Perempuan Cina Benteng Bangun Kemandirian dan Ruang Aman lewat Koperasi
Foto: M. Rifaldy Zelan/Magdalene
Jari-jemari Oey Cin Wah dengan lihai merajut benang menjadi topi, tas jinjing, taplak meja, bandana, hingga buket bunga. Sebagian rajutan dibuat dengan benang warna merah putih untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan pada Agustus lalu. Selebihnya hadir dengan warna-warni cerah dengan bentuk yang menarik perhatian.
Perempuan 63 tahun itu menjual produknya mulai dari Rp15 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Hasilnya untuk membiayai kehidupan sehari-hari ibu tunggal sekaligus menanggung hidup ayahnya yang telah berusia 90 tahun. Di usia senja, Cin Wah bertekad hidup mandiri tanpa mengandalkan anak-anaknya yang sudah menikah. Selain merajut, ia juga berjualan kue kering.
“Saya di masa tua punya prinsip enggak nyusahin anak (dan) mantu, mau hidup mandiri,” ungkap Cin Wah kepada Magdalene (19/8).
Sebagian penghasilannya ia tabung tabung di Koperasi Wanita Pengembang Sumberdaya (KWPS) Lampion Merah Abadi, sebuah koperasi pemberdayaan perempuan komunitas Cina Benteng di Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Tangerang. Dari koperasi itu juga lah Cin Wah mendapatkan modal untuk memulai usaha rajut.
Kemandirian ekonomi adalah pengalaman yang relatif baru baginya. Cin Wah tumbuh dalam keluarga miskin.

Semasa kecil, ia hanya dapat menikmati daring dan aneka kue ketika orang tuanya menyiapkan persembahan untuk perayaan besar Konghucu. Pada hari biasa, keluarganya menyantap makanan sederhana seperti terong pedas, kacang panjang, tahu, tempe, dan ikan asin. Konghucu.
“Dulu makan enak nunggu Mama Papa sembahyang. Hari-hari biasa mah makannya cuma terong di-cabein, terong di-kecapin, kacang panjang dibikin sayur asem, tahu, tempe, ikan asin, gitu doang,” tutur Chin Hwa. Meskipun suaminya bekerja sebagai peternak, keluarga mereka tetap jarang menyantap daging karena hewan ternak dipelihara untuk dijual. Cin Wah tidak bekerja di luar rumah dan sepenuhnya bergantung pada penghasilan suami.
Setelah suaminya meninggal pada 2010, ia harus melanjutkan hidup dengan mengandalkan dirinya sendiri. Bergabung dengan koperasi kemudian memberinya akses pada keterampilan, modal, dan jejaring yang sebelumnya tidak ia miliki.
“Dulu apa-apa minta ke suami. Kalau sekarang, contoh nih saya mau beli handbody, saya bisa beli pakai duit sendiri dari hasil ngerajut,” katanya.
Baca juga: Bagaimana Muslim Tionghoa di Kalimantan Barat Berada di Persimpangan Jalan
Tabungan perempuan, kekuatan bersama
Seperti Cin Wah, Chen Fie (51) juga selama hidup menggantungkan kehidupannya kepada suami. Menurutnya, banyak perempuan Cina Benteng dari generasinya tidak didorong melanjutkan sekolah dan kemudian menikah pada usia anak. Pendidikan Chen Fie sendiri berhenti di sekolah dasar karena ia harus menjaga lima adiknya.
Saat itu, ada anggapan bahwa setinggi apa pun perempuan perempuan, pada akhirnya mereka akan kembali ke dapur. Akibatnya, banyak perempuan tidak memiliki penghasilan maupun tabungan sendiri.
“Kalau kita minta beli bedak, suami bilang ‘buat apa sih beli bedak?’,” ujar Chen Fie.
Perubahan mulai terjadi ketika Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta datang ke Desa Belimbing pada 2002. PPSW adalah mitra lokal lembaga KEMITRAAN yang didukung oleh INKLUSI, INKLUSI, Kemitraan Australia-Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif. PPSW menemui Chen Fie dan suaminya, yang merupakan ketua Rukun Warga (RW) setempat, untuk membicarakan pembentukan koperasi perempuan.
Direktur PPSW Jakarta Tiyas Widya Anggraini mengatakan, koperasi simpan pinjam dibentuk karena banyak perempuan Cina Benteng belum memiliki akses yang memadai terhadap layanan keuangan dan literasi finansial. Sebagian warga terjerat bank keliling yang menawarkan pinjaman berbunga tinggi.
“Kita berharap penguatan ekonomi perempuan dapat meningkatkan posisi tawar dan kepemimpinan perempuan, baik di ruang publik maupun di rumah,” ujar Tiyas,
Chen Fie sempat ragu menerima ajakan tersebut. Latar belakang pendidikannya membuat ia merasa tidak mampu mengelola organisasi. Dukungan suaminya meyakinkan Chen Fie untuk mencoba, dan ia kemudian dipercaya menjadi Ketua KWPS Lampion Merah Abadi.

Koperasi yang awalnya dibentuk untuk perempuan Cina Benteng itu kini terbuka bagi seluruh perempuan di Desa Belimbing. Salah satu anggotanya adalah Atika, yang bergabung setelah suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di masa pandemi. Mereka membutuhkan modal untuk membuka usaha dan menyambung kehidupan keluarga.
Setelah mengetahui koperasi dari seorang kenalan, Atika mulai menabung dan mengajukan pinjaman untuk membuka warung. Setiap anggota harus menabung sampai Rp250 ribu sebelum dapat meminjam Rp1 juta, dengan simpanan wajib yang dapat dicicil. Usaha Atika dan suami kemudian berkembang dan kini menjual berbagai kebutuhan serta makanan ringan. Anggota lain juga menggunakan pinjaman sebagai modal berjualan nasi uduk, gado-gado, dan beragam produk rumahan. Atika bahkan kini membuka cabang koperasi bernama Unit Melati di wilayah RT tempat tinggalnya.
Menurut Chen Fie, ada anggota yang mampu mengumpulkan tabungan hingga Rp120 juta per tahun sebagai modal berjualan nasi uduk, gado-gado, dan beragam produk rumahan.
Kini, KWPS Lampion Merah Abadi memiliki 312 anggota dan aset sekitar Rp449 juta. Koperasi tersebut memberi perempuan alternatif dari bank keliling sekaligus tempat belajar mengelola uang, mengembangkan usaha, dan membangun kepercayaan diri.
Baca juga: Susahnya Jadi Tionghoa dan Non-Muslim, tapi Sopir Taksi Meredakan Ketakutan Saya
Ruang Aman untuk Bicara
Pemberdayaan yang dibangun KWPS Lampion Merah Abadi tidak berhenti pada simpan pinjam. Koperasi ini juga mengembangkan Balai Curhat Bunga Rampai (BCBR), ruang bagi perempuan untuk menceritakan kekerasan yang mereka alami, terutama kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Ratna Wulan Devi, atau Dewi, anggota satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan di KWPS Lampion Merah Abadi, mengatakan korban dapat berbicara di ruangan khusus agar privasinya terjaga. Ruang tersebut penting karena kekerasan rumah tangga masih sering dianggap sebagai urusan pribadi yang sebaiknya tidak dibawa keluar rumah.
Anggapan itu membuat banyak korban merasa sendirian dan tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Karena itu, hal pertama yang ditanamkan kepada anggota adalah keberanian untuk berbicara.
“Kita ngajarin, pertama berani untuk ngomong. Jangan dipendam. Kalau dipendam berasanya kita sendiri. Padahal kalau kita ngomong banyak yang mau bantu,” kata Dewi.
Balai Curhat Bunga Rampai bekerja sama dengan kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), pemerintah desa, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A). Para kader mendapat pelatihan dari PPSW untuk mencatat kasus, mendampingi korban, dan menghubungkan mereka dengan layanan yang dibutuhkan.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah keputusan korban mencabut laporan dan menyelesaikan kasus secara damai. Karena kekerasan dapat berulang, satgas tetap memantau korban selama tiga bulan untuk memastikan kekerasan tidak kembali terjadi.
“Dari sini kita lihat bahwa kemandirian ekonomi saja tidak cukup untuk membuat perempuan bebas dari ketimpangan atau kekerasan. Karena itu, koperasi juga menjadi tempat belajar mengenai hak, relasi yang setara, dan dukungan sesama perempuan,” ujar Tiyas dari PPSW.
Baca juga: Kopdes Gerus Ruang Hidup Perempuan, Janji Kemajuan cuma ‘Omon-omon’?
Membawa suara ke diskusi publik
Pertemuan rutin koperasi perlahan membuka ruang bagi perempuan Desa Belimbing untuk membicarakan persoalan lain yang mereka hadapi. Dari sinilah Forum Suara Perempuan terbentuk.
Dalam forum tersebut, para perempuan memetakan masalah di desa, seperti sampah, kemacetan, air bersih, pencemaran air sumur akibat aktivitas pabrik, serta kebutuhan pelatihan bagi pelaku usaha mikro. Usulan itu kemudian dibawa ke ke musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) di tingkat desa.
“Biasanya kan yang ikut musrenbang ini laki-laki, tapi dengan adanya Forum, kita bisa masuk ke dalam musrenbang itu,” ujar Dewi.
Keberanian untuk masuk ke ruang-ruang yang selama ini didominasi laki-laki tidak datang begitu saja. Bagi Chen Fie,pertemuan koperasi memberinya kesempatan berinteraksi dengan banyak orang, memperoleh pengetahuan baru, dan berlatih menyampaikan pendapat.
“Saya berani bicara di muka umum dan menambah percaya diri saya pas ada Lampion Merah Abadi ini. Yang tadinya saya kan enggak bisa lah kalau bicara di muka umum, ngerasa takut aja,” ujar Chen Fie.
Perubahan tersebut juga tampak pada Cin Wah. Ia tidak hanya menggunakan keterampilan merajut untuk mendapatkan penghasilan, tetapi ikut menggerakkan sentra rajut dan mengajak perempuan lain belajar.
“Dulu saya bahkan enggak bisa pakai WhatsApp. Sekarang saya pakai aplikasi ini dan Facebook buat menawarkan produk. Saya juga suka lihat YouTube untuk belajar teknik baru,” ujarnya.





















