22/07/2026
Health Issues Opini

Ketika Ozempic Jadi Tren, Aku Berhenti Menyalahkan Tubuhku

Tren Ozempic dan tubuh selebritas yang semakin kurus membuka kembali obsesi lama tentang berat badan.

  • July 22, 2026
  • 6 min read
  • 20 Views
Ketika Ozempic Jadi Tren, Aku Berhenti Menyalahkan Tubuhku

Beberapa bulan terakhir, aku berkali-kali berhenti menggulir media sosial karena satu hal yang sama: mengapa hampir semua selebritas Hollywood tiba-tiba terlihat sangat kurus?

Bagi kita yang chronically online, fenomena ini mungkin terasa sulit diabaikan. Di berbagai premiere film, unggahan Instagram, wawancara karpet merah, hingga potongan video di TikTok, semakin banyak figur publik tampil dengan tubuh yang jauh lebih kecil dibandingkan beberapa tahun lalu. Perubahannya sering begitu drastis hingga memancing spekulasi.

Dari sanalah istilah “tren Ozempic” ramai dibicarakan. Ozempic sendiri adalah obat diabetes yang belakangan ikut populer karena efeknya terhadap penurunan berat badan. Di media sosial dan pemberitaan hiburan, nama obat ini kemudian melekat pada fenomena tubuh selebritas yang mendadak sangat ramping. Bukan sekadar terlihat lebih langsing, tetapi benar-benar skinny.

Baca juga: ‘Feminine Muscle’: Perempuan ‘Gym’ Boleh Berotot tapi Tetap Harus Langsing

Entah siapa yang pertama kali memulai tren ini. Namun, sejak akhir 2022 hingga 2023, perubahan tubuh sejumlah selebritas mulai menjadi bahan perbincangan publik. Awalnya aku melihatnya seperti gosip selebritas biasa. Namun, semakin sering tren itu muncul di linimasa, semakin aku merasa sedang melihat sesuatu yang sangat familiar.

Ia membangunkan kembali obsesi lama yang ternyata tidak pernah benar-benar pergi.

Waktu kecil, tubuh yang lebih berisi justru sering dianggap sebagai tanda anak yang sehat. Aku sendiri tidak pernah terlalu memikirkan bentuk tubuhku sampai suatu hari melihat grup idola di televisi. Usia kami mungkin tidak jauh berbeda, tetapi mereka terlihat jauh lebih cantik. Rambut mereka indah, pakaian mereka bagus, dan tubuh mereka ramping. 

Aku masih ingat pertanyaan yang muncul saat itu: kenapa aku tidak seperti mereka? Kenapa aku tidak cantik?

Sejak kelas enam SD, keinginan untuk menjadi kurus mulai tumbuh. Salah satu hal yang paling kuingat adalah sesi foto sekolah. Aku hampir selalu ditempatkan di barisan paling belakang atau di sisi paling ujung. Mungkin karena aku memang paling tinggi, atau karena tubuhku dianggap lebih “bongsor” dibanding teman-teman yang lain. Namun, sebagai anak kecil, aku membacanya sebagai tanda bahwa tubuhku berbeda.

Aku masih ingat pertanyaan yang muncul saat itu: kenapa aku tidak seperti mereka? Kenapa aku tidak cantik?

Sejak kelas enam SD, keinginan untuk menjadi kurus mulai tumbuh. Salah satu hal yang paling kuingat adalah sesi foto sekolah. Aku hampir selalu ditempatkan di barisan paling belakang atau di sisi paling ujung. Mungkin karena aku memang paling tinggi, atau karena tubuhku dianggap lebih “bongsor” dibanding teman-teman yang lain. Namun, sebagai anak kecil, aku membacanya sebagai tanda bahwa tubuhku berbeda.

Pulang sekolah hari itu, aku meminta dibelikan skipping dan mulai berolahraga setiap sore.

Memasuki SMP, perasaan itu semakin kuat. Banyak teman sebayaku memiliki tubuh yang lebih kecil daripada aku. Dalam pikiranku saat itu, tubuh yang lebih kecil berarti lebih cantik. Aku mulai takut makan terlalu banyak. Setelah makan, aku bahkan menghindari duduk karena percaya lemak akan langsung tersimpan di pahaku.

Di usia SMP, aku membeli meal replacement pertamaku dan teh pembakar lemak. Alasannya terdengar masuk akal: ingin hidup lebih sehat. Padahal, kalau dipikir sekarang, yang sebenarnya sedang kuberi makan adalah obsesiku sendiri.

Obsesi itu terus berlanjut sampai tubuhku akhirnya memberi tanda berhenti. Aku pernah mengalami tifus karena terlalu lelah dan kurang makan. Saat SMA, aku mulai mengenal kalori, menghitung makanan, dan rutin melakukan latihan HIIT hampir setiap hari. Aku mungkin belum menjadi sekurus yang kubayangkan, tetapi keinginan mengejar tubuh “ideal” tidak pernah benar-benar hilang.

Bertahun-tahun aku tumbuh dengan rasa tidak percaya diri terhadap tubuhku sendiri. Setiap bercermin, yang kulihat selalu bagian-bagian yang terasa terlalu besar. Aku terus membandingkan diriku dengan tubuh perempuan lain, seolah-olah ada satu bentuk tubuh yang suatu hari akan membuatku akhirnya merasa cukup.

Belakangan, aku baru menyadari pengalaman itu sangat dekat dengan gejala umum body dysmorphia, meski tentu aku tidak pernah mendapatkan diagnosis resmi. Yang jelas, aku hidup cukup lama dengan keyakinan bahwa rasa cukup baru akan datang ketika tubuhku berhasil mencapai bentuk tertentu.

Baca juga: ‘Thin is in!’, ‘SkinnyTok’, dan Kembalinya Standar Cantik Kurus Ekstrem

Standar tubuh yang selalu bergerak

Masalahnya, bentuk tubuh ideal tidak pernah benar-benar tetap.

Pada era 1990-an, dunia mengenal heroin chic: tubuh yang sangat kurus, kulit pucat, tulang menonjol, dan kesan rapuh yang justru dianggap modis. Memasuki 2010-an, standar bergeser menjadi slim thick: tubuh tetap langsing, tetapi dengan lekuk yang ekstrem. Pinggang kecil, perut rata, paha berisi, dan bokong besar menjadi kombinasi yang dianggap ideal.

Kini, tren seperti berputar kembali ke tubuh yang sangat kurus melalui fenomena Ozempic skinny. Standarnya berubah, tetapi tekanannya tetap sama. Perempuan terus diminta mengejar bentuk tubuh yang dianggap paling menarik pada zamannya.

Di titik itu, aku mulai bertanya: apakah masalahnya benar-benar ada pada tubuh perempuan? Ataukah kita hidup dalam sistem yang terus menciptakan standar baru agar perempuan tidak pernah benar-benar merasa cukup?

Media sosial mempercepat penyebaran standar kecantikan. Figur publik menjadi wajah dari tren tersebut. Industri kecantikan dan kebugaran kemudian menawarkan berbagai produk, layanan, maupun solusi untuk membantu kita mengejarnya. Semua saling berkaitan dalam sebuah siklus yang membuat standar tubuh terus berganti, sementara rasa tidak puas terhadap diri sendiri tetap dipelihara.

Mungkin itu sebabnya begitu banyak perempuan tumbuh dengan cerita yang mirip denganku. Cerita tentang tubuh yang selalu terasa kurang, tentang cermin yang tidak pernah benar-benar memantulkan rasa cukup, dan tentang keyakinan bahwa kebahagiaan baru akan datang setelah berat badan mencapai angka tertentu.

Aku tidak sedang mengatakan bahwa keinginan menurunkan berat badan selalu salah. Setiap orang punya hubungan yang berbeda dengan tubuhnya. Namun, kita juga perlu jujur bahwa banyak dari keinginan itu tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk oleh komentar orang sekitar, foto sekolah, tubuh idola di televisi, standar selebritas, algoritma media sosial, dan industri yang hidup dari rasa tidak aman kita.

Baca juga: Buccal fat removal dan Heroin chic : Sosial Media dan Obsesinya Terhadap Kurus

Lalu, siapa sebenarnya yang diuntungkan ketika begitu banyak perempuan terus merasa tubuhnya belum cukup?

Mungkin yang perlu kita pertanyakan bukan bagaimana menjadi lebih kurus, tetapi mengapa setiap kali perempuan mulai merasa nyaman dengan tubuhnya, selalu muncul standar baru yang membuat rasa cukup itu terasa mustahil.

Mungkin tubuhku tidak pernah benar-benar menjadi masalah. Mungkin yang bermasalah adalah dunia yang sejak lama mengajariku untuk memusuhinya.

Mungkin yang perlu kita pertanyakan bukan bagaimana menjadi lebih kurus, tetapi mengapa setiap kali perempuan mulai merasa nyaman dengan tubuhnya, selalu muncul standar baru yang membuat rasa cukup itu terasa mustahil.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Yuneke S N