Beberapa waktu lalu, aku sedang scrolling TikTok ketika sebuah video muncul di For You Page-ku. Isinya kumpulan klip singkat tentang rutinitas sehari-hari yang tampak nyaris sempurna, mulai dari alarm pukul lima pagi, membuat ceremonial matcha dengan susu almond, hingga selembar roti sourdough tipis dengan setengah telur rebus dan taburan garam serta merica yang tampak menyedihkan. Porsinya bahkan terlihat seperti dibuat untuk anak perempuan usia lima tahun.
Setelah itu, video beralih ke sesi Pilates di studio pastel mahal dengan set olahraga serba merah muda, lalu ditutup rutinitas skincare lima belas langkah lengkap dengan terapi red light. Alatnya bahkan lebih mirip topeng Iron Man, seandainya Iron Man terobsesi dengan estetika serba putih minimalis dan hidup pada 2070.
Anehnya, aku tidak merasa sedang menonton iklan. Aku justru merasa sedang melihat kehidupan yang seharusnya kumiliki. Rasanya, kalau saja aku menjalani hidup seperti itu, mungkin aku akan merasa lebih tenang, bahagia, cantik, bahkan “berhasil”.
Dari situlah aku terjun ke dalam rabbit hole pencarian dengan kata kunci clean girl aesthetic. Semakin banyak video yang kutonton, semakin aku bertanya-tanya, mengapa konten sesederhana rutinitas pagi terasa begitu memikat?
Sebagai manusia yang bebas menentukan makna hidup sendiri, sebagai perempuan berdaya yang bisa memilih jalan hidup dan membentuk konsep tentang dirinya sendiri, kenapa fenomena clean girl aesthetic ini begitu menarik bagiku? Pertanyaan tersebut kemudian membawaku pada persoalan yang lebih besar tentang bagaimana kita mencari pegangan untuk menentukan kehidupan seperti apa yang dianggap baik.
Baca juga: Apa yang Sebenarnya Kita Cari dalam Segelas ‘Ceremonial Grade Matcha’?
Standar Baru Perempuan Ideal
Pencarian akan makna hidup merupakan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar bisa dijawab oleh dunia. Albert Camus menyebut kondisi ini sebagai absurditas, ketika manusia terus mencari jawaban tentang tujuan hidup sementara dunia tidak memberikan kepastian yang diinginkan.
Ketegangan antara hasrat manusia akan makna dan diamnya semesta membuat manusia terus mencari pegangan. Kita menginginkan arah, jawaban, atau setidaknya gambaran tentang seperti apa kehidupan yang “baik” seharusnya dijalani. Di titik inilah media sosial masuk menawarkan shortcut.
Yang ditawarkan bukan sekadar rutinitas pagi yang estetik, melainkan gambaran tentang satu cara hidup yang terlihat benar. Tampilan yang konsisten, rutinitas yang teratur, tubuh yang terawat, makanan yang dianggap sehat, hingga kamar yang rapi membentuk paket kehidupan ideal yang mudah dikenali dan ditiru.
Tampaknya aku bukan satu-satunya yang terpikat. Lebih dari 1 juta unggahan dengan tagar #cleangirlaesthetic pada platform TikTok dan 733 ribu pada platform Instagram, serta 1,9 juta unggahan dengan tagar #cleangirl pada platform TikTok dan 548 ribu unggahan pada Instagram menunjukkan besarnya perhatian terhadap tren tersebut.
Bagi perempuan, pencarian akan pegangan itu kemudian menemukan bentuknya dalam mitos baru tentang perempuan ideal. Dalam The Second Sex (1949), Simone de Beauvoir bilang, perempuan enggak pernah sekadar “menjadi dirinya sendiri”. Sejak lahir, masyarakat telah menyediakan naskah tentang bagaimana perempuan yang baik seharusnya hidup.
Naskah tersebut terus berganti bentuk, tetapi tuntutannya tetap sama, yaitu menjadi perempuan yang dianggap ideal dan alami. Padahal, gambaran tersebut merupakan hasil konstruksi budaya. Labelnya dulu bisa saja istri idaman, ibu yang sempurna, atau perempuan anggun, sedangkan sekarang bentuknya berubah menjadi clean girl, pink pilates princess, vanilla girl, dan sebagainya.
Baca juga: Bleached Girls: India and Its Love for Light Skin
Ironisnya, media sosial terus mengajak kita menjadi “versi terbaik dari diri sendiri”. Namun, versi terbaik tersebut hampir selalu terlihat sama, mulai dari outfit, Pilates, produk skincare, matcha, sampai pola makan.
Bahkan, definisi hidup yang “baik” ikut dibuat seragam. Di titik ini, sulit membedakan antara ekspresi diri dengan identitas yang telah disiapkan untuk kita pilih.
Keseragaman tersebut juga membuka ruang bagi industri untuk menjual berbagai produk yang dianggap penting demi mencapai kehidupan ala clean girl aesthetic. Industri kecantikan, wellness, dan gaya hidup tidak hanya menawarkan barang, tetapi juga gambaran tentang persoalan yang perlu diselesaikan agar seseorang bisa mendekati kehidupan ideal tersebut.
Akibatnya, perempuan dapat terdorong menghabiskan sumber daya untuk membeli produk overpriced yang keunggulannya sebagian terletak pada prestise ketika merek tersebut terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Produk akhirnya bukan sekadar barang, melainkan bagian dari citra tentang siapa kita dan kehidupan seperti apa yang ingin ditampilkan.
Aku tidak membenci clean girl aesthetic dan aesthetic lain yang serupa. Tren gaya hidup semacam ini memang dapat membuat orang lebih sadar akan pentingnya membangun rutinitas, merawat diri, menjaga kebersihan, dan memelihara kesehatan.
Persoalannya muncul ketika kebiasaan tersebut berubah menjadi syarat untuk dianggap menjalani hidup yang “berhasil”. Ketika merawat diri harus selalu hadir dalam bentuk tertentu, kita berisiko mengukur kualitas diri melalui penampilan, rutinitas, dan produk yang digunakan.
Kecantikan, kebersihan, dan gaya hidup tidak seharusnya menjadi pusat identitas atau rumus kepuasan hidup seseorang. Merawat diri tentu bisa menjadi pilihan yang baik, tetapi pilihan tersebut menjadi berbeda ketika standar yang sama terus muncul sebagai gambaran tentang perempuan ideal.
Baca juga: ‘Thin is in!’, ‘SkinnyTok’, dan Kembalinya Standar Cantik Kurus Ekstrem
Mungkin memang tidak ada satu cara yang benar untuk menjadi perempuan. Dunia tidak pernah menyediakan jawaban itu. Justru karena itulah kebebasan menjadi sesuatu yang berharga.
Selama kita terus mengejar definisi perempuan ideal yang disediakan algoritme, pasar, atau masyarakat, kita mungkin bukan sedang menemukan diri sendiri. Kita hanya berpindah dari satu mitos ke mitos berikutnya.
Hari ini clean girl. Besok mungkin sesuatu yang lain.
Keynekayla Azizah Maulana adalah mahasiswa Psikologi yang tertarik pada filsafat eksistensial, psikologi, dan isu-isu perempuan.





















