07/07/2026
Issues Lifestyle

‘Demo Date’: Ada Romansa di Aksi Massa

Berteriak mengamini orator, menonton konser musik yang disediakan penyelenggara, atau membawa poster kritik saat demonstrasi, ternyata bisa dilakukan sambil kencan dengan pasangan.

  • May 10, 2026
  • 5 min read
  • 1678 Views
‘Demo Date’: Ada Romansa di Aksi Massa

Della, 24, menerima pesan singkat dari pacarnya, Doni, 26, pada Hari Buruh Internasional, (1/5). Pagi itu, Soni mengajaknya datang ke aksi May Day di depan gerbang utama gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senayan, Jakarta Pusat, untuk menonton penampilan musik yang diumumkan lewat poster di media sosial.

Di poster tersebut, sejumlah nama seperti Efek Rumah Kaca dan Black Horse dijadwalkan tampil menghibur massa aksi. Doni tahu betul dua band itu merupakan favorit kekasihnya.

“Itu band kesukaannya dia, saya ajak saja,” kata Doni sambil menunjuk Della yang langsung menutup wajah sambil cekikikan.

Ajakan itu diterima tanpa banyak pikir panjang. Della yang terbiasa datang ke konser musik mengaku tidak keberatan harus berdesakan di tengah massa aksi dan cuaca terik Jakarta. Sekitar pukul 13.00 WIB, Doni menjemput Della menggunakan sepeda motor untuk menempuh perjalanan hampir dua jam dari Bogor menuju Senayan.

Pasangan tersebut tiba sekitar pukul 15.00 WIB. Sembari menunggu band favorit tampil, mereka berjalan mengelilingi area demonstrasi, mendengarkan orasi buruh, membaca poster tuntutan, dan sesekali berhenti untuk mengambil foto bersama.

Genggaman tangan mereka nyaris tak terlepas. Sesekali Doni merangkul Della ketika berjalan di antara kerumunan massa aksi. Menurut keduanya, berkencan di demonstrasi justru menghadirkan pengalaman berbeda dibanding pergi ke pusat perbelanjaan atau cafe.

“Pasti diajak lagi lah tahun depan,” ujar Doni sambil menoleh ke Della yang langsung mengangguk ketika ditanya apakah ingin kembali datang ke aksi May Day berikutnya.

Baca juga: Dari Olivia Dean sampai Nadhif Basalamah: Rekomendasi Lagu Buat Pejuang LDR dan Para Bucin

Romansa di Tengah Lagu Perlawanan

Della dan Doni bukan satu-satunya pasangan yang menikmati suasana demonstrasi sambil berkencan. Di sela massa buruh dan mahasiswa yang memadati depan gedung DPR, banyak pasangan muda tampak menikmati konser musik sekaligus menyuarakan tuntutan sosial bersama.

Fauzy, 31, misalnya, tampak merangkul pundak Savira, 28, sambil menunggu Efek Rumah Kaca tampil di atas panggung pickup. Rangkulan itu dibalas Savira dengan menyandarkan kepala di bahu pacarnya di tengah keramaian massa aksi.

Saat Efek Rumah Kaca mulai memainkan lagu-lagu seperti “Mosi Tidak Percaya” dan “Rahim Ibu”, keduanya ikut bernyanyi bersama ratusan peserta aksi lain. Savira beberapa kali mengangkat telepon genggamnya untuk merekam suasana panggung dan mengambil video bersama Fauzy.

Setelah konser selesai, mereka berpindah ke trotoar untuk beristirahat sambil menonton ulang video yang direkam sepanjang aksi. Momen tersebut, menurut mereka, menjadi pengalaman kencan yang terasa lebih berkesan dibanding rutinitas akhir pekan biasa.

“Tahun kemarin juga datang,” kata Savira kepada Magdalene.

“Kemungkinan bakal datang ke May Day terus sih, tahun depan ikut lagi gitu,” timpal Fauzy.

Awalnya, pasangan ini hanya berencana pergi ke cafe. Namun rencana berubah setelah Fauzy melihat poster pengumuman penampilan Efek Rumah Kaca di aksi May Day.

“Tapi mainstream ah biasa, jadinya mau ke sini aja,” ungkapnya.

Menurut Fauzy, menonton Efek Rumah Kaca di aksi massa menghadirkan suasana berbeda dibanding konser biasa. Lagu-lagu yang dibawakan terasa lebih dekat dengan realitas sosial yang sedang diperjuangkan para peserta aksi.

“Sebenarnya sudah sering juga nonton Efek Rumah Kaca, tapi kalau di May Day lebih seru karena ada massa yang lainnya, jadi lebih rame dan suasananya kan protes dan nuntut, jadi lebih kerasa,” lanjut Fauzy.

Baca juga: Erika: Lagu Seksis Zaman ‘Baheula’ yang Harusnya Dikubur Saja

Kencan Sambil Membicarakan Isu Sosial

Suasana serupa juga dirasakan May, 21, dan Satrio, 23, yang datang mengenakan kaus band hitam dan celana jeans santai untuk menyaksikan penampilan The Brandals. Saat Eka Annash menyanyikan “Awas Polizei”, keduanya ikut menganggukkan kepala mengikuti irama musik.

May beberapa kali berjalan ke depan panggung lalu kembali menghampiri Satrio yang menunggu di area belakang. Semua barang miliknya dititipkan di tas selempang sang pacar. Sesekali ia merangkul Satrio sambil mengobrol di tengah keramaian.

Bagi mereka, ini pengalaman pertama berkencan di aksi massa. Tahun sebelumnya, keduanya tidak sempat datang ke May Day karena sama-sama bekerja.

“Tahun kemarin saya kerja, dia juga, jadi enggak bisa nonton, yang ada The Jansen,” jelas Satrio.

“Iya itu yang diusir-usirin sama polisi,” tambah May.

Obrolan soal isu sosial dan politik ternyata cukup sering muncul dalam hubungan mereka. Demonstrasi, menurut keduanya, menjadi ruang untuk mendiskusikan keresahan bersama, mulai dari kebijakan pemerintah hingga tindakan represif aparat.

“Kalau ramai banget ya ngomongin, dia kasih tahu aku atau kasih tahu dia, kayak demonstrasi Agustus kemarin tuh kita ngomongin banget,” jelas May.

May dan Satrio mengaku datang bukan hanya untuk menikmati musik, tetapi juga menyuarakan keresahan soal sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis yang dinilai menyerap anggaran besar. Mereka berharap pemerintah lebih memprioritaskan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Fauzy dan Savira juga membawa keresahan soal kondisi upah pekerja. Fauzy yang bekerja di bidang retail dan Savira yang menjadi manajer cafe menilai masih banyak pekerja sektor retail dan food and beverage (F&B) menerima upah di bawah standar minimum.

Baca juga: Mendengarkan Maskulinitas yang Manusiawi dari Band Perunggu

“Soal gaji UMR sekarang itu jauh dari kata layak. Soalnya dari gaji retail sendiri mayoritas jauh di bawah UMR, terus di F&B juga gitu. Harusnya pemerintah mulai memperhatikan itu sih,” harap Fauzy.

Aksi May Day berakhir sekitar pukul 18.00 setelah The Brandals menyelesaikan penampilannya. Massa perlahan membubarkan diri meninggalkan kawasan DPR. Namun bagi pasangan-pasangan muda yang datang hari itu, demonstrasi bukan hanya meninggalkan ingatan soal tuntutan sosial, tetapi juga kenangan tentang romansa di tengah aksi massa.

“InsyaAllah, kalau masih bareng datang lagi buat pacaran,” terang May.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.