28/08/2026
Gender & Sexuality Issues Opini Politics & Society

Awas, Pidato Prabowo soal Kecerdasan Bisa Bikin Illich Bangkit dari Kubur

Pidato Prabowo soal kecerdasan yang tidak berasal dari sekolah sekilas terdengar bak kritik Ivan Illich. Tapi dalam gagasan aslinya, Illich justru menuntut negara hadir menjamin akses belajar yang adil. Jangan-jangan Prabowo sedang izin ke toilet saat bagian itu dijelaskan.

  • August 28, 2026
  • 7 min read
  • 4 Views
Awas, Pidato Prabowo soal Kecerdasan Bisa Bikin Illich Bangkit dari Kubur

Memang benar kata Aristoteles, “Akar pendidikan itu pahit, tapi buahnya yaaa bukan ‘buahlil juga…

Otokritik atau Gimik Problematik?

Saat peluncuran buku 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia di Djakarta Theatre (7/8) silam, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang menyinggung soal kecerdasan dan pendidikan. Salah satu pernyataan yang menjadi sorotan adalah pandangannya soal kecerdasan yang tidak berasal dari sekolah. Dalam pidato tersebut, perjalanan pendidikan Bahlil Lahadalia digunakan sebagai contoh untuk menguatkan pernyataan itu.

Prabowo dalam pidatonya bilang, “Kecerdasan itu bukan berasal dari sekolah.” Ia mengaitkan pernyataan tersebut dengan perjalanan pendidikan sang menteri, termasuk latar belakang kampus yang tidak terlalu dikenal luas. Ukuran yang digunakan Presiden untuk menyinggung keterkenalan kampus itu pun cukup unik, yakni ada atau tidaknya nama kampus tersebut di Google, sebelum kemudian ia menekankan pendidikan dari rumah dan peran orang tua sebagai sumber kecerdasan.

Pernyataan tersebut lantas menarik jika ditempatkan berdampingan dengan kritik Ivan Illich terhadap institusi sekolah. Illich merupakan filsuf, teolog, dan pengkritik sosial asal Austria yang semasa hidupnya banyak mengkritik institusi modern, termasuk sistem pendidikan, kedokteran, dan industrialisasi. Kritiknya terhadap sekolah bahkan melahirkan gagasan Deschooling Society, yang kemudian menjadi salah satu karya paling dikenal dalam pemikiran pendidikan kritis.

Salah satu kritik Illich terhadap sekolah berangkat dari persoalan ketimpangan akses terhadap pengetahuan dan mobilitas sosial. Sekolah kerap dipandang sebagai jalan untuk memperoleh gelar sekaligus meningkatkan posisi sosial, tetapi sistem pendidikan juga dapat menguntungkan anak-anak dari keluarga dengan privilese ekonomi dan sosial budaya. Dalam analogi permainan ular tangga, anak-anak dari keluarga berprivilese seperti sudah memulai permainan dari tangga atas karena memiliki akses lebih besar terhadap sumber belajar, les tambahan, fasilitas, dan berbagai dukungan pendidikan.

Di titik ini, pernyataan kecerdasan bukan berasal dari sekolah memang terdengar beririsan dengan kritik Illich. Namun, kritik Illich tidak berhenti pada gagasan sekolah sebagai sumber kecerdasan, melainkan menyasar sistem persekolahan sebagai institusi yang dibentuk dan diselenggarakan negara. Sekolah menjadi salah satu mekanisme negara untuk memenuhi kewajibannya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menyediakan pendidikan secara massal bagi warga negara.

Perbedaan konteks tersebut penting ketika pernyataan mengenai sekolah datang dari seorang kepala negara. Jika kalimat kecerdasan nggak berasal dari sekolah disampaikan Timothy Rhonald, misalnya, konteksnya berbeda karena ia pernah mengatakan sekolah itu scam ketika menawarkan kelas trading yang menjanjikan peluang memperoleh cuan lebih cepat daripada sekolah. Presiden berada dalam posisi yang jauh berbeda karena pemerintah memiliki anggaran pendidikan, kewenangan mengangkat dan mencopot menteri yang mengurusi pendidikan, serta mandat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam konteks itu, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai otokritik jika disertai penegasan mengenai tanggung jawab negara memperbaiki kualitas pendidikan. Pemerintah tetap perlu memastikan sekolah di seluruh republik, terlepas dari dikenal atau tidaknya nama sekolah dan kampusnya di Google, memiliki kualitas pendidikan yang memadai. Tanpa penjelasan semacam itu, narasi mengenai kecerdasan yang tidak berasal dari sekolah berisiko terdengar seperti pengalihan tanggung jawab dari persoalan sistem pendidikan kepada individu dan keluarga.

Baca juga: Cek Fakta Isi Pidato Prabowo: Mana yang Sesuai Data?

Kritik Sistem Sekolah ala Illich vs Narasi “Cuci Tangan” Penguasa

Gagasan Deschooling Society Illich tidak dapat dipakai begitu saja untuk membenarkan negara melepaskan tanggung jawab pendidikan. Masyarakat tanpa sekolah ala Illich bukan masyarakat yang dibiarkan mencari sendiri cara untuk menjadi cerdas sementara negara tinggal woles sambil menyaksikan persoalan pendidikan berlangsung. Justru, kritik Illich menuntut perubahan cara negara membangun sistem belajar agar akses terhadap pengetahuan tidak bergantung pada posisi sosial dan ekonomi seseorang.

Sepanjang buku Deschooling Society, Illich mengkritik negara dan institusi sekolah yang menurutnya dapat melanggengkan ketimpangan. Ia bahkan menggambarkan sekolah sebagai institusi yang secara tidak langsung berubah menjadi semacam ritual keagamaan sekuler. Dalam praktiknya, sekolah memiliki upacara masuk, figur yang menjadi perantara menuju “keselamatan” seperti guru dan dosen, serta janji “surga” di ujung perjalanan berupa ijazah yang dianggap dapat *meng-upgrade nasib.

Sistem sekolah juga memiliki mekanisme yang dapat membuat kegagalan pendidikan seolah-olah menjadi kesalahan individu. Anak yang putus sekolah, misalnya, dapat dicap sebagai penyebab kegagalannya sendiri tanpa melihat hambatan yang berasal dari sistem. Persoalan itu terlihat dalam berbagai mekanisme seleksi dan pemeringkatan, termasuk seleksi masuk kampus negeri berdasarkan prestasi atau SNBP, ketika anak-anak dari keluarga yang mampu membayar bimbingan belajar memiliki sumber daya pendidikan yang berbeda dengan anak-anak dari keluarga miskin.

Persoalan serupa juga dapat muncul dalam penerapan sistem zonasi yang tidak otomatis menghapus kesenjangan akses pendidikan. Anak-anak dari daerah dengan kondisi geografis dan infrastruktur yang menantang tetap menghadapi hambatan yang berbeda dibandingkan mereka yang tinggal di wilayah dengan fasilitas pendidikan lebih lengkap. Karena itu, kritik Illich terhadap sekolah tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mengenai siapa yang memiliki akses terhadap pengetahuan dan bagaimana negara memastikan akses tersebut tersedia secara adil.

Karena itulah, Illich mendorong negara untuk memikirkan sistem belajar yang lebih inklusif. Ia membayangkan negara yang aktif membangun “jejaring belajar”, mendanai akses ke perpustakaan, pasar keterampilan, bengkel-bengkel komunitas, hingga semacam “kredit belajar” yang dibiayai dari uang publik. Mekanisme tersebut memungkinkan siapa pun, termasuk anak-anak yang orang tuanya tidak sempat “mendidik di rumah” karena sibuk mencari nafkah, tetap memiliki jalan untuk belajar dari berbagai sumber dan orang.

Dengan demikian, Illich tidak sekadar mengatakan udahlah, nggak usah bangun sekolah karena kecerdasan tidak berasal dari sekolah. Kritiknya justru menuntut perubahan terhadap cara masyarakat mengakses pengetahuan dan cara negara menyediakan kesempatan belajar. Membaca Illich secara utuh berarti melihat kritik terhadap institusi sekolah sekaligus tuntutan agar akses terhadap pendidikan dan pengetahuan tidak menjadi hak istimewa kelompok tertentu.

Baca juga: Kabinet Bayangan hingga MBG Watch: Alarm Gagalnya Fungsi ‘Check and Balance’ Negara

Lain-lain Soal Kecerdasan

Pernyataan mengenai kecerdasan yang diwarisi dari orang tua juga perlu ditempatkan dalam pembahasan mengenai jenis kecerdasan yang berbeda. Psikologi kognitif mengenal istilah fluid intelligence, yaitu kemampuan menghadapi situasi baru, memecahkan persoalan, dan beradaptasi dengan kondisi yang belum pernah ditemui sebelumnya. Kemampuan ini dapat berkembang melalui pengalaman dan interaksi seseorang dengan lingkungan, tetapi memiliki pola perkembangan yang berbeda dari kecerdasan yang terbentuk melalui akumulasi pengetahuan.

Sementara itu, terdapat crystallized intelligence, yaitu kemampuan yang berkembang melalui pengetahuan, kosakata, pembelajaran terstruktur, dan pengalaman yang terakumulasi dalam jangka panjang. Berbeda dari fluid intelligence, kecerdasan crystallized tidak sekadar bergantung pada kemampuan menghadapi situasi baru, melainkan bertumpu pada pengetahuan yang sudah dipelajari dan terus berkembang. Karena itu, pembahasan mengenai kecerdasan tidak cukup hanya berhenti pada sumber kecerdasan dari rumah atau pengalaman hidup.

Perbedaan kedua jenis kecerdasan tersebut membuat posisi sekolah menjadi lebih kompleks. Sekolah bukan satu-satunya tempat seseorang memperoleh kecerdasan karena kemampuan kognitif juga berkembang melalui keluarga, lingkungan, pengalaman, dan berbagai proses belajar di luar sekolah.

Namun, sekolah memiliki fungsi khusus sebagai institusi yang dirancang untuk menyediakan pembelajaran terstruktur, menumpuk pengetahuan antargenerasi, serta membuka akses terhadap pengetahuan bagi masyarakat secara lebih luas.

Kemampuan fluid dapat berkembang dari berbagai pengalaman, termasuk rumah, lingkungan, dan situasi hidup yang sulit. Sebaliknya, kemampuan memahami konsep abstrak, membaca data secara kritis, menyusun argumen secara runut, serta mengenali sejarah membutuhkan proses belajar yang terstruktur, bertahap, dan dibimbing. Di sinilah sekolah menjalankan fungsi sebagai salah satu agen sosialisasi yang secara khusus dirancang untuk menyediakan pengetahuan secara sistematis kepada peserta didik, idealnya tanpa membedakan latar belakang orang tua mereka.

Karena itu, ketika Presiden berbicara mengenai kecerdasan fluid melalui narasi kecerdasan bukan dari sekolah, persoalan yang perlu dilihat bukan semata-mata dari mana kecerdasan seseorang berasal. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana negara memastikan setiap warga memiliki akses terhadap proses pendidikan yang mampu membangun pengetahuan, kemampuan bernalar, literasi, dan berpikir kritis.

Baca juga:

Jika sekolah gagal menumbuhkan kemampuan tersebut, kegagalan itu tidak otomatis menjadi bukti kecerdasan memang bukan berasal dari sekolah, melainkan dapat menunjukkan adanya persoalan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan.

Dalam sistem pendidikan nasional, penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab negara. Karena itu, kritik terhadap sekolah seharusnya tidak berakhir pada pengurangan arti penting sekolah, tetapi mendorong pembenahan agar institusi pendidikan mampu menyediakan akses pengetahuan yang berkualitas dan merata. Pada titik inilah gagasan Illich tetap relevan untuk dibaca secara kritis, bukan sebagai pembenaran bagi negara untuk melepaskan tanggung jawabnya terhadap pendidikan.

Nyimas Gandasari adalah peneliti Asa Dewantara, lembaga riset pendidikan khususnya pada isu-isu pendidikan pada kelompok underprivileged dan marginal. Selama 15 tahun lebih terlibat dalam praktik, penelitian, inisiasi dan advokasi pendidikan kelompok underprivileged dan marjinal.

About Author

Nyimas Gandasari