5 Artikel Pilihan: ‘Demo Date, hingga Kenapa Kecelakaan KRL di Bekasi Timur adalah Isu Feminis?
1. ‘Demo Date’: Ada Romansa di Aksi Massa
Genggaman tangan mereka nyaris tak terlepas. Sesekali Doni merangkul Della ketika berjalan di antara kerumunan massa aksi. Menurut keduanya, berkencan di demonstrasi justru menghadirkan pengalaman berbeda dibanding pergi ke pusat perbelanjaan atau cafe.
“Pasti diajak lagi lah tahun depan,” ujar Doni sambil menoleh ke Della yang langsung mengangguk ketika ditanya apakah ingin kembali datang ke aksi May Day berikutnya.
Baca artikel selengkapnya di sini.
2. Kenapa Kecelakaan KRL di Bekasi Timur adalah Isu Feminis?
Tragedi yang melibatkan Kereta Khusus Wanita (KKW) itu memunculkan kembali perdebatan soal keselamatan perempuan dalam transportasi publik. Di tengah tingginya ketergantungan perempuan pekerja terhadap KRL, kecelakaan tersebut memantik pertanyaan mengenai sejauh mana sistem transportasi publik dirancang secara inklusif dan aman bagi kelompok rentan.
Della, 27, pekerja yang rutin bepergian dari Stasiun Cikarang ke Palmerah, mengaku terpukul setelah mengetahui kecelakaan tersebut terjadi di jalur yang biasa ia lalui setiap hari. Ia baru mengetahui kabar tersebut saat bangun dini hari dan mendapati ponselnya dipenuhi pesan dari keluarga dan kerabat.
Baca artikel selengkapnya di sini.
3. Gerbong Perempuan dan Sesat Pikir ‘Zero-Sum’: Saat Lelaki Merasa Jadi Korban Pengganti
Kita sedang berduka atas tragedi KRL Bekasi Timur, tetapi cara duka itu direspons justru membuka persoalan lain. Di tengah arus kemarahan publik, saya sadar tidak ikut marah pada pernyataan Menteri Arifah Fauzi bisa berujung diserang warganet. Namun, dari situ justru terlihat sesuatu yang lebih mendasar: empati di ruang publik kita sering berjalan tanpa perspektif gender.
Perasaan itu semakin terasa ketika saya mengikuti diskusi di komunitas Hapsari. Bahkan sebelum diskusi dimulai, tragedi ini sudah lebih dulu memenuhi percakapan. Dukanya terasa hingga ke pelosok desa di Sumatera Utara, jauh dari Bekasi.
Simak artikelnya di sini.
4. Aktivisme Seharusnya Terbuka buat Semua, tapi Tidak untuk Perempuan Disabilitas Seperti Saya
Bagaimana seseorang bisa terlibat dalam aktivisme sosial, politik, feminis, dan lingkungan, sementara setiap hari ia harus berhadapan dengan diskriminasi dan hambatan struktural sebagai orang dengan disabilitas? Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya, beriringan dengan kegelisahan lain yang enggak kalah mengganggu. Apakah aktivisme juga membutuhkan privilese, baik privilese identitas, waktu, akses sosial, maupun rasa aman?
Beberapa waktu lalu, di belakang gedung unit layanan disabilitas di kampus tempat saya berkuliah, sebuah percakapan terjadi dan menetap lama di ingatan saya. Di antara kepulan asap rokok seorang staf kampus lulusan Sosiologi dan saya sebagai mahasiswa Sosiologi tahun kedua, pertanyaan dilontarkan.
Baca artikel lengkapnya di sini.
5. Kriminalisasi Balik hingga Dalih Dendam Pribadi: 3 Catatan TAUD tentang Sidang Andrie Yunus
Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menyoroti sejumlah kejanggalan dalam penanganan kasus Andrie Yunus, terutama pada proses persidangan di pengadilan militer. Dalam konferensi pers di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pada (4/5), TAUD mengungkap sedikitnya empat catatan penting yang dinilai berpotensi menghambat tercapainya keadilan bagi korban.
Catatan tersebut mencakup sikap majelis hakim, konstruksi dakwaan, hingga proses peradilan yang dinilai hanya menyasar pelaku lapangan. TAUD juga menilai pilihan membawa kasus ini ke pengadilan militer membuat pengungkapan perkara menjadi tidak transparan dan minim perspektif korban.
Baca artikel selengkapnya di sini.





















