27/07/2026
Issues

5 Artikel Pilihan: Review Film ‘Obsession’, Latsarmil Calon Manajer Kopdes, hingga Lagu Seksis Bupati Purwakarta

Redaksi Magdalene merangkum lima berita pilihan untuk pekan ini mulai dari review film ‘Obsession’, hingga lagu seksis Bupati Purwakarta.

  • July 3, 2026
  • 3 min read
  • 513 Views
5 Artikel Pilihan: Review Film ‘Obsession’, Latsarmil Calon Manajer Kopdes, hingga Lagu Seksis Bupati Purwakarta

1.  Horornya ‘Laki-laki Baik’ yang Bucin dan Kebiasaan Kita Menyalahkan ‘Cegil’

Peringatan: Artikel ini mengandung kekerasan dan spoiler

“Apa sih yang salah dengan jadi pacarku?”

Dialog tersebut bukan sekadar ungkapan patah hati, melainkan gambaran konflik dalam Obsession (2025). Secara garis besar, film ini bercerita tentang Bear (Michael Johnston), pegawai toko musik yang terpikat pada Nikki (Inde Navarette), temannya. Namun, ia terlalu takut ditolak.

Dalam Obsession, sutradara Curry Barker mengemas horor sebagai metafora obsesi laki-laki, dalam hubungan codependent dan perilaku mendominasi. 

Baca artikel selengkapnya di sini

2.  3 Alasan Latsarmil Calon Manajer Kopdes Keliru dan Enggak Perlu

Belakangan, pelatihan dasar kemiliteran (latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi topik yang ramai diperbincangkan di media sosial. Perbincangan itu semakin memanas setelah lima calon manajer KDMP dinyatakan meninggal dunia saat mengikuti pelatihan. Melansir BBC Indonesia, mereka adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Ramadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari.

Peristiwa tersebut memicu kritik dari berbagai pihak. Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan melalui rilis yang dikirimkan kepada Magdalene (1/7) menyebut kematian lima calon manajer KDMP merupakan konsekuensi serius dari kebijakan yang serampangan. Menurut koalisi, pendekatan militer dipaksakan masuk ke ruang sipil tanpa kebutuhan maupun relevansi yang jelas.

Baca artikel selengkapnya di sini.  

3.Lagu Bupati Purwakarta: Cermin Dangkalnya Pemahaman Gender Pejabat Kita

Akhir-akhir ini menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) terasa melelahkan, dan saya bukan satu-satunya yang merasakannya. Ungkapan lelah menjadi WNI ramai dibicarakan di media sosial, bahkan berkembang menjadi lelucon dan meme. Kekecewaan publik dipicu beragam persoalan sosial politik, mulai dari isu pajak, Makan Bergizi Gratis (MBG), krisis iklim, biaya pendidikan yang terus meningkat, hingga berbagai persoalan yang kerap diselesaikan melalui pendekatan militeristik.

Di tengah perbincangan tersebut, publik kembali dibuat geleng kepala oleh lagu ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein. Lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat memicu kritik karena liriknya dinilai misoginis dan menjadikan pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi, kehamilan, melahirkan, hingga keguguran, sebagai punchline untuk menegaskan betapa “enaknya” menjadi laki-laki. 

Simak artikelnya di sini

4.Yang Perlu Dikawal dalam Revisi UU HAM: Pelemahan Hak Sipil hingga Hak Kelompok Rentan

Pemerintah tengah menggodok revisi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM) yang masuk dalam Program Legislasi Nasional 2026. Melansir Detik, Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (WamenHAM) Mugiyanto mengatakan UU HAM saat ini sudah tidak lagi memadai, sehingga perlu direvisi.

“Alasan mengapa undang-undang hak asasi manusia oleh pemerintahan Pak Prabowo hari ini perlu kita revisi, tentu saja karena memang sudah 27 tahun, lebih tua dari beberapa mahasiswa yang ada di sini,” ujar Mugiyanto di UIN Walisongo (21/5).

Baca artikel lengkapnya di sini

5. PRT Bukan Pengganti Seluruh Beban Rumah Tangga

Pagi Fitri dimulai bahkan sebelum ia benar-benar beranjak dari tempat tidur. Dalam kepalanya sudah berderet daftar yang perlu dipastikan: Persediaan susu anak, belanja mingguan, jadwal imunisasi, menu makan siang, hingga pekerjaan rumah yang harus selesai hari itu. Kehadiran pekerja rumah tangga memang meringankan banyak pekerjaan fisik, tetapi tidak serta-merta menghentikan pikirannya dari urusan domestik.

“Walaupun ada Mbak di rumah, kepala saya rasanya tidak pernah benar-benar beristirahat dari urusan rumah,” kata Fitri, 35, ibu bekerja yang mempekerjakan pekerja rumah tangga (PRT) yang tinggal bersamanya.

Baca artikel selengkapnya di sini

About Author

Magdalene

.