Belasan Tahun Belajar Geologi, Saya Tahu Manusia Bisa Ikut Picu Gempa Bumi
Rangkaian gempa kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada konferensi pers yang disiarkan YouTube BNPB, (30/8) mencatat, total ada 9.765 gempa susulan, dengan magnitudo 6,2. Sebelumnya pada (25/8) gempa magnitudo 7,7 lebih dulu mengguncang wilayah itu dan menewaskan 111 orang.
BNPB mengungkapkan sebanyak 155 gempa susulan di NTT masih dirasakan masyarakat. Rangkaian gempa ini diperkirakan masih dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu usai gempa utama.
Pada (6/8), gempa juga terjadi di Sumatera Utara dan dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Mandailing Natal. Di Jawa, dilansir dari Detik, aktivitas kegempaan Gunung Merapi pada (30/8) juga masih menjadi bagian dari pemantauan aktivitas vulkanik.
Berbagai kejadian tersebut kembali mengingatkan kita pada posisi Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Kawasan ini dikenal memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik tinggi, tetapi keberadaan Indonesia di jalur tersebut tidak berarti setiap gempa yang terjadi di wilayah berbeda memiliki hubungan langsung satu sama lain.
Sebagai orang yang telah belasan tahun mempelajari Geologi, saya melihat gempa perlu dipahami dari proses yang terjadi di dalam Bumi sekaligus dari kondisi ruang tempat manusia hidup. Sebab, gempa merupakan proses alamiah, sedangkan bencana yang ditimbulkannya dapat diperbesar oleh kerentanan yang terbentuk dari cara manusia menata ruang dan membangun kota.
Baca juga: Rakyat Berduka karena Bencana, Istana Sibuk Berpesta
Gempa dalam Kacamata Geologi
Dalam keseharian, kita terbiasa menyebut gempa Bumi sebagai “bencana alam”. Istilah ini dapat membuat gempa dipahami semata sebagai kehendak alam yang tidak terelakkan. Padahal proses Geologi dan dampaknya perlu dibedakan agar kita tidak keliru melihat sumber risiko.
Dalam ilmu Geologi, gempa Bumi didefinisikan sebagai getaran atau guncangan di permukaan Bumi yang disebabkan oleh pelepasan energi secara tiba-tiba dari dalam kerak Bumi atau litosfer. Energi tersebut merambat dalam bentuk gelombang seismik dan dapat direkam oleh seismograf, sedangkan titik awal pecahnya batuan disebut hiposenter dan titik di permukaan tepat di atasnya disebut episenter.
Pelepasan energi ini umumnya berkaitan dengan pergeseran lempeng tektonik dan pergerakan pada bidang patahan. Gempa juga dapat berkaitan dengan aktivitas vulkanik, sedangkan dalam kondisi tertentu aktivitas manusia dapat memicu gempa terinduksi.
Semua proses tersebut merupakan bagian dari dinamika Bumi. Persoalan muncul ketika guncangan berinteraksi dengan lanskap yang telah diubah manusia, mulai dari permukiman, infrastruktur, hingga kegiatan industri yang tidak memperhitungkan karakter Geologi dan kondisi lingkungan suatu wilayah.
Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan bangunan, tetapi dapat memicu longsor, perubahan aliran air, kerusakan ekosistem, hingga gangguan terhadap kehidupan masyarakat dalam waktu yang lebih panjang.
Gempa karena itu tidak cukup dibaca hanya sebagai getaran batuan. Ia juga perlu dilihat sebagai bagian dari rangkaian perubahan yang mempertemukan proses Geologi, kondisi lingkungan, dan aktivitas manusia.
Baca juga: #HororPanasBumi di Mataloko: Suara Para Mama Menolak Perut Bumi Dilubangi
Hati-hati Pakai Istilah Bencana Alam
Istilah “bencana alam” perlu dibaca secara lebih hati-hati karena gempa merupakan natural hazard atau bahaya alam, sedangkan bencana muncul ketika bahaya tersebut bertemu dengan paparan dan kerentanan tertentu. Kerentanan tersebut dapat terbentuk dari cara manusia membangun, menggunakan lahan, serta mengelola lingkungan.
United Nations University Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS) dalam artikel “5 Reasons Why Disasters Are Not Natural” menjelaskan lima alasan untuk tidak melihat bencana sebagai sesuatu yang sepenuhnya natural. Salah satunya berkaitan dengan kondisi sosial dan lingkungan yang dapat membuat masyarakat lebih rentan terhadap bahaya alam.
Pandangan tersebut sejalan dengan kampanye “No Natural Disasters” yang diserukan United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR). Kampanye tersebut menekankan hubungan antara bahaya, paparan, dan kerentanan dalam memahami mengapa suatu peristiwa alam dapat berkembang menjadi bencana.
Bagi saya sebagai orang yang belajar Geologi, pembedaan ini penting karena kondisi batuan, struktur Geologi, bentuk muka Bumi, dan tata ruang saling berhubungan dengan risiko yang dihadapi manusia. Besarnya magnitudo memang penting, tetapi angka tersebut bukan satu-satunya faktor yang menentukan dampak sebuah gempa.
Alik Ismail-Zadeh dalam artikel Earthquakes yes, disasters no (2024) yang diterbitkan di npj Natural Hazards membahas hubungan antara dinamika litosfer, bahaya seismik, bahaya yang dipicu gempa, kerentanan, ketangguhan, dan komunikasi risiko. Penelitian tersebut memperlihatkan pentingnya membedakan gempa sebagai bahaya geofisik dengan bencana yang muncul ketika bahaya tersebut berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan yang rentan.
Hubungan antara kondisi Geologi dan keputusan pembangunan dapat dilihat dalam rencana tambang seng di Dairi, Sumatera Utara. Konsesi tambang tersebut berada di atas lereng curam yang terletak di jalur patahan aktif, sehingga kondisi Geologi kawasan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan risiko.
Kawasan hulu tersebut memasok air bagi sejumlah desa dan merupakan hulu Sungai Sembelin dan Alas yang mengalir hingga Aceh. Risiko terhadap struktur tambang akibat gempa atau longsoran karena itu tidak hanya berkaitan dengan fasilitas di lokasi tambang, tetapi juga dapat berdampak pada aliran air, pertanian, perikanan, dan sumber air bersih di wilayah yang lebih luas.
Kasus tersebut memperlihatkan bagaimana bahaya Geologi dapat bertemu dengan keputusan pembangunan. Ketika aktivitas industri berada di wilayah dengan karakter Geologi dan tingkat risiko tertentu, gempa dapat menjadi pemicu bagi rangkaian dampak lain seperti longsor, kerusakan struktur, perubahan aliran air, dan gangguan terhadap ekosistem.
Hubungan manusia dengan gempa bahkan tidak selalu berhenti pada posisi manusia sebagai pihak yang menerima dampak. Dalam kondisi tertentu, aktivitas manusia juga dapat memengaruhi sistem Geologi dan memicu gempa terinduksi.
Rohini Subrahmanyam dalam artikel “Human-caused earthquakes are real. Here’s why even stable regions can snap“ (2025) yang diterbitkan Science News membahas sejumlah contoh gempa terinduksi, termasuk gempa bermagnitudo 3,6 di Huizinge, Belanda, pada 2012 yang dikaitkan dengan ekstraksi gas di ladang Groningen, serta gempa bermagnitudo 5,4 di Pohang, Korea Selatan, pada 2017 yang kemudian dikaitkan dengan proyek panas bumi. Contoh tersebut menunjukkan aktivitas manusia dalam kondisi tertentu dapat mengubah kondisi pada patahan dan memicu gempa di wilayah yang secara tektonik relatif stabil.
Temuan mengenai gempa terinduksi tentu tidak berarti setiap gempa merupakan akibat aktivitas manusia. Sebagian besar gempa tektonik tetap merupakan bagian dari dinamika alami litosfer, sehingga penyebab gempa, faktor yang memperbesar dampak, dan kondisi yang membuat bahaya berkembang menjadi bencana perlu dibedakan.
Pembedaan tersebut justru membuat pembahasan gempa menjadi lebih presisi. Manusia tidak menciptakan setiap gempa, tetapi manusia dapat menentukan seberapa rentan sebuah wilayah ketika gempa terjadi dan, dalam kondisi tertentu, aktivitas manusia juga dapat ikut memengaruhi sistem Geologi.
Baca juga: Di Balik Tarik Ulur Negara Tetapkan Status Bencana Nasional Sumatera
Menata Ulang Relasi Manusia dengan Bumi
Sebagai geolog, saya melihat tanah, batuan, dan patahan sebagai bagian dari sistem Bumi yang terus bergerak dan berubah. Gempa merupakan salah satu proses di dalamnya, sementara dampak yang ditimbulkan turut dipengaruhi kondisi lingkungan dan cara manusia menempati serta mengelola ruang.
Menyebutnya sebagai “bencana ekologis” bukan sekadar mengganti istilah “bencana alam”. Cara pandang ini membantu melihat bagaimana proses Geologi beririsan dengan pembangunan, tata ruang, kondisi masyarakat, dan perubahan lingkungan dalam membentuk risiko.
Dari perspektif Geologi, hubungan tersebut penting karena proses yang berlangsung di bawah permukaan selalu berpengaruh terhadap kehidupan di atasnya. Pergerakan lempeng, patahan, karakter batuan, air bawah tanah, kemiringan lereng, hingga bentuk muka Bumi menjadi faktor yang perlu diperhitungkan ketika manusia menentukan fungsi suatu wilayah.
Karena itu, mitigasi tidak seharusnya baru dimulai setelah gempa terjadi. Pemetaan kawasan rawan, tata ruang berbasis risiko, pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan kondisi Geologi, kesiapsiagaan masyarakat, serta pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memperbesar kerentanan perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko sejak awal.
Memasuki era Antroposen, pengaruh aktivitas manusia terhadap sistem Bumi semakin besar. Pembangunan, pemanfaatan sumber daya, dan penempatan permukiman selalu berhadapan dengan karakter Geologi serta kondisi ekologis wilayah yang ditempati.
Karena itu, pertimbangan ekonomi dalam pembangunan perlu berjalan bersama pemahaman terhadap kondisi Geologi dan risiko ekologis. Bumi perlu dibaca sebagai satu sistem yang mempertemukan batuan, air, bentang alam, karbon, dan kehidupan, sehingga keputusan yang diambil manusia tidak justru memperbesar risiko bagi dirinya sendiri.
Bumi akan terus bergerak melalui proses Geologinya, dan manusia tidak memiliki kendali untuk menghentikan gempa. Yang dapat dilakukan adalah memahami karakter wilayah, menentukan cara membangun yang lebih aman, dan mengurangi kerentanan yang muncul dari keputusan manusia sendiri.
Membaca gempa sebagai bencana ekologis bukan berarti mengingkari sifat alaminya. Sebaliknya, cara pandang ini menempatkan proses Geologi dan aktivitas manusia dalam satu kerangka agar mitigasi tidak berhenti pada upaya menghadapi guncangan, tetapi juga dimulai dari cara manusia memahami dan memperlakukan Bumi.
Ario Arief Iswandhani adalah mahasiswa S2 Teknik Geologi Universitas Trisakti. Geology is always deep in his heart, dan ia percaya selalu ada hal menarik untuk dipelajari dari Bumi yang kita pijak.




















