Dari Bersuara hingga Bagi Logistik, Peran Perempuan dalam Aksi 27 Agustus
Foto: Allaam Faadhilah/Magdalene
Olivia, Tata, dan Imelda menyaksikan massa aksi di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, (27/8). Beberapa lingkaran terbentuk dengan orator di tengahnya, sementara plastik berisi logistik diletakkan di trotoar dan dibagi-bagikan oleh relawan. Banner dan poster bernada kritik terhadap program pemerintah turut diangkat di tengah massa.
Pemandangan ini tak asing bagi mereka karena ketiganya sudah mengikuti aksi sejak 1998. “Kami ikut aksi sudah dari 1998, dulu masih mahasiswa, sampai sekarang sudah jadi ibu-ibu, masih tetap di sini. Yang didemo dia, dia lagi dari dulu,” ujar Tata kepada Magdalene sebelum akhirnya meneriakkan umpatan untuk pemerintah.
Masih lekat di ingatan ketiganya pengunduran diri Presiden Soeharto pada 1998. Kini, mereka mengekspresikan keresahan atas kebijakan Presiden Prabowo Subianto, menantu Soeharto. Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu program Prabowo yang mereka kritik, terlebih setelah temuan benda yang diduga peluru senapan di daging MBG membuat Olivia muak dengan program tersebut.
Melansir Kompas.com, kasus tersebut terjadi kepada murid kelas 5 SD Negeri 3 Sindangsari, Kabupaten Lampung Utara. Guru sekolah membuat video dan meminta pertanggungjawaban Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atas peluru yang ditemukan muridnya di daging MBG.
“Sampai di daging ada peluru, ‘kok sadis banget? itu kan berarti enggak dicek, enggak ada quality control-nya, itu yang bikin kita, ini sudah enggak benar, rezim ini sangat merugikan masyarakat,” kata Olivia.
Menyaksikan beragam kenyataan pahit yang diakibatkan program pemerintah, Imelda meyakini program dan kebijakan dibuat bukan untuk kebaikan masyarakat, melainkan bagi-bagi kue para pejabat. Absennya evaluasi pada setiap program dan kebijakan membuatnya skeptis terhadap pemerintah.
“Terlihat banget dia ini hanya ingin jadi Presiden tapi enggak mau memperbaiki negara,” pungkas Imelda. “Cita-citanya mungkin jadi Presiden, tapi bukan jadi pemimpin. Kita muak,” timpal Tata.
Menyuarakan keresahan terhadap pemerintah seperti Olivia, Tata, dan Imelda menjadi salah satu bentuk partisipasi dalam aksi. Namun, kontribusi perempuan dalam aksi massa juga hadir melalui peran lain, mulai dari menyediakan logistik dan perlengkapan medis hingga menjaga kebersihan area aksi.
Baca juga: Siapa Saja Massa yang Turun Aksi Hari ini di DPR dan Apa Tuntutannya?
Logistik
Tak jauh dari Olivia, Tata, dan Imelda, relawan Nadi Perempuan sedang duduk di trotoar. Ada yang sedang ngobrol, minum, hingga makan es krim setelah selesai membagikan logistik berupa air mineral dan makanan kepada peserta aksi. Mereka juga siap memberikan obat dan oksigen jika dibutuhkan.
Tim relawan yang bertugas membagikan logistik dan perlengkapan medis tersebut baru dibentuk 24 jam sebelum aksi digelar. Sebanyak 35 orang baru bertemu satu sama lain saat aksi berlangsung dan mengenakan baju pink agar peserta aksi dapat mengenali mereka sebagai relawan logistik dan peralatan medis.
“Jadi setiap orang lewat kayak, ‘itu apa ya? oh ternyata tim logistik’. Terus sambil nanya logistik, mereka bertanya ada hansaplast enggak, ada betadine enggak, kayak gitu,” ujar Nanda, koordinator tim logistik Nadi Perempuan.
Barang-barang yang dibagikan, jelas Nanda, berasal dari donasi yang mereka buka. Beberapa warga yang melintas juga “menitipkan rezeki” kepada Nadi Perempuan untuk dibagikan, sehingga terkumpul makanan seperti roti, lontong, dan permes, serta air mineral. Obat-obatan seperti pembersih luka, obat lambung, dan paracetamol, serta oksigen juga diberikan kepada massa.
“Terkumpul Rp2.187.000, uangnya dialokasikan tadi buat transportasi kita ke sini, tadi kita naik angkot, turun di depan GBK, terus juga buat beli alat medis kayak oksigen dan obat-obatan, buat cetak poster,” ungkap Nanda.
“Masih ada sisa uang yang belum dialokasikan, uangnya nanti kita akan beli logistik lagi buat sore dan malam, terus juga ada donasi dari warga Threads yang nitip mineral dan roti, tapi paling banyak mineral,” tambahnya.
Meski beberapa anggota menduga diintimidasi karena ditelepon nomor tidak dikenal berkali-kali, Nadi Perempuan tetap hadir dalam aksi. Nanda mengatakan suara perempuan penting dalam aksi massa karena perempuan dapat turun ke jalan dan menentukan sendiri bentuk kontribusinya. Bagi mereka yang belum berani hadir langsung, dukungan juga dapat diberikan melalui dunia maya.
“Walaupun ada yang belum berani untuk aksi dia bisa bantu dari rumah, dia bisa bantu kita dari media sosial entah itu repost postingan kita, sebar link, dan yang lain-lain lah,” terangnya.
Baca juga: RUU Perampasan Aset Jadi Tuntutan Demo 27 Agustus, Kenapa Tuai Kritik
Menjaga Lingkungan
Ketika Magdalene sedang mewawancarai Nanda, Galuh dan Khusna lewat sambil memungut botol plastik yang berserakan. Masing-masing membawa kantong sampah besar berwarna hitam dan memasukkan bungkus makanan serta botol air mineral ke dalamnya.
Sebelumnya, mereka juga membagikan makanan dan air mineral hasil kolaborasi dengan Dapur Umum Jakarta yang dibuat oleh chef Natasha untuk mendukung logistik aksi massa. Untuk mengambil bagian dalam aksi, mereka mengambil cuti dari kantor dan datang bersama rekan-rekan perempuan lainnya.
“Kita cuti hari ini, sama bos-bosnya pada ikut, jadi berdelapan cewek semua lah,” ujar Galuh kepada Magdalene. Turun ke jalan sebenarnya sudah lama direncanakan karena mereka membicarakannya di kantor dan memutuskan untuk berkontribusi dengan memungut sampah serta membagikan logistik.
“Sebenarnya ini big step buat kita, karena kita enggak pernah berani untuk demo sebelumnya, cuma karena kita sudah panas, dan merasa sudah ada yang harus berubah, jadi kita ikut turun, dan karena kita enggak berani sampai depan, ya this is the least that we can do,” lanjutnya.
Baca juga: ‘Pati Pulang Dulu’: AMPB Pulang Bawa Komitmen RUU Perampasan Aset
Sebagai bagian dari masyarakat, Galuh dan Khusna merasa perlu menyuarakan keresahan. Menurut mereka, pejabat dipercaya untuk memenuhi standar hidup masyarakat, sementara kewajiban tersebut belum dapat dirasakan sepenuhnya. Karena itu, meski tak mengikuti aksi di barisan depan, mereka memilih mengambil peran melalui pembagian logistik dan menjaga kebersihan ruang aksi.
“Semakin banyak kita bersuara, ramai-ramai kita bersuara akan semakin banyak juga perubahan-perubahan,” kata Khusna. “Intinya, menyuarakan boleh, mempunyai aspirasi boleh, orasi boleh, tapi harus jaga lingkungan juga, karena kan ini tempat kita tinggal, tempat kita nyari uang, tempat kita hidup sehari-hari,” timpal Galuh.




















