21/07/2026
Issues Opini

Saat Kekalahan di Lapangan Dibawa Pulang ke Rumah

Olahraga adalah ruang sportivitas dan kebanggaan bersama, namun juga dapat merawat agresi dan maskulinitas toksik yang berdampak pada keselamatan perempuan dan kelompok rentan.

  • July 21, 2026
  • 6 min read
  • 61 Views
Saat Kekalahan di Lapangan Dibawa Pulang ke Rumah

Olahraga sering dirayakan sebagai ruang sportivitas, kesehatan, hiburan, dan kebanggaan bersama. Dalam sepak bola, misalnya, kita bisa melihat bagaimana satu pertandingan menyatukan orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal. Mereka memakai warna yang sama, menyanyikan lagu yang sama, dan menaruh harapan pada tim yang sama.

Namun, di balik euforia itu, ada sisi yang jarang dibicarakan dengan serius: bagaimana olahraga, terutama yang sarat rivalitas dan kontak fisik, dapat menjadi ruang yang ikut merawat agresi dan maskulinitas toksik.

Masalahnya bukan pada sepak bola atau olahraga itu sendiri. Masalahnya muncul ketika keberanian disamakan dengan kekerasan, loyalitas dibuktikan lewat amarah, dan kekalahan dianggap sebagai penghinaan terhadap harga diri. Di titik itu, pertandingan tidak lagi hanya menjadi permainan. Ia berubah menjadi panggung pembuktian maskulinitas.

Di lapangan, benturan tubuh, dorongan untuk menaklukkan lawan, dan kemampuan menahan sakit sering dipuja sebagai tanda “mental juara”. Di tribun, teriakan, makian, provokasi, dan kebencian kepada lawan kerap dianggap bagian dari fanatisme yang wajar. Padahal, emosi yang terus-menerus diberi ruang untuk meledak tidak selalu berhenti ketika peluit panjang dibunyikan.

Dalam turnamen besar seperti Piala Dunia, relasi antara sepak bola, emosi kolektif, dan kekerasan kembali menjadi sorotan. Di Inggris, riset Stuart Kirby, Brian Francis, dan Rosalie O’Flaherty yang terbit pada 2014 menemukan laporan kekerasan dalam rumah tangga meningkat 38 persen ketika tim nasional Inggris kalah dalam pertandingan Piala Dunia. Bahkan ketika Inggris menang atau seri, laporan tetap naik 26 persen.

Angka ini tidak berarti sepak bola secara otomatis “menyebabkan” kekerasan terhadap pasangan. Kekerasan dalam rumah tangga berakar pada relasi kuasa, kontrol, dan ketimpangan gender yang jauh lebih dalam. Namun, pertandingan besar dapat menjadi pemicu yang memperlihatkan pola tersebut dengan lebih jelas: amarah, alkohol, kekecewaan, dan harga diri maskulin yang terluka bisa bertemu dalam situasi yang sangat berbahaya bagi perempuan di rumah.

Fenomena ini penting dibaca bukan sebagai serangan terhadap olahraga, melainkan sebagai kritik terhadap budaya yang membungkus agresi laki-laki sebagai sesuatu yang wajar. Kita terlalu sering mendengar alasan seperti “namanya juga suporter”, “lagi emosi”, atau “terbawa suasana pertandingan”. Padahal, alasan-alasan semacam itu dapat mengaburkan fakta bahwa ada orang lain yang menanggung dampaknya.

Di Indonesia, kita juga akrab dengan wajah gelap fanatisme sepak bola. Kerusuhan antarsuporter, intimidasi di sekitar stadion, dan kekerasan setelah pertandingan bukan hal baru. Tragedi Kanjuruhan pada 2022 menjadi pengingat paling kelam tentang bagaimana pertandingan sepak bola dapat berubah menjadi bencana kemanusiaan ketika emosi massa bertemu dengan kegagalan pengamanan. Dalam tragedi itu, 131 orang meninggal dunia.

Tentu, Kanjuruhan tidak bisa direduksi semata-mata sebagai persoalan maskulinitas toksik. Ada kegagalan prosedur, tata kelola pertandingan, penggunaan gas air mata, dan tanggung jawab aparat yang harus terus diingat. Namun, tragedi itu tetap menunjukkan bahwa ekosistem sepak bola kita belum sepenuhnya aman ketika kekalahan, kemarahan, dan logika pengendalian massa bercampur dalam ruang yang padat dan emosional.

Dalam situasi seperti itu, perempuan dan kelompok rentan sering berada dalam posisi lebih tidak aman. Kita pernah melihat laporan pelecehan terhadap jurnalis perempuan dalam konteks kerumunan suporter. Di ruang domestik, perempuan juga berisiko menjadi sasaran pelampiasan setelah pertandingan, terutama ketika kekalahan dibaca bukan sebagai hasil permainan, melainkan sebagai luka terhadap ego.

Baca juga: Perempuan di Keriuhan Nobar Bola dan Piala Dunia

Maskulinitas yang perlu kita ubah

Untuk memahami pola ini, kita perlu melihat bagaimana maskulinitas dibentuk dalam budaya olahraga. Sosiolog Raewyn Connell menyebut konsep maskulinitas hegemonik: bentuk maskulinitas yang dianggap paling ideal dalam masyarakat patriarkal, yaitu laki-laki yang kuat, dominan, agresif, rasional, dan tidak menunjukkan kelemahan.

Dalam banyak cabang olahraga, gambaran seperti itu sering mendapat panggung. Sejak kecil, laki-laki diajarkan bahwa menjadi tangguh berarti tidak takut sakit, tidak mudah menangis, tidak boleh kalah, dan harus selalu siap membuktikan diri. Sosiolog olahraga Michael Messner pernah menulis bahwa olahraga terorganisasi kerap menjadi semacam ritus menuju “kedewasaan” laki-laki. Di sana, anak laki-laki belajar bahwa tubuh harus kuat, rasa takut harus ditekan, dan kemenangan menjadi ukuran harga diri.

Masalahnya, ketika standar itu dibawa terlalu jauh, kekalahan terasa seperti krisis identitas. Seorang atlet yang gagal menang bisa merasa kehilangan status. Seorang suporter yang timnya kalah bisa merasa harga dirinya ikut runtuh. Di sinilah agresi muncul sebagai cara cepat untuk memulihkan ilusi kuasa: memaki lawan, menyerang suporter lain, menghancurkan fasilitas, atau melampiaskan amarah kepada orang terdekat.

Sosiolog Eric Dunning melihat olahraga sebagai ruang yang memungkinkan orang melepas emosi secara terkendali. Dalam kondisi ideal, stadion menjadi tempat orang berteriak, bersorak, kecewa, lalu pulang dengan aman. Namun, batas antara pelepasan emosi dan kekerasan bisa menjadi kabur ketika ada tekanan kelompok, alkohol, provokasi, rivalitas panjang, dan minimnya mekanisme pengamanan serta dukungan psikologis.

Karena itu, kekerasan terkait olahraga tidak bisa dijelaskan hanya sebagai “ulah oknum” atau “suporter terlalu fanatik”. Ada budaya yang lebih besar di baliknya. Budaya yang menganggap laki-laki wajar marah besar ketika kalah. Budaya yang menertawakan laki-laki yang menunjukkan kesedihan. Budaya yang mengajarkan bahwa kecewa harus dibayar dengan ledakan.

Baca juga: Dari Ronaldo ke Dunia Kerja: Diskriminasi Usia Itu Nyata

Perubahan harus dimulai dari cara kita membicarakan olahraga. Kritik terhadap pemain, pelatih, atau tim tentu sah. Namun, cemoohan yang merendahkan, ancaman, seksisme, dan kekerasan verbal tidak boleh terus dianggap sebagai bumbu pertandingan. Klub, federasi, panitia pertandingan, media, komunitas suporter, dan aparat keamanan perlu mengakui bahwa keselamatan tidak hanya berarti mencegah kerusuhan besar, tetapi juga memastikan stadion dan ruang sekitarnya aman bagi perempuan, anak, jurnalis, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.

Di level yang lebih sehari-hari, pendidikan olahraga juga perlu mengajarkan maskulinitas yang lebih sehat. Anak laki-laki perlu tahu bahwa kecewa karena kalah itu manusiawi, tetapi melukai orang lain bukanlah bukti loyalitas. Menang tidak membuat seseorang lebih laki-laki, dan kalah tidak membuat seseorang kehilangan harga diri.

Sportivitas sejati bukan hanya soal menyalami lawan setelah pertandingan. Ia juga soal kemampuan mengelola emosi tanpa mengorbankan keselamatan orang lain. Ia berarti menerima bahwa permainan bisa dimenangkan dan bisa juga hilang, tanpa perlu membawa kekalahan itu pulang sebagai bentakan, ancaman, atau pukulan.

Olahraga seharusnya menjadi ruang kegembiraan, solidaritas, dan kemanusiaan. Ia bisa menjadi tempat orang belajar disiplin, kerja sama, dan keberanian. Namun, semua itu hanya mungkin jika kita berani memutus hubungan antara maskulinitas, agresi, dan kekuasaan. Jangan sampai setiap kali peluit pertandingan dibunyikan, ada perempuan atau kelompok rentan lain yang harus bersiap menanggung akibat dari ego yang terluka.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Rully Restiana