Thresia Mareta dan Mimpi Menjaga Tangan Perajin Busana Tetap Hidup
Foto: JF3
Di Teras LAKON, tempat yang ia sebut sebagai “lab” (4/8), Thresia Mareta bercerita tentang keresahannya melihat keterampilan para perajin batik dan penjahit jalan di tempat dan perlahan kehilangan peminat. Lebih dari sekadar keinginan melestarikan budaya Indonesia, Thresia melihat persoalan lebih dalam pada keberlangsungan hidup orang-orang yang mengerjakan keterampilan tersebut. Baginya, keterampilan tradisional sulit diwariskan jika para perajin sendiri belum bisa mendapatkan kehidupan layak dari pekerjaannya.
Bagi Thresia, persoalannya tak sesederhana anak muda yang enggan membatik atau menjahit. Walau pekerjaannya tak mudah, keengganan itu muncul terutama ketika mereka melihat orang tuanya menjalani kehidupan sulit dengan penghasilan yang tidak cukup. Kondisi tersebut membuat pekerjaan lain dengan pendapatan lebih pasti terlihat lebih menjanjikan bagi generasi berikutnya.
“Wajar kalau generasi berikutnya memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.
Kerja aja di pabrik yang penghasilannya lebih pasti,” ujar pendiri LAKON dan Advisor JF3 Fashion Festival itu kepada Magdalene.
Thresia pun mulai melihat hilangnya keterampilan tradisional tak lepas dari ekosistem yang belum mampu memberi penghidupan layak kepada para pekerjanya. Menurut Thresia, banyak perajin dikategorikan sebagai kelompok berpenghasilan rendah karena pekerjaan yang mereka lakukan tidak memberikan penghidupan yang cukup. Akibatnya, mereka justru mendorong anak-anaknya untuk mencari pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.
“Untuk melestarikan budaya, kita bukan menyimpan kainnya atau hasil produknya, tapi yang perlu dilestarikan adalah tangannya. Keterampilan itu enggak boleh hilang,” ujar Thresia.
Situasi tersebut menjadi persoalan regenerasi, katanya. Ketika menjadi perajin tidak memberikan kehidupan layak, generasi berikutnya akan semakin sulit melihat pekerjaan tersebut sebagai pilihan masa depan. Persoalan regenerasi pun tak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi orang-orang yang menjaga keterampilan itu tetap hidup.

Baca juga: Solusi Industri Fast Fashion
Membangun Ekosistem Fesyen yang Lebih Baik
Realitas itulah yang kemudian membawanya membangun Teras LAKON dan LAKON sebagai fashion brand. Thresia menyadari upaya memperbaiki sistem fesyen merupakan pekerjaan rumah besar yang membutuhkan andil banyak pihak. Ia kemudian memulainya dengan menciptakan ekosistem kecil yang memungkinkan para perajin memperoleh kehidupan lebih baik dan layak.
Thresia membuat Teras LAKON seperti laboratorium tempat pengetahuan dan keterampilan dari karya-karya tradisional Indonesia diarsipkan, dipelajari, dan diekstraksi untuk kemudian diajarkan kembali kepada para perajin. Proses tersebut menjadi bagian dari upayanya menjaga keterampilan tetap hidup sekaligus mengembangkan kemampuan para perajin. Hasilnya kemudian masuk ke proses produksi LAKON.
Hasil dari proses tersebut kemudian diolah oleh brand LAKON menjadi produk fashion dan didistribusikan melalui LAKON Store. Dengan demikian, perajin tidak hanya menjadi bagian dari rantai produksi, tetapi juga bagian dari sebuah ekosistem. Posisi tersebut sekaligus membuka ruang bagi keterampilan mereka untuk terus berkembang dan menghasilkan nilai ekonomi.
“Ketika perajin mampu menghasilkan karya dengan tangannya sendiri dan memperoleh penghasilan yang lebih baik, muncul sesuatu yang tak kalah penting: rasa bangga atau pride. Nah itu yang perlahan mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan yang selama ini dijalani,” tuturnya.
Dedikasinya mengembangkan bisnis fesyen sekaligus mengangkat budaya Indonesia mengantarkan Thresia menerima gelar Knight of the Ordre des Arts et des Lettres dari Kementerian Kebudayaan Prancis pada 2025 lalu. Gelar tersebut merupakan penghargaan kehormatan atas dedikasinya dalam melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Indonesia melalui fesyen hingga ke tingkat internasional. Penghargaan tersebut menjadi salah satu pengakuan atas kiprahnya dalam bidang fesyen dan budaya.

Baca juga: Statement Paling Baddie Hiperfeminitas
Keberlanjutan Dimulai dari Proses Produksi
Bagi Thresia, semangat sustainability atau keberlanjutan dalam fesyen tak hanya berhenti pada pertanyaan apakah sebuah produk dibuat dari bahan yang ramah lingkungan. Keberlanjutan juga berkaitan dengan keseluruhan proses produksi yang berlangsung sejak awal. Cara pandang tersebut diterapkan LAKON melalui berbagai tahapan produksi.
Di LAKON, upaya tersebut dimulai dengan proses sederhana berupa pemotongan bahan kain yang lebih efisien. Cara ini memungkinkan penggunaan bahan lebih optimal sekaligus mengurangi sumber daya yang terpakai selama produksi. Penghematan tersebut kemudian berkaitan dengan penggunaan benang, listrik, dan sumber daya lain.
“Semakin sedikit bahan yang terbuang, semakin sedikit pula benang, listrik, dan sumber daya lain yang digunakan dalam proses produksi,” tegas Thresia.
Sisa produksi pun tidak serta-merta dianggap sebagai sampah. LAKON mencoba mengolahnya kembali menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Bahkan, Thresia mengembangkan layanan recycle and repair yang memungkinkan konsumen memperbaiki pakaian yang dibeli atau memodifikasi pakaiannya menjadi bentuk baru.
“Jadi memang prosesnya yang penting, bukan hanya soal bahan yang digunakan,” ujarnya.
Bagi Thresia, pembicaraan tentang fesyen juga tak berhenti pada proses produksi dan keberlanjutan. Fesyen memiliki ruang lain untuk membicarakan kreativitas, identitas, serta cara generasi muda mengekspresikan diri. Di titik ini, peran ruang bagi para kreator menjadi penting.
Sebagai Advisor Jakarta Fashion Festival, Thresia melihat ruang berkreasi untuk para kreator fashion masih jalan di tempat, meski anak muda sekarang sudah lebih eksploratif dalam fesyen. JF3, menurutnya, hadir untuk menciptakan ruang tersebut melalui panggung yang berbeda setiap tahun. Perubahan itu diharapkan membuat presentasi karya tidak berhenti pada kegiatan tampil, tetapi menjadi bagian dari komunikasi desainer dengan audiens dan customer.

Baca juga: Chitra Subyakto Mendorong Kesadaran terhadap Isu Lingkungan
“Makanya ruang itu diciptakan JF3, setiap tahun mengusung panggung berbeda. Supaya presentasinya setiap tahun enggak sama. Kalau sekarang saya lihat presentasi fashion show itu masih kayak ajang buat tampil. Padahal kan tampil itu adalah salah satu bagian dari komunikasi ke audiens atau customer. Bagi saya JF3 itu berhasil kalau para desainer sudah bisa menjadikan produk mereka sebagai kebutuhan, bukan cuma ajang untuk tampil aja,” katanya.
Selain ruang kreator fashion yang perlu terus didorong, Thresia melihat kekayaan budaya lokal dapat menjadi bagian dari identitas yang dibawa generasi muda di tengah tren fashion yang terus berubah. Penggunaan budaya dalam fashion maupun konten, menurutnya, tetap perlu mempertimbangkan tujuan dan dampaknya secara utuh. Hal tersebut penting agar budaya tidak berhenti sebagai elemen dekoratif dalam sebuah karya.
“Apakah tujuannya benar-benar memperkenalkan budaya? Dan apakah eksekusinya sejalan dengan tujuan tersebut? Jangan sampai hanya jadi tempelan saja,” ujarnya.
Pentingnya konteks budaya dan manusia ketika membicarakan fesyen juga terlihat dari upaya Thresia mendokumentasikan orang-orang yang telah memberi kontribusi terhadap perkembangan budaya dan fesyen lewat bukunya Ode to Indonesian Culture (2025). Buku tersebut menjadi bagian dari upayanya mencatat pengalaman dan cerita orang-orang yang berkontribusi pada perkembangan budaya Indonesia. Dokumentasi itu juga berkaitan dengan keberlanjutan pengetahuan lintas generasi.
Menurutnya, budaya dibangun dari kehidupan sehari-hari dan orang-orang yang berkontribusi pada zamannya. Sayangnya, Indonesia masih kekurangan catatan mengenai orang-orang yang telah memberi kontribusi terhadap perkembangan budaya. Kondisi tersebut membuat pengalaman dan cerita mereka penting untuk didokumentasikan agar dapat dipelajari generasi berikutnya.
“Makanya ingin memastikan pengalaman dan cerita tersebut terdokumentasi agar generasi berikutnya memiliki jejak untuk dipelajari dan diteruskan,” kata Thresia.
Dalam perjalanannya memperkenalkan karya Indonesia ke dunia internasional, Thresia menyadari tantangannya bukan hanya soal kualitas produk, tetapi juga soal bagaimana Indonesia dikenal secara global. Pengenalan terhadap Indonesia turut berkaitan dengan bagaimana kekayaan budaya dan karya tangan dari berbagai daerah diperkenalkan kepada publik internasional. Pengalaman tersebut ia temukan ketika berada di Prancis.
Ketika berada di Prancis, misalnya, ia menemukan banyak orang yang tak tahu Indonesia, tetapi mereka tahu Bali. Padahal, Indonesia memiliki begitu banyak kekayaan budaya dan karya tangan yang berasal dari berbagai daerah, tambahnya. Pengalaman tersebut memperlihatkan masih adanya jarak antara kekayaan budaya Indonesia dan pengenalannya di tingkat internasional.
Pengakuan internasional kemudian menjadi semacam validasi baginya atas apa yang selama ini dibangun. Penghargaan tersebut menunjukkan karya dan upaya yang dikembangkan Thresia dapat memperoleh apresiasi di tingkat global. Namun, pengakuan tersebut bukan akhir dari perjalanan yang ia bangun melalui LAKON.
Bagi Thresia, perjalanan tersebut belum selesai. Impian besarnya tetap kembali pada hal yang sejak awal mendorongnya membangun LAKON, yakni memastikan keterampilan tidak hilang, perajin dapat hidup layak dari pekerjaan mereka, dan generasi berikutnya memiliki alasan untuk memilih meneruskan apa yang telah diwariskan. Pada akhirnya, keberlanjutan budaya juga berkaitan dengan keberlangsungan hidup orang-orang yang menjaga keterampilan tersebut.
“Melestarikan budaya, pada akhirnya juga tentang memastikan tangan yang membuatnya tetap hidup, dihargai, dan memiliki masa depan,” tutup Thresia.




















