21/07/2026
Issues Opini

Dari Ronaldo ke Dunia Kerja: Diskriminasi Usia itu Nyata

Piala Dunia 2026 memperlihatkan bahwa ‘ageism’ itu nyata. Dari kritik terhadap Cristiano Ronaldo hingga batas usia kerja di Indonesia, diskriminasi berbasis umur masih sering dianggap wajar.

  • July 21, 2026
  • 6 min read
  • 74 Views
Dari Ronaldo ke Dunia Kerja: Diskriminasi Usia itu Nyata

Foto: The New York Times

“Pilih satu yang menurut kamu paling menggambarkan hari tuamu,” kata seorang perempuan berambut putih sempurna di layar konferensi video.

Di hadapan saya ada beberapa foto. Saya memilih gambar pasangan yang tampaknya berusia lebih dari 60 tahun, berdiri di puncak bukit dengan bentangan alam di belakang mereka. 

“Saya ingin masih cukup kuat untuk terus bisa travelling di usia tua,” jawab saya ketika ia bertanya alasannya.

Percakapan dengan relawan itu bergulir ke soal penuaan, masa pensiun, dan bagaimana kita membayangkan hidup ketika tubuh tak lagi sama. Diskusi tersebut adalah bagian dari sudut khusus tentang gerontologi, atau studi tentang lanjut usia, di Science Centre Singapore.

Di sana, pengunjung juga bisa mencoba media interaktif untuk merasakan betapa sulitnya memasukkan anak kunci ke lubangnya ketika tangan bergetar hebat. Ada pula simulasi memilah obat yang harus diminum orang lanjut usia ketika instruksinya disampaikan terlalu cepat.

Saat itu, obrolan tentang hari tua terasa seperti topik yang terlalu dini bagi saya. Pensiun masih jauh, tubuh masih terasa cukup bugar, dan penuaan masih tampak seperti urusan nanti. Namun, riuh Piala Dunia 2026 membuat perasaan tua itu datang lebih cepat dari dugaan.

Hampir setiap hari ada saja pembicaraan tentang usia salah satu bintang tertua di Piala Dunia 2026: Cristiano Ronaldo dari Portugal. Dari unggahan teman, potongan siniar, konten kreator, hingga berita olahraga, kritik terhadap Ronaldo tidak selalu berhenti pada performa dan taktik permainan. Sering kali, kritik itu melompat ke umur.

Ronaldo digambarkan sebagai pemain yang sudah terlalu tua, menghambat tim, dan tak lagi punya kemampuan fisik untuk bersaing dengan pemain muda. Di satu sisi, sepak bola memang olahraga yang sangat menuntut kekuatan fisik, kecepatan, dan stamina. Karenanya, membicarakan usia atlet tentu tidak sepenuhnya keliru karena ada konteks performa yang wajar dibahas. 

Namun, yang mengganggu adalah ketika usia dipakai bukan lagi untuk membaca performa, melainkan untuk merendahkan seseorang. Ketika seorang pemain dianggap selesai hanya karena ia mencapai angka umur tertentu, pengalaman, disiplin, kematangan emosi, dan ketangguhan mental seolah tidak lagi punya nilai.

Di sinilah ageism, atau diskriminasi berbasis usia, bekerja dengan sangat halus. Ia sering tidak terasa seperti diskriminasi karena dibungkus sebagai lelucon, analisis olahraga, candaan antar-generasi, atau komentar ringan di media sosial. Padahal, pesan dasarnya sama: seseorang dianggap kurang bernilai karena umurnya.

Baca juga: Rawat Bumi dan Berdayakan Perempuan: Cerita PaperPods Pekerjakan Perempuan Lansia

Diskriminasi usia yang sering dianggap wajar

Piala Dunia 2026 mengingatkan saya bahwa ageism ada di sekitar kita, termasuk dalam percakapan sehari-hari. Ia menjadi salah satu bentuk diskriminasi yang paling sering diabaikan, dianggap lumrah, dan jarang mendapat koreksi serius.

Reuben Ng, Nicole Indran, dan Luyao Liu menunjukkan hal ini dalam riset Social Media Discourse on Ageism, Sexism, and Racism yang terbit pada 2024. Mereka menganalisis lebih dari 150 juta tweet selama 15 tahun untuk melihat bagaimana ageism, seksisme, dan rasisme dibicarakan di media sosial. Temuan mereka menunjukkan ageism masih jauh lebih jarang mendapat perhatian publik dibandingkan bentuk diskriminasi lain.

Maksudnya tentu bukan untuk mengadu mana diskriminasi yang lebih penting. Riset itu justru menunjukkan bahwa merendahkan orang berdasarkan umur sering tidak disadari sebagai tindakan diskriminatif. Karena dianggap biasa, ageism mudah dibiarkan tumbuh menjadi prasangka sosial yang memengaruhi cara kita menilai kemampuan, produktivitas, dan nilai seseorang.

Di Indonesia, ageism tidak berhenti pada komentar tentang atlet atau candaan soal “jompo”. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan dilembagakan dalam praktik negara maupun swasta.

Contoh paling dekat ada di dunia kerja. Banyak lowongan pekerjaan masih mencantumkan batas usia maksimal, sering kali berhenti di angka 30 atau 35 tahun. Seolah-olah setelah melewati usia itu, seseorang otomatis kehilangan kemampuan belajar, bekerja, beradaptasi, atau memulai kembali kariernya.

Ketika persoalan batas usia pelamar kerja dibawa ke Mahkamah Konstitusi melalui uji materi Undang-Undang Ketenagakerjaan, permohonan tersebut ditolak. Hakim menilai pencantuman batas usia dalam lowongan kerja tidak otomatis melanggar hak asasi manusia dan bukan bentuk diskriminasi.

Masalahnya, pandangan hukum itu terasa jauh dari pengalaman banyak orang. Kita kerap melihat cerita pencari kerja berusia di atas 35 tahun yang kesulitan mendapat pekerjaan setelah terkena pemutusan hubungan kerja. Mereka masih produktif, masih butuh penghasilan, dan masih mampu bekerja, tetapi tersingkir bahkan sebelum sempat menunjukkan kemampuan.

Baca juga: Maaf, Usia 30 Dilarang Kerja: Ageisme yang Masih Hantui ‘Job Seeker’

Seolah-olah mereka dipaksa masuk ke sektor informal atau pekerjaan lain yang tidak selalu memberi perlindungan memadai. Ironisnya, ketika mereka dianggap terlalu tua untuk pekerjaan formal, mereka juga sering dianggap sudah tidak cukup kuat untuk pekerjaan yang menuntut tenaga fisik. Di titik ini, usia menjadi jebakan ganda.

Ageism memang paling sering dan paling berat dampaknya dialami oleh orang lanjut usia atau mereka yang dianggap sudah melewati usia produktif. Di dunia kerja, misalnya, batas usia pelamar, pensiun paksa, dan anggapan bahwa pekerja yang lebih tua tidak lagi adaptif dapat menutup akses seseorang terhadap kesempatan ekonomi. Dalam layanan kesehatan dan ruang publik, orang tua juga kerap dianggap tidak mandiri, tidak mampu mengambil keputusan, atau tidak lagi relevan.

Namun, prasangka berbasis umur juga bisa muncul dalam cara kita membicarakan kelompok usia yang lebih muda. Kita melihat bagaimana Gen Z kerap dilabeli “generasi stroberi”, dianggap manja, rapuh, sulit bekerja keras, atau tidak tahan tekanan. Label seperti ini tentu tidak bekerja dengan konsekuensi struktural yang sama seperti diskriminasi terhadap orang tua. Namun, ia tetap menunjukkan pola yang serupa: menilai kemampuan dan karakter seseorang terutama dari usia atau generasinya, bukan dari pengalaman dan kapasitas individunya.

Karena itu, ageism perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Ia bukan sekadar candaan soal keriput, uban, “bau tanah”, “anak kemarin sore”, atau “generasi stroberi”. Ia membentuk cara masyarakat memberi kesempatan, menghargai kontribusi, dan menentukan siapa yang dianggap masih layak didengar, dipercaya, dan diberi ruang.

Yang membuat ageism berbeda dari banyak bentuk diskriminasi lain adalah kenyataan bahwa semua orang akan menua. Mereka yang hari ini merasa muda, kuat, dan relevan akan tiba pada usia yang suatu hari mungkin dianggap tidak lagi produktif oleh masyarakat. Apakah kita harus menunggu sampai berada di posisi yang direndahkan baru menganggap diskriminasi usia sebagai masalah?

Karena itu, ketika kita mencemooh pesepak bola seperti Ronaldo hanya karena umurnya, mungkin kita perlu berhenti sejenak. Kritik terhadap performa tentu sah. Tetapi merendahkan seseorang karena usia adalah hal lain. Suatu hari, kita juga akan sampai pada usia yang sama, masih punya ambisi, masih ingin mencoba, masih ingin dianggap mampu, tetapi mungkin dunia sudah lebih dulu menyebut kita “terlalu tua”.

Piala Dunia 2026 dapat menjadi pengingat bahwa ageism bukan perkara kecil. Ia nyata, dekat, dan sering muncul dalam bentuk yang kita anggap lucu atau wajar. Padahal, mencemooh seseorang karena usianya, berapa pun umurnya, tetaplah diskriminasi.

Dj. Wiguna adalah esais masalah informasi, diskursus publik, dan budaya digital.

About Author

Dj. Wiguna