07/07/2026
Issues Politics & Society

Ini 6 Politisi yang Mengaku Rela Mati: Hiperbola yang Sia-Sia 

Saya enggak paham mengapa politisi selalu mengaku rela mati. Bukannya hidup dari pajak rakyat cukup menyenangkan?

  • February 5, 2026
  • 7 min read
  • 1103 Views
Ini 6 Politisi yang Mengaku Rela Mati: Hiperbola yang Sia-Sia 

Saya sudah jarang melihat Presiden ke-7 Joko Widodo di media sosial. Bukan karena dia enggak pernah tampil. Dia sangat sering muncul, sampai saya tidak lagi menemukan relevansi untuk mendengarkannya mengklarifikasi tuduhan dan kasus yang menimpanya. “Paling soal ijazah,” gumam saya setiap video Jokowi muncul di reels Instagram atau FYP TikTok.  

Hingga pada (1/2), wajahnya muncul lagi di reels Instagram saya. Uniknya, latar di video ini berbeda dengan sekian banyak video lain yang saya skip. Video yang tak saya gubris biasanya menunjukkan Jokowi sedang memberikan pernyataan kepada tangan-tangan wartawan yang sedang memegang gawai.  

Kali ini, ia ada di mimbar, dengan layar besar di belakangnya memperlihatkan logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI) – iya yang gambar gajah itu. Saya yang tertarik pun akhirnya membuang beberapa detik untuk menyaksikannya. Siapa tahu ini pengumuman Jokowi jadi kader PSI?  

Tapi ternyata itu bukan pengumuman yang saya harapkan. Namun, saya tidak kecewa. Saya tetap tertawa kecil mendengar pernyataannya. Berbeda dengan biasanya, Jokowi di mimbar PSI berpidato dengan semangat. Dari segi suara sih tetap datar, tapi volumenya bertambah. Setidaknya ada perubahan. 

“Saudara bekerja mati-matian untuk PSI, saya pun akan bekerja keras, bekerja mati-matian untuk PSI,” kata Jokowi di Rakernas PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, (31/1), disambut para kader yang antusias meneriakan nama Jokowi.  

Saya tertawa karena membayangkan kampanye ‘mati-matian’ yang akan dilakukannya untuk PSI – mengingat di Pemilu 2024, saya sampai muak melihat baliho PSI dengan slogan ‘Jokowisme’ di mana-mana, dan mereka tetap tak masuk parlemen. Namun, saya bertanya-tanya: Kenapa ya politisi senang pakai diksi hiperbola seperti ‘mati-matian’? 

Jujur saja, pidato berapi-api dengan narasi rela mati bukan inovasi Jokowi. Yang seperti ini sudah banyak ditemukan. Just in case kamu enggak percaya, berikut adalah lima politisi lain yang pernah mengaku rela mati selain Jokowi! 

Baca juga: #JanDump: 6 Kontroversi Selama Januari 2026 

Kaesang Pangarep  

Enggak mau kalah dari bapaknya, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep enggak main-main dalam pidato di Rakernas PSI. Dia bahkan menangis dan mengaku tidak kuat membacakan pidato tersebut. Namun pada akhirnya, ia tetap berpidato dan mengatakan siap menguras semua darah di tubuhnya untuk partai berlogo gajah itu.  

“Tadi saya lihat sebelum pidato saya yang sebelumnya, ada yang mau kerja keras, ada yang mau mati-matian, ada yang mau habis-habisan,” tuturnya, dilansir dari Kompas.com

“Kalau saya sebagai Ketua Umum, saya akan peras semua darah saya untuk memenangkan PSI. Siap semua? Mari kita menangkan pemilu di 2029 nanti,” lanjut Kaesang dengan mata berapi-api dan volume yang cukup tinggi.  

Ternyata benar, buah tak jatuh jauh dari bayangan pohonnya…  

Immanuel Ebenezer 

Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan yang diduga melakukan pemerasan dalam proses pengurusan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ini sedang menjalani proses hukum. Selain membocorkan inisial pihak-pihak yang punya andil dalam kasusnya, Immanuel Ebenezer Gerungan atau Noel mengaku rela divonis mati jika ia terbukti melakukan pemerasan.  

Orang yang sering mengeklaim diri sebagai mantan aktivis ini, menyampaikan kesungguhannya sebelum sidang pemeriksaan saksi kasus tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.  

“Kalau saya sih sudah berharap satu. Harapan saya, hukum mati saya. Karena saya (berkomitmen) terhadap isu ini, terkait dengan hukuman mati. Tapi jika tidak, hukum saya seringan-ringannya,” kata Noel, (26/1), dilansir dari Tempo.co

Sebentar, kenapa Noel tetap minta dihukum walau tidak terbukti bersalah? Saya masih belum paham kerangka berpikirnya.  

Baca juga: Tokoh-tokoh dalam Epstein File: Dari Trump sampai Pangeran Andrew, Adakah Orang Indonesia? 

Anas Urbaningrum  

Saya masih terlalu muda untuk memerdulikan politik praktis ketika kasus Anas Urbaningrum terjadi. Namun, mendengar pernyataan ‘rela mati’ yang ia ucapkan setelah lebih dari satu dekade kemudian, tetap membuat saya tertawa.   

Pada 2011, mantan Bendahara Partai Demokrat M Nazaruddin mengatakan Anas terlibat dalam proyek wisma atlet Sea Games di Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. Anas pun berlindung dengan janji yang bombastis.

“Saya yakin. Yakin. Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas,” kata Anas Jumat (9/3/2012), dilansir dari Kompas.com.  

Ia pun terbukti terlibat dalam korupsi dan pencucian uang terkait proyek Hambalang dan proyek APBN lainnya pada 2013. Pada awal 2014, ia menjalani masa hukuman di penjara. Anas sebenarnya divonis 14 tahun penjara. Namun, diskon demi diskon membuat hukumannya berkurang jadi delapan tahun.  

Setelah keluar dari penjara pada 2023, ia mendirikan Partai Kebangkitan Nusantara (PKN). Anas tidak menggantung dirinya di Monumen Nasional karena merasa dijebak. Dia masih kekeuh tidak korupsi. Saya bukan orang yang setuju dengan hukuman mati, tapi apa rasanya mengingkari janji yang dibikin sendiri? Hadeh, Mas Anas, Mas Anas…  

Bahlil Lahadalia  

Masih ingat momen tabung gas subsidi dihilangkan dari pasaran? Momen-momen yang indah ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia diteriaki, “Jangan ganggu kemiskinan kami.”  

Ketua umum Partai Golkar itu mengaku bertanggung-jawab atas hilangnya gas melon dari pasar. Tujuannya, terang Bahlil, adalah efisiensi agar BBM subsidi tepat sasaran. Dia mengaku kebijakan itu tidak populer, tetapi tetap diambil karena Bahlil rela berkorban demi hak rakyat. 

“Saya tahu ini adalah keputusan yang tidak populer bagi saya, tapi untuk memastikan hak-hak rakyat mendapat dari apa yang negara berikan. Maka jangankan popularitas, nyawa pun saya siap berikan untuk rakyat, bangsa, dan negara,” ucap Menteri dengan kinerja terburuk versi survei CELIOS, dilansir dari Republika.com.  

Saya tidak tahu bagaimana cara menguji pernyataan tersebut. Mungkin bisa dimulai dari mengorbankan jabatan terlebih dahulu?  

Prabowo Subianto  

Jabatannya di kasus penculikan aktivis 1998 cukup seram: Panglima Komando Cadangan Strategis (Kostrad). Sekarang jabatan Prabowo Subianto lebih seram lagi: Presiden Republik Indonesia. Jangankan “mengamankan” aktivis dan empat kali ikut Pemilihan Presiden yang makan banyak biaya, Prabowo mengaku rela memberikan nyawanya untuk Indonesia.  

Tekad itu disampaikan dalam pidatonya usai melihat penyerahan uang hasil denda atas pelanggaran administratif kawasan hutan di Gedung Bundar Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta Selatan, Rabu (24/12/2025). Menyatakan niat memberantas korupsi, ia bilang mati untuk rakyat Indonesia adalah sebuah kehormatan. 

“Saya akan mati untuk rakyat Indonesia. Bagi saya, mati untuk rakyat, kehormatan bagi saya,” ungkapnya.  

Sama seperti pernyataan Bahlil, Saya enggak paham cara menguji pernyataan Prabowo. Mungkin bisa dimulai dengan menggelar pengadilan HAM untuk tragedi 1998? Atau mungkin meninggalkan istilah ‘antek asing’ untuk menanggapi kritik? Mungkin tidak terlalu bergantung pada Amerika Serikat untuk urusan luar negeri terkait Palestina?  

Terlalu banyak kata ‘mungkin’ dalam hidup Prabowo yang bisa dijawab sebelum ia “mati untuk rakyat.” 

Sebenarnya bisa jadi masih banyak lagi politisi yang mengaku rela mati, entah untuk partai, negara, atau pembuktian. Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ganip Warsito misalnya pernah mengaku rela mati untuk partai berlogo banteng itu. Purnawirawan TNI ini mengatakannya setelah memutuskan menjadi kader.  

“Tanpa ragu sedikit pun (saya) siap mati untuk PDIP,” katanya pada 2022, dilansir dari Tempo.co

Saya tahu narasi rela mati ini hiperbola untuk menunjukkan kesungguhan. Nurhusnaini (2021) dalam jurnal berjudul An Analysis of Hyperbole on Jokowi Speech menjelaskan kegunaan hiperbola di pidato politik. Majas ini, tulisnya, berguna untuk menunjukkan kepercayaan diri atau menyetir sentimen terhadap isu, ide, atau orang.  

Hiperbola dapat dilihat sebagai bentuk persuasi untuk meyakinkan audiens. Sementara, Tahir dan Mahmood (2025) dalam jurnal berjudul Exploring Hyperbole in War Discourse: Netanyahu’s Speech as a Sample Exploring, menuliskan hiperbola dapat menggugah emosi audiens. Selain itu, majas ini juga memberikan kesan dramatis yang mudah diingat oleh pendengarnya.  

Jujur saja, saya sih tidak pernah mengharapkan kematian para politisi secara serius. Mendengar mereka rela mati, saya justru lebih menginginkan mereka hidup. Iya, hidup dan bertanggung jawab di dunia sebelum ditagih di akhirat.  

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.