29/10/2026
Community Issues Politics & Society

Kawula17 Ajak Ratusan Pelajar SMA Suarakan Masalah Lingkungan Jakarta

Jakarta terus berkembang, tetapi masalah lingkungan masih membayangi kehidupan warganya. Lewat Kawula17 Goes to School, 120 pelajar SMA menyuarakan keresahan mereka tentang polusi udara, pencemaran air, dan transisi energi.

  • October 29, 2026
  • 6 min read
  • 9 Views
Kawula17 Ajak Ratusan Pelajar SMA Suarakan Masalah Lingkungan Jakarta

Ket: Tim Kawula17, bersama pemateri, dan pelajar berfoto di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, (26/10). Foto oleh Andrei Wilmar/Magdalene

Pelajar kelas 10 dari salah satu sekolah di Jakarta Selatan, Pavita, berdiri di panggung Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, pada 26 Oktober. Sambil memegang kertas berisi aspirasi untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ia mempresentasikan hasil diskusi dan perdebatan bersama rekan-rekan pelajarnya dalam acara Kawula17 Goes to School.

Pavita mendapat tema transisi energi berkeadilan di Jakarta. Dari diskusi tersebut, ia mempertanyakan arah subsidi energi dan pengerukan sumber daya alam yang dilakukan pemerintah. Menurutnya, pemerintah seharusnya mengalihkan fokus subsidi dari sumber energi kotor ke energi berkelanjutan, seperti panel surya.

Ia juga menyoroti distribusi energi yang tidak merata antara Jakarta dan daerah penghasil sumber daya. “Kalau misalnya kita lihat, Jakarta itu banyak banget menggunakan energi, tapi ngambil sumbernya dari pulau di luar Jakarta yang menimbulkan kerusakan,” ujarnya.

Pemahaman tersebut ia dapatkan setelah mengikuti materi tentang transisi energi berkeadilan dari Trend Asia. Bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda, acara yang diselenggarakan Kawula17 ini mempertemukan 120 pelajar SMA dari 15 sekolah untuk meningkatkan kesadaran orang muda terhadap persoalan lingkungan.

Kawula17 menggandeng sejumlah organisasi nonpemerintah atau non-governmental organization (NGO), yakni Satya Bumi, Lapor Iklim, dan Trend Asia, sebagai pemateri. Para pelajar kemudian diajak berdiskusi dan merumuskan aspirasi untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dari diskusi tersebut, muncul beragam persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari kualitas udara hingga akses terhadap lingkungan yang bersih.

Baca juga: Data Center dan Dampaknya terhadap Permukiman: Apa yang Perlu Diwaspadai?

Polusi Udara dan Pencemaran Air Masih Membayangi Jakarta

Warga Jakarta masih harus menghirup udara yang tercemar asap kendaraan dan industri. Pavita merasakan dampaknya setiap kali berada di luar gedung sekolahnya di kawasan Blok M. “Kayak menghirup karbondioksida. Enggak harus di jam pulang sekolah, dari jam 12 siang juga udah kerasa,” tuturnya kepada Magdalene seusai acara.

Ia memahami polusi udara Jakarta berkaitan dengan aktivitas industri di daerah penyangga dan tingginya penggunaan energi fosil. Menurutnya, persoalan struktural seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya melalui perubahan perilaku individu. Karena itu, ia berharap pemerintah mengambil langkah melalui program dan regulasi yang berpihak pada lingkungan sehat.

“Bukan cuma gubernur, tapi pemerintah Indonesia secara keseluruhan harus mikirin dan membuat regulasi dan mengarahkan dana untuk merubah lingkungan jadi lebih sehat,” ujarnya.

Selain kualitas udara, pencemaran air juga menjadi perhatian para pelajar. Yosua Rimora Alexander, pelajar kelas 11 dari salah satu sekolah negeri di Jakarta Utara, mengeluhkan kondisi kali di dekat rumahnya yang dipenuhi sampah dan mengeluarkan bau menyengat.

“Bahkan waktu dilakukan pembersihan, sampahnya hanya dipungut dan ditaruh di samping jalan, malah membuat bau dan mungkin saja penyakit datang dari situ,” katanya.

Seorang Pegawai Negeri Sipil di Balai Kota sedang melihat booth Lapor Iklim yang berisi gambaran mengenai polusi udara. (Foto: Andrei Wilmar/Magdalene)

Yosua menilai kualitas lingkungan di Jakarta belum merata. Sejumlah wilayah telah mengalami penataan, tetapi wilayah lain masih menghadapi persoalan mendasar, termasuk pencemaran udara dan sampah. Ia menyoroti kondisi Jakarta Utara yang menurutnya terdampak pasir, debu, dan asap dari aktivitas di sekitar pelabuhan.

“Ada memang beberapa di Jakarta yang sudah bagus penataannya, tapi ada juga seperti Jakarta Utara, polusinya perlu diperhatikan lebih lagi, karena dari pasir, debu, asap, karena kan dekat dengan area bongkar-muat barang dari pelabuhan,” terang Yosua.

Pavita dan Yosua mengaku ingin lebih sering mendiskusikan persoalan lingkungan dengan teman-teman mereka setelah mengikuti kegiatan tersebut. Materi yang disampaikan para pemateri membantu mereka memahami isu lingkungan yang selama ini terasa rumit, sekaligus menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan persoalan yang lebih luas.

Baca juga: Asap Tebal Karhutla Sumsel, Perusahaan Sawit dan Tambang Biang Keroknya?

Mendekatkan Isu Lingkungan dengan Pengalaman Pelajar

Pengalaman sehari-hari menjadi pintu masuk bagi para pemateri untuk menjelaskan persoalan lingkungan kepada pelajar. Mereka menghubungkan keresahan yang dirasakan siswa dengan faktor yang lebih luas, seperti kebijakan pemerintah dan aktivitas industri. Pendekatan ini membantu pelajar memahami akar persoalan tanpa memisahkannya dari kehidupan mereka.

Juru Kampanye Energi Terbarukan Trend Asia, Nur Heriliati, menjelaskan pelajar turut merasakan dampak penggunaan energi fosil secara berlebihan, mulai dari suhu tinggi hingga polusi udara. Ia memulai diskusi dari keresahan yang dekat dengan kehidupan siswa, lalu mengajak mereka mengenali sumber energi terbarukan di sekitar mereka, “Kayak angin, air, dan panas matahari.”

Nur juga memberikan contoh sejumlah sekolah di Jabodetabek yang telah menggunakan panel surya. Menurutnya, penggunaan energi terbarukan secara optimal memungkinkan dilakukan jika didukung kebijakan struktural yang tepat. Namun, ia menyoroti kebijakan subsidi energi yang masih mendukung bahan bakar fosil sebagai salah satu persoalan yang perlu diperhatikan.

“Pelajar bahkan sempat menyebutkan dorongan positif untuk energi fosil tuh ada, kayak subsidi. Logika itu sebenarnya dibalik, kenapa tidak subsidi itu dialihkan ke energi terbarukan, biar banyak,” sebut Nur.

Pendekatan serupa dilakukan Satya Bumi dengan mengangkat persoalan krisis air yang dekat dengan kehidupan pelajar Jakarta. Setelah berdiskusi mengenai masalah tersebut, Social Media Specialist Satya Bumi, Eghi Irfansyah, mengajak siswa melihat hubungan antara persoalan air bersih di Jakarta dan pencemaran air akibat industri nikel di Kabaena, Sulawesi Tenggara.

“Jadi ada pembanding gitu lah, apa yang terjadi di sini (Jakarta) dan di sana (Kabaena),” kata Eghi.

Sementara itu, Program Officer Lapor Iklim, Fajar Sanintan Jati, mengangkat sudut pandang kesehatan mental untuk menjelaskan krisis iklim. Ia menyoroti dampak yang dialami petani ketika menghadapi gagal panen dan lahan tercemar, yang tidak hanya memengaruhi penghasilan, tetapi juga menambah beban pikiran mereka.

“Ini isu antar generasi dan sangat penting pelajar pahami. Karena iklim tidak berdiri sendiri, ia merambat ke isu kesehatan, ekonomi dan sebagainya,” terang Fajar.

Baca juga: ‘Transboundary Haze’: Kabut Asap Karhutla Seberangi Batas Negara, Tanggung Jawab Siapa?

Orang Muda dan Saluran untuk Bersuara

Co-founder Kawula17, Maria Angelica Christy Aka, mengatakan program Kawula17 Goes to School tidak membebankan pelajar untuk langsung menggelar aksi atau menuntut DPR dan pemerintah menyusun regulasi ramah lingkungan. Sebaliknya, program ini dirancang sebagai ruang aman bagi pelajar untuk berpikir kritis dan menyampaikan pendapat secara bebas.

Menurut Angel, pelajar merupakan warga negara yang berhak menyuarakan aspirasi. Suara mereka tidak hanya patut didengar, tetapi juga layak dipertimbangkan oleh para pengambil kebijakan. Karena itu, Kawula17 menyediakan ruang bagi pelajar untuk terbiasa menghadapi perbedaan pendapat sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis dalam mempertanyakan norma dan aturan yang berlaku di masyarakat.

Kawula17 juga menggandeng organisasi masyarakat sipil agar pelajar mengenal berbagai saluran yang dapat digunakan untuk menyuarakan persoalan lingkungan. Angel menilai pemahaman mengenai pihak yang dapat diajak bekerja sama penting agar orang muda tidak merasa sendirian ketika ingin menyampaikan aspirasi.

“Jadi penting untuk pelajar tahu, gue tuh bisa sama siapa sih untuk menyuarakan isu yang ingin gue suarakan,” ucapnya.

Dalam acara tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, turut menanggapi aspirasi para pelajar. Ia menilai masukan kritis dari orang muda penting karena berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan yang akan mereka hadapi pada masa depan.

“Permintaan kalian adalah permintaan tentang masa depan kalian semua, tentang udara, tentang polusi, tentang air, tentang ruang terbuka hijau,” ujar Pram.

Pramono juga mengakui pembangunan Jakarta terkadang menghadapi hambatan akibat perubahan keputusan politik dan ego pemimpin. Meski demikian, ia menyatakan komitmennya untuk menanggapi aspirasi warga Jakarta, termasuk masukan yang disampaikan para pelajar.

“Kalau saya terus terang enggak malu untuk melakukan apa saja, sekecil apapun,” lanjutnya.

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.

Click to access the login or register cheese