20/07/2026
Gender & Sexuality Issues Lifestyle

Perempuan di Keriuhan Nobar Bola dan Piala Dunia

Gara-gara ekosistem yang maskulin, tiga perempuan ini bikin nobar alternatif untuk merayakan kesukaan terhadap sepak bola dengan aman dan menyenangkan.

  • July 20, 2026
  • 8 min read
  • 220 Views
Perempuan di Keriuhan Nobar Bola dan Piala Dunia

“Sayonara, sayonara, sampai berjumpa pula!”

Sorakan itu riuh dari penggemar sepak bola, girang atas menangnya Spanyol melawan Prancis, dalam babak semifinal Piala Dunia 2026, Rabu, (15/7) lalu.

Dina (28) penggemar Spanyol, ada di sana, nobar (nonton bareng) di sebuah mal di Jakarta Selatan. Meski pertandingan dimulai pukul dua pagi, ia ingin menyaksikan real time, sekaligus merasakan euforia bersama penggemar lain.

Sejak mengikuti sepak bola pada 2008 karena diperkenalkan oleh ayah, Dina mengerti olahraga ini lekat dengan laki-laki. Malam itu, area nobar pun diramaikan laki-laki, situasi yang sebenarnya tak nyaman buat Dina. Situasi yang akan juga akan ramai celaan tim lawan dengan kata-kata kasar, celetukan merendahkan pemain bola, dan asap rokok.

Pulang dini hari sebetulnya juga bikin Dina khawatir. Ia teringat kekerasan yang kerap terjadi, usai pertandingan sepak bola berakhir. Apalagi, Dina harus pulang sendiri karena tinggal berjauhan dengan teman-teman yang nonton bersama.

“Aku jadi berstrategi, harus bawa jaket kalau pake jersey atau baju tematik pas nobar (biar nggak kelihatan dukung siapa). Rasanya ada batasan yang harus kujaga,” ungkap Dina.

Kekhawatiran yang sama dialami Firnita (28). Ia selektif memilih tempat nobar Piala Dunia—cenderung menghindari bar, mencegah kemungkinan terjadinya kekerasan oleh pendukung tim yang kalah bertanding.

Kekerasan yang meningkat usai pertandingan sepak bola bukan isapan jempol belaka. Di Inggris, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat setelah turnamen sepak bola. KDRT bertambah 26 persen ketika tim nasional Inggris menang atau seri. Menurut peneliti Stuart Kirby, Brian Francis, dan Rosalie O’Flaherty dalam Can the FIFA World Cup Football (Soccer) Tournament Be Associated with an Increase in Domestic Abuse? (2014), angka itu melonjak jadi 38 persen saat tim nasional kalah. Frekuensinya pun dilaporkan bertambah setiap turnamen baru.

Sementara dalam Football, alcohol, and domestic abuse (2024), peneliti Ria Ivandic, Tom Kirchmaier, dan Yasaman Saeidi, dkk menyebutkan, perilaku KDRT usai pertandingan didorong oleh konsumsi alkohol.

Baca Juga: Sepak Bola Perempuan Semakin Diminati, Namun Disparitas Tetap Ada

Melihat data kasus kekerasan di Inggris, Anida (35) mengurungkan niat nobar di tempat umum. Ia memilih menonton di rumah, sambil live update dengan teman-teman melalui WhatsApp.

“Aku bisa ke mana-mana sendiri, tapi kalau nobar (bola) harus ada temannya. Walaupun di lokasi belum tentu kejadian apa-apa ya,” cerita Anida.

Kisah Dina, Firnita, dan Anida menggambarkan risiko keselamatan yang harus ditanggung perempuan penggemar sepak bola. Ekosistem yang maskulin, membuat mereka merasa tidak aman dan harus waspada.

Ditambah stigma soal perempuan penggemar sepak bola, yang dicap hanya mengagumi paras pemain.

Perempuan Dikira Cuma Ikut-ikutan atau Naksir Pemain

Sampai sekarang, sepak bola masih dilihat sebagai “olahraga laki-laki” lantaran mengandalkan kekuatan fisik. Kultur penggemarnya pun didominasi laki-laki, karena mereka dinilai lebih rasional dalam melihat pertandingan. Tidak seperti perempuan yang cenderung merespons dengan emosi.

Stigma itu meminggirkan perempuan penggemar sepak bola seperti Firnita. Selama Piala Dunia 2026 berlangsung, ia aktif posting tentang permainan yang ditonton, para pesepak bola, dan tim jagoannya, Maroko.

Dari kebiasaan itu, teman-teman menduga Firnita menjalin hubungan romantis dengan laki-laki. Asumsinya, perempuan tak memahami dan menyukai sepak bola, kecuali ingin mengenal kegemaran pasangan—atau sekadar mengikuti pemain yang tampan.

Firnita pun tak menampik ketampanan pesepak bola, dan bukan berarti alasannya menggemari olahraga ini tidak valid. Namun, ada banyak hal yang membuatnya tertarik pada Piala Dunia. Contohnya perbedaan strategi setiap tim—seperti keeper Maroko, Yassine Bounou, yang menggunakan taktik sweeper keeper, saat bertanding melawan Kanada pada awal Juli silam.

Komentator Peter Drury, yang puitis dan dramatis dalam mengomentari pertandingan, juga mencuri perhatian Firnita.

Baca Juga: Popularitas Sepak Bola Perempuan Naik, tapi Penghapusan Stigma dan Kekerasan Jalan di Tempat

“Mungkin karena aku juga suka nulis, jadi noticed belakangan ini kalau komentator pun bisa asbun (asal bunyi) in a very poetic way,” ungkapnya.

Namun, ketika Firnita menceritakan ketertarikan itu pada beberapa rekan kerja, salah satu dari mereka terkejut.

“Ternyata lo dalam ya Fin ngikutinnya,” kata Firnita mengulang ucapan temannya.

Pandangan teman-teman Firnita merefleksikan penghakiman terhadap perempuan yang tertarik pada “olahraga maskulin”. Dalam The International Journal of the History of Sport (2015), akademisi Jennifer Curtin menjelaskan, ketertarikan tersebut dianggap palsu. Soalnya, perempuan cuma ikut-ikutan, mereka tidak tahu apa-apa.

Anggapan itu merupakan bentuk seksisme. Perempuan direndahkan, sekalipun tertarik pada sesuatu yang dicap maskulin, yang sering dianggap superior. Dampaknya, perempuan sering kali merasa kecil ketika mengekspresikan minat mereka.

Seperti Dina saat kuliah, yang diledek karena mendukung FC Barcelona, klub sepak bola kesukaannya. Teman-temannya, laki-laki, meremehkan FC Barcelona karena sering kalah dalam kompetisi. Ini membuat Dina enggan membicarakan klub tersebut. Bahkan baru nyaman membahas sepak bola, ketika punya teman-teman perempuan yang juga antusias terhadap olahraga ini.

“Makanya aku baru posting di medsos belakangan ini. Soalnya setelah kerja udah bisa milih lingkungan sendiri,” kata Dina.

Seksisme terhadap perempuan dalam sepak bola, juga terlihat pada sorotan kamera penyiaran, yang mengarah pada “perempuan cantik” saat permainan berlangsung—atau disebut honey shot.

Pada Piala Dunia 2018, Fédération Internationale de Football Association (FIFA) memperingatkan para penyiar untuk tidak menyorot perempuan. Namun tidak dihiraukan, karena masih terjadi sampai tahun ini. Bahkan berdasarkan laporan jurnalis  Belgia, Grégoire Ryckmans dalam RTBF, banyak unggahan honey shot di medsos yang dibuat dengan deepfake AI. Salah satunya AI influencer, Chiara Cleo.

Selain perempuan penggemar, peminggiran perempuan dalam sepak bola juga terjadi di ranah siaran itu sendiri. Kursi pundit—yang dipercaya membaca taktik dan mengevaluasi pertandingan secara objektif—masih didominasi laki-laki, sementara perempuan lebih sering ditempatkan sebagai pembawa acara atau figur pelengkap.

Pola ini masih terlihat di Piala Dunia 2026. Studio utama ITV diisi Roy Keane, Ian Wright, dan Gary Neville, sementara Karen Carney dan Emma Hayes—meski punya jam terbang tinggi di sepak bola putri—porsinya tak sebesar pundit laki-laki untuk laga-laga besar sepak bola putra.

Ketimpangan ini bukan hal baru. Sosiolog Kath Woodward mencatat, Piala Dunia 2018 jadi momen pertama BBC dan ITV merekrut perempuan sebagai analis dan komentator sepak bola putra—namun kehadiran mereka justru disambut sikap merendahkan. Eniola Aluko, misalnya, mendapat slow clapping dari sesama pundit usai memberi analisis mendalam soal permainan Kosta Rika. Komentator Vicki Sparks dikritik karena suaranya dianggap “terlalu tinggi” oleh mantan pemain Chelsea, Jason Cundy. Bahkan mantan editor The Independent menyamakan kehadiran pundit perempuan di sepak bola putra dengan pemain netball yang berkomentar soal bola basket.

Delapan tahun berselang, pola itu belum banyak berubah: perempuan hadir lebih banyak sebagai pelengkap ketimbang otoritas utama dalam membaca permainan.

Realitas ini mempertegas, mengapa perempuan penggemar sepak bola sulit merasa aman dan nyaman. Selama ekosistemnya masih maskulin, perempuan hanya dipandang sebagai daya tarik dan keberadaannya diremehkan. Baik sebagai penggemar, maupun pundit.

Baca Juga: Sejarah Sepak Bola Perempuan: Dari Larangan ke Piala Dunia Perempuan

Saat Perempuan Menciptakan Ruang Aman Sendiri

Anida akrab dengan sepak bola sejak SD. Ketertarikan pada olahraga ini berawal dari Captain Tsubasa, yang tayang di televisi. Kemudian, Anida menyaksikan Piala Dunia pertamanya pada 2002, yang berlangsung di Jepang dan Korea Selatan.

“Itu pertama kalinya tahu ada Piala Dunia. Terus suka nonton karena jam tayangnya pas buat anak SD, siang-siang ada di TV,” ceritanya.

Berbeda dengan Firnita dan Dina yang didiskriminasi, Anida mengaku teman-temannya justru menyenangkan diajak ngobrol sepak bola. Baik perempuan, maupun laki-laki. Misalnya waktu SMP, mereka justru sering membahas pertandingan Liga Inggris dan Liga Champions di sekolah.

“Biasanya kami nonton bola di rumah masing-masing, besoknya diobrolin di sekolah. Menariknya, yang ngajak nonton justru teman-teman cewek,” ujar Anida.

Bagi Firnita, ruang aman untuk menonton sepak bola berada di rumah. Ia melihat kedua orang tua yang tak pernah absen menyaksikan Piala Dunia. Kemudian mulai mendukung tim nasional pada Piala Dunia 2010.

“Aku dan ayah megang Inggris, ibu megang Jerman. Terus kami nobar di rumah. Inget banget ada golnya Steven Gerrard ke gawang Jerman yang nggak dianggap,” tutur Firnita.

Selain nobar, Firnita dan orang tuanya punya tradisi yang selalu dilakukan setiap Piala Dunia: menggunting jadwal turnamen dari koran, tabloid, atau majalah edisi spesial, untuk ditempel di dinding rumah. Kemudian mereka mengisi bagan turnamen, dengan nama tim nasional yang maju ke babak berikutnya.

Tradisi tersebut menjadi standar bagi Firnita, nobar sepak bola seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Firnita pun mengajak beberapa teman-teman perempuan untuk nobar di rumahnya. Mereka menyaksikan pertandingan antara Maroko dengan Kanada, serta Prancis dan Paraguay pada awal Juli kemarin.

“Enaknya nobar di rumah, aku tahu siapa yang diundang. Percaya juga sama stance-nya teman-teman, mereka nggak melakukan kekerasan,” kata Firnita.

Meski demikian, bukan berarti ia tak ingin nobar di tempat lain. Menyambut babak final Piala Dunia 2026 pada Senin, (20/7) dini hari, Firnita mengadakan nobar di sebuah mal di Jakarta Pusat. Tentunya lokasi tersebut sesuai beberapa kualifikasi: tidak di bar, non-smoking—terutama menghindari di dalam ruangan, dan gratis.

Sebelum pilihannya jatuh pada mal tersebut, Firnita menghubungi beberapa tempat nobar satu per satu. Demi memastikan tidak ada asap rokok di ruangan.

“Soalnya aku dan teman-teman lumayan ketat buat urusan merokok. Kalau di dalam ruangan ada asap, perputaran udaranya cuma di situ,” jelasnya.

Sementara Dina, menciptakan ruang aman untuk nobar dengan memilih tempat yang familier—tempat umum maupun tempat tinggal teman, serta dekat dengan kosan. Ia juga inisiatif mengajak teman-teman.

“Kalau ada yang mulai, yang lain juga berani karena ada temannya,” ujar Dina.

Sedangkan Anida, yang lebih suka menonton di rumah, menghubungi teman-teman lewat WhatsApp untuk membahas turnamen Piala Dunia terkini.

“Itu caraku buat merangkul teman-teman perempuan yang suka sepak bola,” katanya.

Upaya sederhana yang dilakukan Firnita, Dina, dan Anida, menunjukkan satu harapan: ekosistem sepak bola yang inklusif bagi penggemar—di mana tidak ada tolok ukur keabsahan untuk menyukai sepak bola, dan siapa pun bisa nobar di tempat umum, tanpa mencemaskan keselamatan.

About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.