5 Artikel Pilihan: Lima Jurnalis Hilang di Krakatau, ‘Transboundary Haze’, hingga Review ‘Keep the Meter Running’
1. Lima Jurnalis Hilang Saat Meliput Anak Krakatau, Bagaimana Sebenarnya Pedoman Peliputan Bencana?
Lima jurnalis dilaporkan hilang kontak saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten. Mereka berada dalam satu kapal bersama tiga orang lain, yakni Warta sebagai kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu. Rombongan itu berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Menurut informasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten yang diterima Magdalene, kelima jurnalis tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis freelance. Kapal kehilangan kontak pada (7/9) di antara Carita dan Gunung Anak Krakatau. Hingga operasi pencarian hari pertama berakhir pada (8/9), delapan orang dalam rombongan tersebut belum ditemukan.
Baca artikel selengkapnya di sini.
2. Keracunan MBG hingga Nihilnya Cuti Ayah, Mungkinkah Kebijakan Negara yang Maskulin Diubah?
Keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG kembali terjadi di sejumlah daerah. Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 296 siswa mengalami muntah, gatal di mulut dan kulit, serta sesak napas setelah menyantap MBG pada pertengahan Agustus 2026, termasuk seorang siswi yang menurut keluarganya mengalami kehilangan ingatan hingga 70 persen, tulis IDN Times.
Persoalan keamanan MBG menjadi salah satu konteks dalam sesi “Kelas Warga: Membuat Kebijakan yang Berpihak pada Perempuan” di rangkaian Sisterhood Festival 2026 yang digelar Magdalene pada (5/9) di M Bloc Space, Jakarta Selatan. Dalam sesi tersebut, perwakilan Aliansi Ibu Indonesia Annette Ellen dan Menteri Sosial Kabinet Bayangan Nabiyla Risfa Izzati membahas bagaimana kebijakan publik perlu memerhatikan kebutuhan perempuan dan keberagaman kondisi yang mereka hadapi.
Baca artikel selengkapnya di sini.
3. ‘Transboundary Haze’: Kabut Asap Karhutla Seberangi Batas Negara, Tanggung Jawab Siapa?
Tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat Indonesia, kabut asap yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026 juga memengaruhi kehidupan warga negara tetangga. Asap dari kebakaran di Sumatra dan Kalimantan terbawa angin melintasi batas negara, membuat persoalan karhutla Indonesia berubah menjadi masalah kesehatan dan lingkungan regional.
Di Malaysia, dampaknya paling terasa di Sarawak. Pada (4/9), pemerintah Malaysia menetapkan keadaan darurat di Distrik Serian setelah Indeks Pencemar Udara atau Air Pollutant Index (API) mencapai 519, jauh di atas ambang 500 untuk kondisi yang memerlukan deklarasi darurat. Keadaan darurat tersebut kemudian dicabut pada 7 September setelah kualitas udara membaik, meski pemerintah Malaysia masih memperingatkan risiko kesehatan akibat kabut asap.
Simak artikelnya di sini.
4. ‘Keep the Meter Running’: Masih Ada Kemanusiaan dari Balik Kemudi Taksi
Sore itu, saya tengah terimpit di antara padatnya penumpang KRL rute Solo-Yogyakarta. Terpisah dari dua orang teman dan tidak memiliki ruang gerak untuk sekadar mengobrol, saya memutuskan mencari tontonan pelepas penat. Jari saya tertuju pada YouTube hingga terhenti pada sebuah video garapan Kareem Rahma, komedian sekaligus kreator konten asal New York, yang bertajuk “What Life Is Actually Like in Damascus Today”.
Awalnya, saya tidak menaruh ekspektasi apa-apa pada video tersebut. Jari saya mengklik video itu murni karena durasinya yang hampir satu jam, waktu yang pas untuk membunuh kebosanan selama perjalanan komuter. Namun, tontonan yang saya pilih secara acak itu justru menancap kuat di benak, membuat saya tertawa, tersenyum simpul, hingga tanpa sadar menitikkan air mata sepanjang perjalanan.
Baca artikel lengkapnya di sini.
5. Para Pendengung Berseragam Aparatur Sipil Negara, antara Instruksi dan Cara Naik Posisi
Seorang ASN di salah satu kementerian berkata, ada dua respons yang didapatnya ketika mengunggah ulang konten keberhasilan pemerintah. Warga sipil yang bekerja di luar pemerintahan akan mengkritiknya, mempertanyakan alasannya melakukan itu, dan menyampaikan umpatan kepada pemerintah, bahkan dirinya secara personal.
“Bahkan temen gue ada yang sampai di-block sama teman-teman lamanya karena suka nge-*repost,” katanya kepada Magdalene di Jakarta, (31/8).
Baca artikel selengkapnya di sini.





















