‘Badrun & Loundri’: Saat Kita Lebih Percaya Kostum daripada Isi
Foto: IMDB
Dalam Badrun & Loundri, perubahan nasib bisa dimulai dari hal sesederhana berganti pakaian.
Badrun, lelaki paruh baya yang diperankan Arswendy Bening Swara, awalnya hanya berteduh di depan kios penatu bernama Loundri Mama Eros. Tidak ada yang istimewa darinya. Ia tampak seperti orang biasa yang kebetulan sedang berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.
Lalu seseorang menitipkan tas berisi pakaian, mengira Badrun adalah pegawai penatu. Dari tas itulah Badrun berganti rupa: gamis, kopiah, peci. Seperti sulap, dunia di sekitarnya ikut berubah. Orang-orang mulai memanggilnya “Abah Haji”, “Abah Guru”, bahkan “Tuan Guru”.
Baca juga: Sutradara Garin Nugroho: Film Berkualitas Tuntut Kemampuan Baca dan Tafsir
Sejak titik itu, film Garin Nugroho ini membuka sindirannya: betapa mudahnya kita percaya pada kostum, gelar, dan citra, bahkan sebelum tahu siapa seseorang sebenarnya.
Film rilisan 2023 ini mengambil latar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan sejak awal memberitahu penonton bahwa ceritanya terinspirasi dari kisah nyata. Meminjam istilah Garin sendiri sebagai “peladang berpindah”, kali ini ia menanam ceritanya di tanah Banjarmasin, dengan humor, absurditas, sekaligus kritik sosial-politik yang tajam.
Badrun, yang semula seperti tidak punya tujuan, mengikuti saja peran baru yang diberikan kepadanya. Ia menobatkan dirinya sebagai haji yang sedang bermusafir. Ilusi itu terus berjalan sampai ke Desa Bakung di bagian hulu Banjarmasin. Di sana, ia dibantu Abduh (Erick Estrada) dan Aisah (Shenina Cinnamon). Warga menyambutnya, menghormatinya, memberinya makan, dan menyediakan tempat bernaung.
Semua itu terjadi nyaris tanpa banyak pertanyaan. Atribut luar sudah cukup untuk membuat orang percaya.
Semakin lama, semakin banyak orang datang kepada Badrun. Mula-mula hanya minta didoakan: agar anak lulus ujian atau agar tim sepak bola kampung menang. Setelah itu, guru les yang sepi murid ikut sowan, dan kepala desa yang sedang mencalonkan diri menjadi bupati pun datang meminta restu.
Dalam bukunya Negara Melodrama, Garin Nugroho pernah menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang sering hidup dalam kemasan. Yang meriah dan populer tidak selalu sejalan dengan prestasi atau integritas. Badrun & Loundri seperti menerjemahkan gagasan itu ke dalam tubuh seorang tokoh.
Badrun dirayakan bukan karena ia terbukti bijak, saleh, atau bermoral, melainkan karena ia tampil seperti seseorang yang layak dipercaya. Ia menjadi populer karena masyarakat ikut membangun citranya. Warga datang, memuja, meminta doa, lalu menyebarkan kepercayaan bahwa ia memang sosok istimewa. Dari sana, citra Badrun semakin besar dan semakin sulit dibantah.
Baca juga: Review ‘Autobiography’: Potret Militerisme di Era Kini danRepresentasi Homoerotik yang Homofobik
Ketika citra menjadi kuasa
Setelah citra itu terbentuk, Badrun mulai memainkan kuasa. Ia memberi nasihat serampangan, ikut melanggengkan praktik suap, menjalin relasi transaksional dengan tokoh politik, bahkan mendorong gagasan bermasalah, seperti menjadikan guru les sebagai semacam “pakar iklan” praktik poligami.
Film ini memperlihatkan bagaimana kultus individu bekerja. Ketika seseorang telanjur dianggap suci, ucapannya mudah diterima sebagai kebenaran dan ajarannya sulit ditentang. Kritik terdengar seperti pembangkangan. Orang tidak lagi bertanya apakah yang ia katakan masuk akal, adil, atau berbahaya.
Kultus semacam ini membuka jalan bagi banyak praktik buruk. Agama bisa berubah menjadi komoditas, doa diberi harga, dan dukungan tokoh agama kepada politisi menjadi bagian dari transaksi kekuasaan. Yang semula tampak sebagai penghormatan spiritual pelan-pelan berubah menjadi bisnis, panggung, dan alat tawar.
Salah satu adegan paling menarik muncul ketika Badrun berganti kostum menjadi aparat penegak hukum. Dengan kekuasaan imajiner yang ia bangun sendiri, ia menagih uang pelicin kepada berbagai pihak. Badrun semakin santai dan lihai karena ia tahu masyarakat sudah telanjur percaya pada peran yang ia mainkan.
Di titik ini, film tidak hanya bicara tentang satu orang yang menipu warga. Ia bicara tentang sistem sosial yang memungkinkan penipuan itu bekerja: masyarakat yang mudah percaya pada simbol, elite politik yang siap memanfaatkan figur populer, dan budaya suap yang terasa terlalu akrab.
Korupsi dalam film ini tidak hadir sebagai peristiwa besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia muncul lewat uang pelicin, restu tokoh, dukungan politik, dan hubungan saling menguntungkan di balik layar. Garin membuatnya tampak absurd, tetapi justru karena itu ia terasa dekat dengan kenyataan.
Selain soal citra dan korupsi, Badrun & Loundri juga menyinggung cara kekuasaan merespons kritik. Ada adegan ketika baliho pencalonan bupati milik kepala desa dijungkirbalikkan sebagai bentuk protes. Sebelumnya, kroni kepala desa sempat menyebut bahwa urusan tambang dan hutan sudah “dibereskan”. Respons terhadap protes itu brutal: penduduk yang mengkritik dianiaya dan ditenggelamkan.
Baca juga: 15 Menit Urusan Privat ‘Basri dan Salma dalam Komedi yang Terus Berputar’
Yang lebih menyedihkan, kekerasan itu tidak berhenti pada satu generasi. Melalui hubungan Pak Ali dan anaknya, Fatimah, film menunjukkan bagaimana trauma akibat represi diwariskan. Kita memahami bahwa kekerasan serupa pernah terjadi sebelumnya. Adik Fatimah diduga meninggal akibat aksi protes Pak Ali di masa lalu. Fatimah memilih melupakan, sementara Pak Ali tenggelam dalam kehilangan.
Bagian ini membuat Badrun & Loundri tidak hanya menjadi satire politik yang lucu dan ganjil, tetapi juga cerita tentang luka sosial. Di balik absurditas Badrun, ada masyarakat yang hidup dalam ketakutan, trauma, dan kekuasaan yang tidak segan membungkam.
Pada akhirnya, film ini mengingatkan bahwa citra bisa dibentuk, imaji bisa diciptakan, dan kesucian bisa dipentaskan. Yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya. Di antara yang semu dan yang nyata, kita tetap membutuhkan kompas moral dan sikap kritis agar tidak mudah tunduk pada siapa pun yang tampil meyakinkan.
Maria Mona adalah penulis paruh waktu dan dokter penuh waktu. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano.





















