30/10/2026
Issues Opini

‘Repost’ Tak Memadamkan Karhutla, tapi Bukan Berarti Sia-sia

Satu ‘repost’ tak akan memadamkan karhutla. Tapi di tengah kelelahan, ‘Add Yours’ membantu perempuan menyadari bahwa kegelisahan mereka dialami bersama.

  • October 30, 2026
  • 5 min read
  • 9 Views
‘Repost’ Tak Memadamkan Karhutla, tapi Bukan Berarti Sia-sia

Foto: Allaam Faadhilah/Magdalene

Beberapa waktu terakhir, linimasa Instagram saya terasa seperti kolase kehidupan yang campur aduk. Di tengah belantara unggahan tentang harga kebutuhan pokok yang makin mahal, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), isu lingkungan, dan kontroversi politik, selalu terselip rekan-rekan yang bersuka ria dengan hidup mereka.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah gaung masalah di media sosial memang hanya kebisingan tanpa makna? Saya rasa tidak. Masalahnya ada dan benar-benar terjadi. Namun bagi masyarakat urban, menyeimbangkan kemarahan dengan tetap menghidupi hal-hal yang membuat gembira juga tak ada salahnya.

Perlawanan pun tidak melulu berwujud demonstrasi dan teriakan di jalan. Bagi saya, sering ikut aksi adalah kemewahan. Maka fitur Add Yours di Instagram adalah oasenya. Fitur yang semula hadir untuk mengajak pengguna berbagi cerita hidup itu berubah menjadi gerakan berbagi keresahan, pengalaman, atau sikap terhadap isu tertentu.

Banyak orang mungkin melihatnya sebagai kontradiksi. Bagaimana mungkin seseorang membicarakan polusi udara di pagi hari lalu mengunggah foto croissant dan matcha di sore harinya? Namun mungkin kita sedang melihatnya dengan cara yang keliru.

Kita masih terbiasa membayangkan politik sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari: terjadi di parlemen, ruang rapat pemerintah, panggung kampanye, atau jalanan, sementara rumah tangga, pekerjaan, kesehatan mental, dan kesenangan kecil berada di ruang lain. Padahal batas itu makin sulit ditemukan. Harga makanan yang kita beli, kualitas udara yang kita hirup, sulitnya mendapat rumah layak, biaya pendidikan, hingga frekuensi bencana ekologis adalah persoalan politik. Politik membentuk syarat-syarat yang memungkinkan kehidupan berlangsung.

Karena itu, satu unggahan Add Yours bukan sekadar tanda peduli pada satu isu. Ia pengingat bahwa apa yang terjadi di ruang publik selalu merembes ke ruang privat.

Baca juga: Terpaksa ‘Nyawit’ di Tengah Karhutla, Perempuan Buruh Tanggung Beban Berlapis

Perempuan menyuarakan politik

Bagi perempuan, keterhubungan antara yang personal dan yang politis mungkin terasa lebih nyata. Sejak lama feminisme mengingatkan bahwa pengalaman sehari-hari perempuan tak pernah lepas dari struktur sosial, ekonomi, dan politik: upah yang tidak setara, beban kerja domestik, keamanan di ruang publik, kesehatan reproduksi, hingga hak atas lingkungan hidup yang sehat. Namun perempuan hari ini juga menunjukkan hal lain: mereka tidak selalu melawan dengan cara yang spektakuler.

Tidak semua perempuan punya waktu, sumber daya, atau energi untuk menjadi aktivis penuh waktu. Banyak yang sedang berjuang menyelesaikan pekerjaan, mengurus keluarga, merawat kesehatan mental, atau sekadar bertahan di tengah tekanan ekonomi. Meromantisasi hidup sering dianggap pelarian, padahal sering kali itu strategi bertahan. Mengabadikan langit sore, merawat tanaman, atau membaca novel sebelum tidur bukan berarti menutup mata pada kenyataan sosial. Aktivitas kecil itu justru membantu banyak orang menjaga kewarasan di tengah arus berita buruk yang tak kunjung berhenti.

Dan ruang yang sama kerap menjadi tempat tumbuhnya kesadaran politik. Kita melihat perempuan membagikan tips hidup hemat sambil membicarakan inflasi, mengunggah foto anak sambil mengeluhkan udara akibat karhutla, atau mengisi Add Yours tentang buku favorit lalu beberapa jam kemudian tentang isu lingkungan. Batas antara yang personal dan yang politis menjadi kabur.

Aktivisme digital pun tidak selalu berarti menjatuhkan pemerintah atau mengorganisasi demonstrasi besar. Kadang ia sesederhana menjaga sebuah isu tetap hidup dalam percakapan publik. Ketika ribuan orang terus membicarakan kualitas udara atau biaya hidup, mereka menolak menganggapnya normal dan memastikan isu itu tidak tenggelam di bawah algoritma dan siklus berita yang bergerak cepat. Add Yours tidak membutuhkan struktur organisasi, kartu anggota, atau pemimpin formal. Ia hanya meminta satu keputusan sederhana: ikut bersuara atau diam?

Tentu satu unggahan tidak akan memadamkan karhutla, dan satu repost tidak otomatis menurunkan harga kebutuhan pokok. Tetapi memang bukan itu fungsi utamanya.

Baca juga: Gugatan ‘Class Action’ Warga Kalbar: Pemerintah cuma Klaim Kosong soal Karhutla

Sebelum perubahan datang

Itu sebabnya saya tak lagi tertarik pada perdebatan apakah satu repost bisa mengubah dunia. Pertanyaan itu terasa terlalu besar, dan sering kali terlalu sinis. Yang lebih menarik bagi saya adalah apa yang terjadi sebelum perubahan itu: perasaan bahwa kita tidak sendirian.

Akademisi komunikasi Merlyna Lim, dalam artikelnya Clicks, Cabs, and Coffee Houses: Social Media and Oppositional Movements in Egypt, 2004–2011 (2012), mengingatkan bahwa kekuatan media sosial tidak terletak pada teknologinya semata, apalagi jumlah klik. Yang penting adalah bagaimana sebuah platform membantu membangun jaringan, simbol bersama, dan rasa keterhubungan. Media sosial mungkin tidak otomatis menciptakan perubahan sosial, tetapi ia membuat orang yang sebelumnya merasa sendirian sadar bahwa keresahan mereka dirasakan banyak orang lain.

Saya sering memikirkan gagasan itu ketika melihat Add Yours di Instagram. Satu unggahan mungkin tampak tak berarti, tetapi ketika ratusan atau ribuan orang menambahkan suara pada percakapan yang sama, yang terbentuk adalah kesadaran bahwa kegelisahan itu tidak harus ditanggung sendirian. Mahalnya biaya hidup, udara yang kian tidak sehat, atau kecemasan akan masa depan bukan semata masalah individu yang gagal bekerja lebih keras. Ada persoalan yang lebih besar, lebih struktural, dan dialami bersama.

Barangkali kita perlu berhenti mengukur kepedulian dengan standar yang sempit. Tidak semua perlawanan harus tampak heroik. Kadang ia hadir di sela foto kopi pagi dan kabar karhutla, atau pada seseorang yang sedang berusaha menjalani hari dengan baik tetapi tetap meluangkan waktu untuk mengatakan ada yang tidak beres dengan keadaan di sekitarnya.

Baca juga: Aktivisme Tanpa Panggung: Ruang untuk Introver di Gerakan Sosial

Karhutla mungkin tidak padam karena Instagram Story. Namun seperti ditunjukkan Merlyna, media sosial bisa membantu membentuk jaringan kesadaran. Di masa ketika banyak orang sedang bertahan dari hari ke hari, menyadari bahwa kegelisahan kita adalah kegelisahan bersama mungkin langkah politik yang tidak sekecil yang kita bayangkan.

Sebab pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar apolitis. Politik mengalir ke udara yang kita hirup, harga yang kita bayar, dan kehidupan yang kita jalani setiap hari. Bahkan satu repost sederhana bisa menjadi pengingat bahwa kehidupan personal dan politik tidak pernah benar-benar terpisah.

About Author

Suci Marini Novianty

Click to access the login or register cheese