kehidupan manusia di luar sorotan media arus utama.
Keduanya memperlihatkan wajah kemanusiaan yang hidup jauh dari kebisingan media arus utama dan budaya pemujaan pemengaruh (influencer) serta selebritas. Fokus semacam ini membawa penonton pada realitas orang-orang biasa yang kehidupan sehari-harinya jarang menjadi pusat perhatian.
Baca Juga: ‘Anne with an E’, Serial Berlatar Abad 19 dengan Isu yang Masih Relevan
Kebijaksanaan Hidup dari Orang-orang Biasa
Apa yang saya tonton di kereta sore itu adalah episode dari serial YouTube terbaru Kareem berjudul Keep the Meter Running, setelah sebelumnya terkenal lewat Subway Takes. Premis Keep the Meter Running sederhana, tetapi kuat dalam mengolah perjalanan menjadi ruang perjumpaan. Kareem menyewa sebuah taksi, membiarkan argonya terus berjalan, lalu meminta sang sopir membawanya ke tempat-tempat yang paling mereka cintai atau memiliki kenangan mendalam.
Tayang perdana pada bulan Juni lalu, sembilan episode awal serial ini mengikuti penjelajahan Kareem bersama para sopir taksi di New York. Kota ini merupakan rumah bagi para imigran dari berbagai latar belakang. Merujuk pada laporan The Center for Migration Studies of New York, pada tahun 2025 terdapat sekitar 3,1 juta penduduk imigran di New York, yang mewakili 38 persen dari total populasi kota tersebut.
Sementara itu, pada episode terbarunya yang rilis tiga minggu lalu, Kareem keluar dari Amerika Serikat dan menjelajah Asia Barat dengan Damaskus sebagai titik awalnya. Perpindahan lokasi ini memperluas ruang cerita serial, dari pengalaman para imigran di New York menuju kisah manusia yang berakar di tempat lain.
Lahirnya serial Keep the Meter Running berkaitan erat dengan pengalaman personal Kareem bersama mendiang ayahnya. Dalam wawancaranya dengan Interview Magazine, Kareem mengungkapkan keputusan membuat serial ini didorong oleh ikatan emosional dengan ayahnya yang berpulang saat Kareem baru berusia 20 tahun. Sang ayah merupakan imigran asal Mesir yang tiba di AS pada tahun 1969 dan bertahan hidup dengan bekerja sebagai sopir taksi selama lima tahun pada awal kedatangannya.
Dalam perbincangan terpisah bersama Trevor Noah dalam acara What Now? with Trevor Noah, Kareem menambahkan pengalaman kehilangan itu membentuknya menjadi sosok yang mencari kebijaksanaan dari orang-orang yang mengemudikan taksi yang ia tumpangi. Ia menyadari para sopir taksi membawa pelajaran hidup yang berharga. Kebijaksanaan itu lahir dari kerasnya perjuangan mereka bertahan hidup sekaligus interaksi tanpa henti dengan ribuan manusia berbeda setiap harinya.
Inilah yang membuat Keep the Meter Running menempatkan orang-orang biasa sebagai pusat cerita. Serial ini menanggalkan kemewahan buatan para pemengaruh (influencer), selebritas, atau miliarder yang selama ini mendominasi algoritma media sosial dan televisi. Sebagai gantinya, serial ini menyoroti orang-orang dari kelas pekerja yang sedang bertahan hidup sekaligus merajut kepingan American Dream.
Dalam episode bertajuk “I Asked My Cab Driver To Take Me Anywhere. He Took Me to His Past”, penonton diajak meresapi makna waktu melalui kacamata Young Han, imigran asal Korea Selatan. Pemaknaan itu mengalir sepanjang perjalanan mereka menuju Bear Mountain, satu-satunya tempat di pesisir timur Amerika yang mengingatkan Young pada topografi pegunungan di kampung halamannya.
Young bercerita ia datang ke AS pada era 1940-an untuk melarikan diri dari kondisi sosial-politik Korea Selatan yang saat itu didera kemiskinan ekstrem. Di negara barunya, ia menikah, membangun keluarga, dan bekerja sebagai pembuat papan reklame aksara Korea, pekerjaan yang ia cintai karena memungkinkannya menggambar dan menggunakan tangannya.
Namun, waktu terus berjalan dan keahliannya perlahan tergerus zaman hingga tidak lagi dibutuhkan. Ia kemudian beralih profesi menjadi sopir taksi, dan tak lama kemudian, istrinya meninggal dunia. Pengalaman tersebut mengubah cara Young memandang waktu dan kehidupan yang masih tersisa.
Kehilangan itu memberinya semacam pencerahan. Ia menyadari waktu 20 tahun ternyata berlalu bagai kedipan mata. Bagaimana kita menghabiskan waktu dan dengan siapa kita menghabiskannya menjadi hal yang paling krusial baginya. Realitas itu membuatnya menghargai setiap perjumpaan, karena baginya “melihat segala sesuatu adalah sebuah proses belajar.” Di usianya yang menginjak 60 tahun, Young masih menyimpan satu mimpi, yakni menerbitkan buku komiknya sendiri.
Pecahan kebijaksanaan lain datang dari Khakendra Pun, imigran Nepal yang telah sepuluh tahun mengaspal sebagai sopir taksi. Ia membawa Kareem ke Himalayan Restaurant & Bar di kawasan Jackson Heights untuk mencicipi rasa “rumah”. Khakendra, yang berasal dari desa kecil di pegunungan Nepal, menghabiskan puluhan tahun mengejar kehidupan yang lebih baik.
Portofolio hidupnya sangat padat dengan berbagai pengalaman. Ia pernah mencoba 77 pekerjaan berbeda, tinggal di 94 alamat yang berpindah-pindah, menulis dan menerbitkan bukunya sendiri, sambil terus mengemudikan taksi. Perjalanan panjang itu membuat pengalaman hidup Khakendra menjadi bagian penting dalam percakapannya bersama Kareem.
Dari hidupnya yang penuh petualangan, Khakendra belajar menemukan kebahagiaan di sela-sela waktu tunggu. Ia kerap meniup serulingnya saat berhenti di lampu merah, mempraktikkan kebaikan di mana pun ia berada, dan masih memelihara mimpi untuk menjadi komedian. Kisah Khakendra memperlihatkan hubungan antara pekerjaan, kebiasaan sehari-hari, dan mimpi yang terus ia rawat.
Pembuktian pelajaran hidup dari kelas pekerja juga terlihat dalam episode bersama Bombay Mark, sopir taksi berusia 72 tahun asal Mumbai. Berbeda dari episode lainnya, Mark mengajak Kareem menghabiskan sepanjang malam duduk di kursi depan taksinya, menyusuri jalan mencari penumpang, obrolan, dan kejutan yang ditawarkan New York setelah matahari terbenam. Perjalanan malam tersebut sekaligus membuka ruang bagi Mark untuk bercerita tentang hidupnya.
Sepanjang rute malam itu, Mark menyingkap pergulatan pribadinya. Ia berjuang lepas dari kecanduan narkoba di usia 30-an, merasakan putus asa sebagai imigran di Amerika, membesarkan dua anak laki-laki, hingga akhirnya mengabdi sebagai konselor pemulihan adiksi. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari percakapan yang berlangsung di antara perjalanan mencari penumpang.
Malam pun bergulir dengan berbagai penumpang yang bergantian mengisi kursi belakang dan berbagi kisah hidupnya. Ada pasangan yang tengah bersukacita karena bertunangan, seorang penyanyi amatir yang melantunkan lagu di perjalanan, sampai guru veteran. Di antara jeda makan malam dan pengakuan personal para penumpang, kehidupan New York muncul melalui cerita orang-orang yang menumpang di taksi tersebut.
Baca juga: Ada Hubungan Percepatan Krisis Iklim dan Rezim Otoriter: Pelajaran dari Karhutla Kalimantan
Budaya sebagai Ruang Berlindung
Keep the Meter Running tidak hanya berbicara soal kebijaksanaan yang hadir dari orang-orang biasa. Serial ini juga memberikan panggung pada nuansa budaya melalui kisah para sopir taksi yang mayoritas merupakan imigran. Sepanjang episodenya, penonton disajikan potongan-potongan budaya yang tetap mereka dekap di tengah kehidupan jauh dari tanah kelahiran.
Mereka membawa budaya itu ke dalam denyut kehidupan sehari-hari. Mereka makan di restoran yang menyajikan hidangan tanah air, memainkan alat musik tradisional dari suku mereka, bahkan melakukan ritual kebersihan di tempat pemandian umum khas tanah kelahiran. Bagi mereka, merawat budaya menjadi bagian dari cara menjalani kehidupan di negara yang jauh dari kampung halaman.
Hal ini terlihat jelas sejak episode pertama ketika Kareem bertemu Eugene, imigran Rusia yang telah menjadi sopir taksi selama 40 tahun. Eugene datang ke New York dengan status suaka politik dan setelah kehilangan istrinya tahun lalu, ia mengaku sering merasa kesepian. Namun, Banya, sauna tradisional Rusia, menjadi tempat pelariannya untuk memulihkan jiwa.
Di Banya, Eugene bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Di tengah kepungan uap panas, ia dikelilingi orang-orang Rusia dan menjalani ritual tradisional seperti memecut veniki, sapu dari ranting pohon birch, ke sekujur tubuh untuk melancarkan peredaran darah. Ruang tersebut menjadi tempat Eugene kembali terhubung dengan budaya tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan.
Rasa rindu dan cinta pada akar budaya ternyata tidak melulu menyoal jarak dan status imigran. Narasi ini terekam dalam episode Damaskus yang mempertemukan Kareem dengan Bashar. Jauh dari kacamata media Barat yang kerap terjebak pada lensa orientalisme dan hanya menyorot wilayah Timur Tengah sebagai zona konflik tak berkesudahan, Kareem berusaha menghadirkan Suriah melalui kehidupan sehari-hari warganya.
Di Damaskus, manusia saling terhubung melalui makanan. Kareem diajak mendatangi restoran-restoran kecil yang menyajikan persilangan budaya kuliner Suriah dan Mesir, banyak di antaranya bahkan tidak memiliki papan nama. Bagi pendatang, keramahan ini bisa terasa penuh sesak karena setiap kali masuk ke kedai, orang-orang akan menyuapkan makanan ke mulut Kareem secara cuma-cuma. Di tempat-tempat inilah warga berkumpul, menertawakan getirnya hidup, dan merencanakan masa depan.
Bashar juga menunjukkan bagaimana bangunan berusia ribuan tahun berdiri berdampingan secara harmonis. Masjid dan gereja yang bersebelahan menjadi bagian dari kehidupan warga Suriah. Gambaran tersebut memperlihatkan sisi kehidupan masyarakat yang jarang mendapat ruang dalam pemberitaan media internasional.
“Bahkan bebatuan di sini berbicara,” ujar Bashar. Bebatuan itu seakan bercerita tentang bagaimana kemanusiaan tetap tegak berdiri meski perang dan bencana berkali-kali mencoba merobohkannya. Kalimat tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Kareem bersama Bashar di Damaskus.
Baca Juga: Review ‘She-Hulk: Attorney at Law’: Narasi Perempuan yang Menemukan Rumahnya
Namun, rentetan sejarah kelam meninggalkan luka yang terlalu dalam. Selama lebih dari satu dekade rezim Bashar al-Assad dan perang saudara, Suriah hancur lebur. Berdasarkan laporan Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR), setidaknya tercatat 306.887 kematian warga sipil antara Maret 2011 hingga Maret 2021.
Angka tersebut mencerminkan dampak perang yang melampaui hilangnya nyawa. Banyak situs budaya dan sejarah luluh lantak, sementara kehancuran ruang hidup turut meninggalkan dampak psikologis bagi warga lokal. Trauma kolektif ini juga terlihat pada diri Bashar.
Saat mereka mengunjungi area yang hancur, penonton bisa melihat bagaimana tragedi demi tragedi perlahan mencabut akar kepercayaannya terhadap dunia sekaligus menghancurkan sebagian peninggalan budaya yang ia banggakan. Namun, Bashar layaknya masyarakat Suriah lain tak mau masa lalu mendefinisikannya. Ia tetap bangun untuk ke kedai kopi kesayangannya lalu mengemudikan taksi kuning yang argonya telah lama rusak untuk terus menghidupkan Suriah dalam nadinya.





















