08/09/2026
Community Issues

Benarkah Masa Depan Industri Kreatif di Tangan AI? Ini Kata Wamen Ekraf Irene Umar

AI bikin industri kreatif berubah cepat. Saya ngobrol dengan Irene Umar soal peluang kreator, masa depan pekerja kreatif, dan ruang partisipasi perempuan.

  • September 8, 2026
  • 7 min read
  • 5 Views
Benarkah Masa Depan Industri Kreatif di Tangan AI? Ini Kata Wamen Ekraf Irene Umar

Foto oleh Toto Santiko/Magdalene

Industri kreatif terus berjalan berdampingan dengan perkembangan teknologi. Mulai dari penggunaan Akal Imitasi (AI) dalam proses kreatif hingga profesi sebagai kreator konten, perubahan ini membawa peluang sekaligus persoalan bagi pelaku industri kreatif.

AI, misalnya, memudahkan proses pembuatan audio, visual, copywritingstoryboard, hingga penyuntingan video. Di sisi lain, kemudahan tersebut juga memunculkan kekhawatiran soal kemungkinan pekerja kreatif tergantikan oleh AI. Lantas, bagaimana seharusnya industri kreatif menghadapi perkembangan AI?

Persoalan lain muncul dalam perkembangan creator economy, ketika individu membuat dan mendapatkan penghasilan dari konten. Skema upah dari platform masih menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, termasuk bagaimana memastikan perempuan mendapatkan kesempatan yang setara dalam ekosistem tersebut.

Sebagai pengelola kebijakan di bidang ekonomi kreatif, pemerintah memiliki peran dalam merespons perubahan tersebut. Magdalene mendapat kesempatan berbincang dengan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif dan Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, untuk membahas arah industri kreatif Indonesia ke depan.

Baca juga: Sisterhood Festival 2026, Ruang Perempuan Bersuara dan Saling Menguatkan

AI Menggantikan Manusia?

Alih-alih membatasi perkembangan AI, Irene mendorong masyarakat untuk memahami dan mempelajari cara penggunaannya. Menurutnya, pembatasan terhadap teknologi yang belum dipahami justru dapat membuat Indonesia tertinggal.

Karena itu, Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong masyarakat untuk mempelajari AI, bukan hanya dari sisi penggunaan perangkat, tetapi juga etikanya. Irene mengatakan, persoalan etika penggunaan AI masih menjadi tantangan global dan perlu dibicarakan bersama negara lain.

“Makanya dari pemerintah sendiri G2G side kita selalu mendorong, guys, let’s sit down untuk melihat apa sih yang harus kita lakukan,” kata Irene kepada Magdalene, sebelum menghadiri Sisterhood Festival, di Mbloc, Jakarta Selatan.

“Karena kalau kita hanya nge-ban, nge-ban, nge-ban lalu tidak ada tools untuk mengeksekusinya makanya itu kan ngomong-ngomong doang kan,” lanjutnya.

Menurut Irene, pembelajaran soal AI juga bisa dilakukan dengan memahami sejauh mana teknologi tersebut mampu menjalankan instruksi. Ia mencontohkan kemampuan AI dalam menghasilkan gambar yang sesuai dengan perintah pengguna.

Salah satu contohnya adalah ketika pengguna meminta AI membuat gambar seseorang yang sedang menulis dengan tangan kiri. AI masih berpotensi menghasilkan gambar orang yang menulis dengan tangan kanan, tetapi diberi keterangan left-handed.

“Potensi keliru cukup besar karena mayoritas orang menulis menggunakan tangan kanan. Kemungkinan besar dia akan keluar dengan satu image orang tetap menggunakan tangan kanan, tetapi ada tulisan left-handed,” ungkapnya.

Kesalahan tersebut menunjukkan AI masih memiliki keterbatasan. Hasil yang diberikan tidak hanya bergantung pada instruksi atau prompt, tetapi juga pada ketersediaan data yang digunakan.

Karena itu, Irene menekankan pentingnya memeriksa sumber ketika menggunakan AI. Masyarakat perlu memastikan informasi yang diberikan berasal dari sumber terpercaya dan tidak mengandung plagiarisme.

Selain soal etika, pemeriksaan sumber juga menjadi cara untuk memahami kemampuan AI secara lebih kritis. Irene mengibaratkan hal tersebut dengan ungkapan keep your enemies close.

“Kan ada satu ungkapan yang berkata, keep your enemies close,” ucap Irene.

“Supaya kita benar-benar bisa tahu apa sih yang tools ini bisa lakukan, apa yang bisa kita lakukan untuk men-enhance diri kita, bukan hanya untuk kehidupan secara kita sendiri, tapi dunia secara keseluruhan,” tambahnya.

Meski tidak ada jaminan manusia akan sepenuhnya tergantikan AI, Irene tidak melihat AI sebagai pengganti manusia. Menurutnya, kreativitas tetap berasal dari manusia, sementara AI dapat digunakan sebagai alat untuk membantu mengekspresikan kreativitas tersebut.

“AI membantu kita untuk menstruktur apa yang ada di kepala kita, mungkin untuk mengekspresikan dalam bentuk yang kita tidak bisa. Tapi inputnya siapa? Drivernya siapa? Tetap manusia.”

Baca juga: Dari Naykilla hingga no na, Era Lagu Centil dan Perempuan yang Berani Ekspresikan Diri

Arah Ekonomi Kreator

Dalam menghadapi perkembangan creator economy, Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong terbentuknya Asosiasi Kreator Konten Seluruh Indonesia (AKKSI) pada 2025. Asosiasi ini dibentuk untuk menyatukan kreator konten sekaligus menginventarisasi berbagai persoalan yang mereka hadapi.

“Yang kita harapkan dengan terbentuknya asosiasi content creator ini yang kompak-kompak ya guys ya. Jangan dari awal udah berantem ya,” pungkas Irene.

Menurut Irene, kekompakan dan dokumentasi persoalan melalui asosiasi dapat memudahkan pemerintah berdiskusi dengan pihak platform. Pemerintah juga perlu mendengar langsung persoalan yang dihadapi kreator konten, meski aktivitas membuat konten kini telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang.

“Kita kan enggak bisa sotoy meskipun kita ngonten setiap hari, kita harus tahu sendiri dari content creator-nya kesulitannya kalian terhadap platform apa. Dengan ada satu perumusan itu, maka akan memudahkan tugas government ngobrol ke beberapa pihak platform,” terangnya.

Irene juga melihat definisi kreator konten masih sering terbatas pada mereka yang menggunakan platform populer. Padahal, terdapat platform lain yang menawarkan peluang penghasilan bagi kreator Indonesia.

Ia mencontohkan platform gim seperti Roblox dan Unreal Engine yang dinilainya akan semakin penting di masa depan. Roblox, kata Irene, tercatat mengucurkan satu miliar USD dalam jangka waktu satu tahun untuk kreator di platformnya.

Sementara itu, Fortnite memiliki program pendanaan Support-A-Creator yang memberikan bagian dari penghasilan Fortnite kepada kreator. Menurut Irene, program tersebut sempat mengalami kesulitan mencari kreator dari Indonesia.

“Mereka kesulitan untuk mencari creators dari Indonesia. Padahal mereka tahu Indonesia itu creator-nya luar biasa. Hanya karena Indonesian creators belum banyak yang masuk ke Unreal Engine (brand mesin permainan di bawah pengembang game Epic Games),” tutur Irene.

Karena itu, pemerintah terus menjalin pembicaraan dengan pihak Unreal Engine. Salah satu hasilnya adalah penyelenggaraan Unreal Fest 2025 di Bali, Indonesia, setelah dua tahun berturut-turut digelar di Australia.

Inisiatif tersebut dilakukan untuk mendorong kreator Indonesia mencoba menggunakan Unreal Engine. Irene melihat peluang ekonomi yang besar jika kreator Indonesia mulai masuk ke ekosistem tersebut sejak sekarang.

“Ini opportunity di depan mata dan itu ratusan juta USD… Kita harus melihat ke depannya apa sih, karena jangan nunggu dia udah viral baru kita mulai belajar itu udah telat kan, jadi harus mulai dari sekarang,” lanjutnya.

Baca juga: ‘NADIRAH’: Cinta di Persimpangan Iman dan Identitas Komunal

Kesetaraan Gender dalam Industri Kreatif

Kesetaraan gender dalam industri kreatif juga menjadi salah satu isu yang ditanyakan Magdalene. Irene melihat, meski jumlah perempuan yang terlibat dalam industri kreatif cukup banyak, mereka belum selalu mendapatkan kesempatan dan ruang yang sama.

Hal ini terlihat dari pengalaman Azizah Assattari, pendiri Lentera Nusantara, startup pengembang gim dengan tema lokal Nusantara. Dalam wawancara dengan Magdalene pada 9 April 2021, Azizah menceritakan pengalamannya menghadapi keraguan terhadap kemampuan perempuan, bahkan sejak bangku pendidikan tinggi.

Saat kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), Azizah menjadi satu-satunya perempuan di jurusannya. Ia bahkan kerap dituding dosen tidak ikut mengerjakan tugas kelompok.

Padahal, Azizah justru bekerja paruh waktu di perusahaan gim untuk mempelajari cara membuat gim. Setelah mendapat pengetahuan dan keterampilan di sana, ia membagikannya kepada teman-teman laki-lakinya.

“Pada akhirnya, yang lain dikasih A, aku dikasih B. Alasannya, mereka semua enggak ada yang percaya bahwa itu aku yang bikin,” kata Azizah.

Pengalaman tersebut menunjukkan tantangan perempuan di industri kreatif bukan hanya soal jumlah keterwakilan, tetapi juga soal pengakuan terhadap kemampuan mereka. Bagi Azizah, pengalaman itu menjadi dorongan untuk mengajak lebih banyak perempuan masuk ke bidang multimedia dan membuktikan kemampuan melalui karya.

Irene melihat persoalan serupa dalam industri gim, terutama e-sport. Menurutnya, suara yang lebih keras mungkin masih datang dari laki-laki, meski tim perempuan juga memiliki kemampuan dan telah menorehkan berbagai pencapaian untuk Indonesia.

Karena itu, Irene menilai perempuan perlu mendapat lebih banyak kesempatan sekaligus didorong untuk berani mengambil ruang dan menyuarakan kemampuan mereka.

“Kita harus meng-empower teman-teman perempuan untuk, yuk ready to step into the light, ready to speak up and we face the world together,” tutupnya.

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.