Apakah Saya Bodoh karena Salah Membaca Maps?
Sore baru berganti malam saat saya sengaja menyesatkan diri di sebuah jalan di Singapura, (28/7) silam. Rencana ke toko buku malam itu kandas karena sudah tutup, jadi saya memilih berjalan kaki tanpa tujuan pasti. Google Maps menjadi andalan saya untuk menentukan arah.
Anehnya, perjalanan di Singapura justru berjalan lancar. Saya hampir tidak pernah keliru membaca peta virtual maupun rute kereta, meski sebelumnya pengalaman membaca maps justru sering membuat saya merasa bodoh.
Perasaan itu pertama kali muncul saat berusia 17 tahun dan baru mulai pacaran. Ketika dibonceng motor, saya sering was-was saat mendapat tugas membaca Google Maps karena satu belokan yang terlewat bisa membuat pasangan marah.
Pernah suatu kali saya salah membaca satu gang menuju pusat perbelanjaan di BSD. Gang tersebut sebenarnya tetap tembus ke tujuan yang sama, tetapi kesalahan itu cukup untuk membuat pasangan saya marah sepanjang hari.
Sejak itu, salah membaca maps terasa seperti sesuatu yang harus saya hindari. Dalam hubungan berikutnya, saya bahkan memilih menyerahkan handphone kepada pasangan agar dia yang membaca maps. Saya tidak ingin kembali berhadapan dengan kemarahan hanya karena keliru menentukan arah.
Dari situ muncul pertanyaan yang lebih besar: Apa salah membaca maps sekali atau dua kali cukup untuk membuat perempuan dianggap bodoh? Pertanyaan tersebut terasa semakin mengganggu ketika candaan dan perdebatan soal perempuan yang tidak bisa membaca arah terus berulang di media sosial.
Baca juga: Benarkah Singapura Curi Budaya Indonesia? Penelusuran Saya di Haji Lane dan Marina Bay
Ketika Kemampuan Navigasi Dijadikan Stereotip Gender
Candaan semacam itu memang terlihat harmless, tetapi ketika kesalahan perempuan terus dijadikan bahan ejekan, kemampuan navigasi berubah menjadi ukuran kecerdasan sekaligus stereotip gender.
Tidak jarang ujaran kebencian tersebut dilontarkan oleh akun anonim yang terlihat dikelola laki-laki. Perempuan yang salah membaca arah ditempatkan sebagai pihak yang bodoh, sementara kemampuan membaca maps seolah menjadi salah satu cara membuktikan siapa yang lebih mampu.
JJ Bola dalam bukunya, Mask Off: Masculinity Redefined (2019), menjelaskan akun anonim di media sosial seperti X (dulunya Twitter) sering kali digunakan untuk menargetkan perempuan sebagai objek pelecehan atau troll. Patriarki punya guidebook. Apabila laki-laki tidak bisa baca maps, maka laki-laki tersebut tidak maskulin. Untuk membuktikan kebolehan maskulinitas itu, laki-laki pun menggunakan media sosial sebagai arena tarung dengan cara yang tidak jarang merendahkan perempuan.
Perdebatan tersebut menunjukkan bagaimana kemampuan yang dianggap sederhana dapat ikut menjadi arena pembuktian maskulinitas. Ketika laki-laki dituntut mampu membaca arah dan perempuan justru dianggap bodoh jika melakukan kesalahan, stereotip gender akhirnya ikut menentukan bagaimana kemampuan seseorang dinilai.
Namun, kemampuan navigasi tidak sesederhana persoalan jenis kelamin. Studi berjudul Still Little evidence sex differences in spatial navigation are evolutionary adaptations (2024) yang dipublikasikan Royal Society Open Science menemukan adanya perbedaan kemampuan navigasi antara laki-laki dan perempuan dalam sejumlah penelitian, tetapi hanya menemukan sedikit bukti untuk mendukung anggapan perbedaan tersebut merupakan hasil adaptasi evolusioner.
Penelitian tersebut menunjukkan faktor pengalaman dan kemungkinan efek biologis yang tidak berkaitan dengan adaptasi evolusioner dapat menjadi penjelasan yang lebih mungkin. Dengan demikian, kemampuan navigasi tidak tepat dipahami sebagai kemampuan yang secara alamiah melekat pada laki-laki.
Cara seseorang dibesarkan juga menjadi penting dalam melihat persoalan tersebut. Patriarki membuat manusia berpikir lebih lumrah dan dianjurkan untuk laki-laki bermain di luar rumah, sementara perempuan lebih sering diarahkan untuk bermain di dalam rumah.
Tentu, tidak asing lagi bukan kalau laki-laki normalnya bermain permainan yang sifatnya fisik di lapangan, sedangkan perempuan bermain boneka atau rumah-rumahan saja?
Saya memiliki satu kakak laki-laki. Usia kami terpaut lima tahun. Pernah satu waktu, saya merasa sedikit cemburu melihat kakak saya dibolehkan bepergian sendiri ke luar kota, sementara saat saya berada di usianya, saya tetap dibatasi tidak boleh pulang terlalu larut atau kalau mau ke luar kota, harus kena semprot omelan dua jam dari mama.
Saya kagum dengan kakak saya karena ia betul-betul pandai soal arah. Jarang sekali ia membuka maps dan tersasar, setidaknya di Jakarta, Tangerang, dan Denpasar sekitarnya. Kemampuannya itu khatam karena selain dia diperbolehkan main sendiri, dia juga sering bermain gim GTA San Andreas. Mahadahsyat gim tersebut membantu orang latihan baca peta.
Pengalaman tersebut tidak bisa menjadi bukti tunggal tentang penyebab kemampuan navigasi seseorang. Namun, perbedaan kesempatan untuk bepergian dan menjelajah ruang menunjukkan bagaimana pengalaman dapat membentuk keterampilan yang kemudian dianggap sebagai kemampuan alamiah.
Bukan Soal Perempuan Bisa atau Tidak Membaca Maps
Masih dari studi yang sama, kemampuan navigasi tidak dapat begitu saja dijelaskan melalui jenis kelamin. Penelitian tersebut mempertanyakan anggapan evolusioner tentang perbedaan kemampuan navigasi dan menunjukkan pentingnya melihat pengalaman sebagai salah satu faktor yang mungkin berpengaruh.
Melansir New Scientist, kemampuan spasial hampir mirip dengan kemampuan kognitif manusia. Semakin sering digunakan, maka akan semakin terbiasa. Namun, kesempatan untuk mengasah kemampuan tersebut tidak selalu tersedia secara setara bagi perempuan.
Di sinilah stereotip tentang perempuan yang dianggap tidak pandai membaca maps menjadi persoalan. Perempuan dapat dibatasi untuk bepergian sendiri sejak kecil, kemudian ketika dewasa justru dianggap kurang mampu membaca arah karena tidak memiliki pengalaman sebanyak laki-laki.
Pengalaman saya menunjukkan persoalan tersebut juga bisa masuk ke dalam hubungan personal. Ketika salah membaca arah membuat seseorang takut dimarahi, kesalahan kecil tidak lagi terasa sebagai kesalahan biasa. Perempuan justru bisa belajar meragukan kemampuan dirinya sendiri dan memilih diam agar hubungan tetap berjalan.
Di era media sosial yang sangat berpengaruh ini, perdebatan tentang bisa baca maps atau tidak memang terlihat sepele. Namun, dari perdebatan sederhana itu dapat terlihat bagaimana stereotip tentang perempuan dan laki-laki terus diproduksi dan dipertahankan.
Saya cukup setuju dengan pendapat JJ Bola; upaya menantang konsep toxic masculinity bisa menjadi bagian dari transformasi kultural secara kolektif. Upaya tersebut bukan sekadar membuktikan perempuan juga bisa membaca arah, tetapi mempertanyakan mengapa kemampuan membaca maps harus dijadikan ukuran kecerdasan perempuan atau maskulinitas laki-laki.
Perdebatan yang terlihat receh di internet tetap dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih besar. Sebab, yang perlu dipertanyakan bukan lagi apakah perempuan bodoh karena salah membaca maps, melainkan mengapa kesalahan kecil itu masih cukup untuk membuat perempuan merasa dirinya kurang mampu.




















