11/07/2026
Issues Opini

Pak Menteri, Dapur Sudah Lama Ajarkan Hemat Energi

Perempuan sudah lama mempraktikkan hemat energi dan air di dapur. Yang dibutuhkan bukan nasihat banal, melainkan kebijakan energi yang masuk akal.

  • April 6, 2026
  • 4 min read
  • 1253 Views
Pak Menteri, Dapur Sudah Lama Ajarkan Hemat Energi

Wak Iris, petugas kebersihan di kantor kami, suatu pagi datang terlambat. Tidak seperti biasanya. Pertanyaan yang datang dari kawan-kawan nyaris serupa: “Kok kesiangan, Wak? Lupa matiin kompor?” Tawa kami pecah. Si Uwak malah tertawa paling kencang.

Pertanyaan itu terdengar seperti lelucon, tapi sesungguhnya ia menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar canda pagi hari. Semacam kesadaran kolektif bahwa mematikan kompor setelah masak adalah hal yang sudah sangat, sangat lama dilakukan. Bukan sesuatu yang perlu diingatkan. Apalagi oleh negara dan lewat konferensi pers.

Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia tentang hemat energi dari dapur memang sudah lewat dari siklus ramai media sosial. Tapi yang mengganggu bukan semata isi ucapannya. Yang tertinggal adalah cara pandangnya. Bagaimana rumah tangga dibayangkan sebagai ruang yang perlu diberi penyuluhan dasar, dan perempuan dilihat sebagai orang yang baru kemarin kenal kompor.

Baca juga: Wacana WFH Seminggu Sekali: Benarkah Bisa Hemat Stok BBM?

Padahal, kalau ada satu tempat yang sejak lama memahami logika efisiensi, itu justru dapur.

Ketika Bahlil mengingatkan publik untuk mematikan kompor LPG setelah masakan matang, perempuan-perempuan di dapur se-Indonesia mungkin sedang melakukan persis hal itu. Sambil juga mengukus dua masakan sekaligus dalam satu dandang, memanfaatkan sisa panas kompor untuk mengeringkan lap dapur, dan memikirkan menu makan malam dari sisa lauk siang.

Di rumah kami, hemat energi tumbuh dari kebiasaan yang sangat biasa: memasak sekaligus untuk beberapa kali makan. Nasi dimasak sekali saja, cukup untuk siang sampai malam. Lauk disiapkan untuk waktu makan yang lebih panjang. Gulai rebung atau gulai nangka muda dimasak pagi, kadang cukup sampai esok hari.

Bukan karena tidak tahu nikmatnya makanan hangat yang baru matang. Tapi karena dapur selalu mengerti satu hal: tenaga, waktu, dan bahan bakar harus dihemat. Itu bukan teori, tapi kebiasaan. Pelajaran yang diajarkan nenek dan mamak jauh sebelum negara datang dengan nasihat hemat energi.

Satu sumber api sudah lama dipakai untuk lebih dari satu kebutuhan. Dandang kukusan diisi dua atau tiga jenis masakan sekaligus. Kayu bakar yang belum habis diselamatkan, ditarik dari tungku, diperciki air agar api mati, disimpan untuk nanti. Sisa hangat kompor dimanfaatkan untuk mengeringkan kain lap yang baru dicuci. Bahkan dari dapur lahir inovasi yang sangat praktis: teknik 5-30-7 untuk memasak kacang hijau — rebus 5 menit, diamkan tertutup 30 menit, rebus lagi 7 menit. Hemat gas, hasil tetap empuk. Anak-anak kos gen Z pun hafal teknik ini.

Baca juga: Memilih Menahan Rindu, Cerita Mereka yang Tak Mudik karena Ekonomi Lesu

Lucy J. Havard, dalam artikelnya “‘Almost to Candy Height:’ Knowledge-Making in the Early Modern Kitchen, 1700–1850” (Cultural and Social History, 2022), menyebut dapur sebagai ruang penting bagi lahirnya pengetahuan. Jadi, kalau pejabat ingin bicara tentang hemat energi, ada baiknya belajar dulu dari dapur. Karena nenek-nenek kita sudah tahu itu jauh sebelum jurnal akademik mana pun menuliskannya.

Bukan hanya energi, air pun diperlakukan dengan logika serupa. Saya teringat pengalaman di rumah Bu Sabrina, perempuan pertama yang menjadi sekretaris di Sumatera Utara. Menjelang salat zuhur, beliau mengingatkan agar air keran bekas wudu ditampung, bukan dibuang begitu saja. Air itu nanti bisa dipakai lagi untuk merendam pakaian kotor atau menyiram tanaman. Ia bilang, kebiasaan itu diajarkan neneknya dulu.

Di banyak rumah, hal itu bukan sesuatu yang aneh. Air cucian beras disimpan untuk menyiram tanaman atau keperluan lain. Air yang masih layak pakai dipakai lagi. Bukan karena ada slogan penyelamatan bumi, melainkan karena sejak dulu rumah tangga tahu bahwa sumber daya jangan dibuang kalau masih berguna.

Baca juga: ‘Panic Buying’ BBM: Apa yang Terjadi dan Kenapa Kita Harus Tenang

Karena itu, kalau pemerintah sungguh ingin bicara tentang hemat energi, yang dibutuhkan bukan tambahan nasihat dari podium, tapi kerendahan hati. Sedikit saja. Cukup untuk mengakui bahwa perempuan, terutama dari rumah tangga biasa, sudah terlalu lama hidup dalam mode efisiensi untuk perlu diberi pelajaran level pemula.

Yang dibutuhkan perempuan bukan penjelasan tentang cara mematikan kompor. Mereka butuh kebijakan energi yang masuk akal, harga yang tidak mencekik, dan negara yang berhenti berbicara kepada mereka seperti guru taman kanak-kanak yang sedang menjelaskan fungsi sakelar.

Jadi, Pak Menteri, terima kasih untuk nasihatnya. Tetapi soal hemat energi dari dapur, perempuan sudah lama lulus. Bahkan, kalau mau jujur, mereka barangkali bisa mengajar kelasnya.

About Author

Laili Zailani

Lely adalah fasilitator pemberdayaan perempuan, pendiri HAPSARI dan Rumah Kata. Fellow Ashoka Indonesia (2000), serta penulis yang percaya bahwa cerita adalah alat perubahan.