11/06/2026
Issues People We Love

Mengenang Marjane Satrapi, Suara Pembangkang Iran yang Tak Henti Lawan Ketidakadilan

Marjane Satrapi meninggal dunia di usia 56 tahun. Namun, warisan perjuangannya melalui seni, sastra, dan aktivisme terus hidup.

  • June 11, 2026
  • 7 min read
  • 86 Views
Mengenang Marjane Satrapi, Suara Pembangkang Iran yang Tak Henti Lawan Ketidakadilan

Foto: Gareth Cattermole / Getty

Kantor Kepresidenan Prancis mengumumkan kabar duka yang mengguncang dunia sastra, seni, dan aktivisme pada (4/6). Marjane Satrapi, penulis novel grafis, sutradara, sekaligus aktivis Iran-Prancis, meninggal dunia di Paris pada usia 56 tahun. Keluarga Satrapi yang diwawancarai AFP menyebut penyebab kematiannya berkaitan dengan kesedihan mendalam yang ia alami selama setahun terakhir.

Satrapi mengalami depresi berat setelah suaminya, fotografer Mattias Ripa, meninggal dunia dalam kecelakaan mobil di Paris pada Juni 2025. Kepergiannya meninggalkan kehilangan besar bagi dunia literatur, seni, dan gerakan yang memperjuangkan hak-hak perempuan di berbagai negara.

Satrapi lahir di Rasht pada 1969 dan tumbuh besar di Teheran dalam keluarga modern, berpendidikan tinggi, serta berhaluan kiri. Masa remajanya berlangsung di tengah gejolak Revolusi Islam 1979 dan perubahan besar yang menyusul setelahnya. Ketika represi politik oleh rezim baru semakin menguat, kehidupan keluarganya ikut terdampak karena sejumlah anggota keluarga dan orang-orang terdekat mulai ditangkap serta dipersekusi.

Salah satu peristiwa yang paling membekas dalam hidup Satrapi terjadi ketika paman tercintanya, Anoosh, dieksekusi mati oleh pemerintah Republik Islam Iran. Anoosh merupakan mantan tahanan politik yang sempat hidup dalam pengasingan. Kehilangannya menjadi pengalaman yang membentuk kesadaran politik Satrapi sejak usia muda.

Perubahan lain yang turut memengaruhi hidupnya terjadi pada 1980 saat pemerintahan Republik Islam mewajibkan seluruh anak perempuan mengenakan jilbab di sekolah. Sebagai anak kecil, Satrapi belum memahami alasan di balik aturan tersebut. Padahal setahun sebelumnya, ia masih menikmati pendidikan di sekolah Prancis yang sekuler, tempat anak laki-laki dan perempuan belajar bersama tanpa pemisahan.

Setelah revolusi, sekolah bilingual tersebut ditutup paksa karena dianggap sebagai simbol kapitalisme Barat dan kemerosotan moral. Anak perempuan kemudian dipisahkan dari anak laki-laki dan diwajibkan mengenakan penutup kepala. Perubahan drastis pada masa kanak-kanaknya inilah yang kelak membentuk karakter Satrapi sebagai sosok yang terus mempertanyakan otoritas.

Di tengah berbagai larangan terhadap budaya Barat, Satrapi tetap mendengarkan musik punk dan pop dari Iron Maiden, Kim Wilde, hingga Michael Jackson. Ia berjalan dengan sepatu kets sambil bersenandung, sebuah tindakan sederhana yang pada masa itu dapat dipandang sebagai bentuk pembangkangan.

Sikap kritisnya juga sering membawanya berhadapan dengan aparat. Ia beberapa kali mengikuti aksi protes tanpa sepengetahuan orang tuanya, membantah guru di sekolah, dan berurusan dengan Pengawal Revolusi yang mengawasi perilaku warga di ruang publik.

Ketika perang Iran-Irak pecah, situasi politik menjadi semakin berbahaya. Penindasan terhadap suara-suara kritis meningkat dan ruang kebebasan semakin menyempit. Demi keselamatan putrinya, orang tua Satrapi memutuskan mengirimnya ke Austria pada usia 14 tahun untuk melanjutkan pendidikan di sekolah Prancis di Wina.

Keputusan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Satrapi sebagai seorang imigran. Ia sempat kembali ke Teheran pada 1989 untuk menempuh pendidikan universitas sebelum memutuskan pindah lagi ke Eropa pada 1994. Setelah menyelesaikan studinya di Prancis, Satrapi menetap di negara tersebut dan memperoleh kewarganegaraan Prancis pada 2006.

Pengalaman hidup sebagai remaja di Iran dan sebagai imigran di Eropa kemudian ia tuangkan ke dalam novel grafis monumental berjudul Persepolis. Pertama kali terbit pada 2000 dan berkembang menjadi empat volume, karya tersebut mengubah cara publik memandang komik, memoar, dan narasi politik. Diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa, Persepolis menjangkau pembaca lintas negara dan memicu berbagai diskusi mengenai kebebasan, identitas, serta perlawanan terhadap otoritarianisme.

Baca juga: Mpu Uteun: Kelompok Perempuan Pelindung Hutan Aceh yang Melawan Patriarki

Pemberontak yang Menggugat Rezim dan Narasi Barat

Satrapi dikenal sebagai pengkritik keras rezim Republik Islam Iran. Namun, kritiknya tidak berhenti pada pemerintah di negara asalnya. Ia juga secara konsisten menyoroti cara pandang Barat terhadap Iran dan Timur Tengah yang kerap dipenuhi stereotip serta prasangka.

Melalui karya-karyanya seperti PersepolisEmbroideries, dan Chicken with Plums, Satrapi menunjukkan kehidupan masyarakat Iran yang jauh lebih kompleks daripada gambaran yang sering muncul di media internasional. Ia menghadirkan warga Iran sebagai manusia biasa yang memiliki harapan, kecemasan, cinta, dan konflik yang tidak berbeda jauh dari masyarakat di belahan dunia lain.

Satrapi juga menolak gagasan tentang benturan peradaban antara Timur dan Barat. Dalam berbagai kesempatan, ia berargumen bahwa garis pemisah yang sesungguhnya bukan terletak pada wilayah geografis, melainkan pada pertarungan antara kelompok fanatik dan mereka yang memilih hidup dengan akal sehat.

Selain itu, Satrapi tidak segan mengkritik sejarah panjang intervensi politik Barat di Iran, termasuk dukungan terhadap rezim Syah dan campur tangan dalam industri minyak yang turut membentuk ketidakstabilan politik negara tersebut. Meski karyanya diterima luas di berbagai negara Barat, ia berkali-kali mengingatkan publik agar tidak terjebak dalam savior complex yang memosisikan Barat sebagai penyelamat dunia.

Sikap tersebut tercermin pada 2024 ketika ia menolak penghargaan tertinggi Prancis, Légion d’honneur. Dikutip dari The Guardian, Satrapi menilai pemerintah Prancis bersikap munafik dalam hubungan diplomatiknya dengan Iran serta kebijakan visa terhadap warga negara asing. Menurutnya, pemerintah Prancis belum berbuat cukup banyak untuk mendukung perjuangan demokrasi rakyat Iran.

Baca juga: Rambu Dai Mami, Pemimpin Perempuan dari Tanah Sumba

Keberanian yang Tak Pernah Padam

Komitmen Satrapi terhadap kebebasan terus terlihat hingga akhir hidupnya. Pada 2023, ia mengoordinasikan penerbitan buku kolaboratif berjudul Femme, Vie, Liberté atau Perempuan, Kehidupan, Kebebasan bersama sejumlah seniman dan akademisi. Buku tersebut mendokumentasikan gelombang perlawanan masyarakat Iran setelah kematian Mahsa Amini pada 2022.

Mahsa Amini meninggal dunia setelah ditangkap polisi moral karena dianggap tidak mengenakan hijab sesuai aturan yang berlaku. Melalui buku tersebut, Satrapi mengecam penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dialami masyarakat Iran, terutama perempuan.

Dalam wawancara dengan BBC, Satrapi menjelaskan gerakan protes tersebut merupakan bagian dari perjuangan panjang yang telah berlangsung lintas generasi. Ia mengingat bagaimana kedua orang tuanya turun ke jalan sejak 1983 untuk menentang pemaksaan jilbab. Satrapi juga mengenang ayahnya sebagai salah satu dari sedikit laki-laki yang ikut menyuarakan penolakan terhadap kebijakan tersebut pada masa itu.

Kelantangannya membuat Satrapi berulang kali menerima ancaman pembunuhan. Ia juga kerap dituduh sebagai pembohong dan mata-mata oleh pihak yang mendukung rezim Iran. Meski demikian, ia memilih untuk terus bersuara. Satrapi pernah menegaskan bahwa rasa takut adalah sesuatu yang wajar, tetapi setiap orang memiliki pilihan untuk menentukan seberapa besar ketakutan itu mengendalikan hidup mereka.

Bagi Satrapi, tidak ada alasan untuk diam ketika anak-anak muda berusia 17 tahun di negaranya mempertaruhkan nyawa dan ditembak di jalanan. Sementara itu, dirinya telah hidup aman selama puluhan tahun di luar Iran.

Prinsip tersebut terlihat pada 2023 ketika ia memimpin aksi protes di depan Kedutaan Besar Iran di Paris. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap lima remaja perempuan di Teheran yang ditangkap setelah mengunggah video TikTok saat menari dengan lagu Calm Down yang dibawakan Rema dan Selena Gomez.

Satrapi juga mengingatkan sesama seniman agar tidak memilih diam di tengah ketidakadilan. Menurutnya, kerendahan hati tetap penting, tetapi sikap acuh tak acuh jauh lebih berbahaya. Ia menyadari tindakannya mungkin tidak akan mengubah dunia secara instan, namun ia merasa berkewajiban menggunakan suara dan pengaruh yang dimilikinya untuk menyampaikan kebenaran.

Baca juga: Santi Warastuti dan Legalisasi Ganja Medis: Saya Takkan Berhenti

Atas kontribusinya di bidang seni, Satrapi terpilih menjadi anggota Akademi Seni Rupa Prancis pada 2024. Dalam salah satu wawancara terakhirnya bersama BBC pada tahun yang sama, ia menyampaikan pesan yang mencerminkan seluruh perjalanan hidupnya: jika seni dan budaya dihilangkan dari sebuah masyarakat, masyarakat tersebut akan runtuh dengan sendirinya.

Selama 56 tahun hidupnya, Satrapi tidak hanya menceritakan pengalaman pribadi, tetapi juga merekam sejarah, perlawanan, dan harapan jutaan orang yang hidup di bawah penindasan. Melalui karya-karyanya, ia menunjukkan seni dapat menjadi alat untuk menjaga ingatan kolektif sekaligus membuka ruang bagi perubahan.

Marjane Satrapi telah tiada. Namun, warisan keberanian, kebebasan berpikir, dan keteguhannya dalam melawan ketidakadilan akan terus hidup di setiap halaman karyanya, mengingatkan generasi berikutnya untuk tidak berhenti mempertanyakan kekuasaan dan memperjuangkan kebebasan.

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.